sekedar klangenan menulis

Memang nggak bermaksud serius. Renggangkan otot, biar bicara enak, kalau bisa mudah didengar dan ada yang mendengar. Seperti balsen, mudah-mudahan bisa sedikit meringankan penyakit ringan, mulai pening, masuk angin, atau ngantuk.

Wednesday, May 31, 2006

Nasi Goreng

Makanan yang satu ini memang sudah dikenal sejak kita, atau bahkan ibu-bapak kita masih kecil. Saat kecil, nasi goreng biasa dinikmati dari sisa nasi yang sudah basi kemarin lalu digoreng biar enak. Makanya, dulu saat masih kecil suka ada ledekan dari pak guru kalau sekolah kalau kita ngantuk. Pasti sarapannya nasi goreng, makanya ngantuk.

Namun, nasi goreng ternyata punya sejarang yang sangat panjang. Bahkan dalam ensiklopedi bebas Wikipedia, Nasi Goreng disebutkan sebagai makanan yang arti Inggrisnya, fried rice, namun bukan Fried Rice, jadi nasi goreng sudah menjadi makanan khas Indonesia, yang terbuat dari nasi, kecap manis, dan bumbu lain serta kadang ditambah sate, kerupuk, ayam gireng serta telor. Khusu telor, biasa nasi goreng itu menjadi nama nasi goreng spesial kalau menggunakan telor goreng.

Beberapa kota besar dunia, seperti di Belanda, bahkan Canada ada warung yang menjual makan dengan nama Nasi Goreng, bukan fried rice yang katanya berasal dari China dan sudah dibuat sejak tahun 4000 sebelum masehi dan rasanya juga beda. Sebuah perjalanan panjang, bahkan saat mungkin Indonesia ini masih primitif ternyata nasi goreng sudah ada.

Padahal, semasa kecil kecil makan nasi goreng berarti makan nasi basi sisa semalam yang pagi-pagi digoreng, soalnya sayang untuk dibuang. Meski katanya dari nasi basi, namun soal rasa, tetap nikmati bila buat sarapan pagi.

Lalu bagaimana sekarang? Hemm nasi goreng sudah memiliki banyak varian, mulai nasi goreng ikan asin, pete, samai seafood bahkan ada juag nasi goreng sosis. Soal rasa, ternyata masing-masing daerah juga beda. Bila Anda tinggal di Surabaya, hampir pati terbiasa dengan nasi goreng yang warnanya agak kemerahan karena menggunana saos tomat, yang ternyata beda sekali dengan nasi goreng ala Jakarta yang warna lebih kecoklatan karena menggunakan kecap manis.

Jadi Anda pilih mana? Hemmm mendung seperti ini rasanya cukup nikmat makan nasi goreng. Glek...lapar...

Tuesday, May 30, 2006

Filantropi

Mereka-mereka ini punya moto perusahaan sehat karyawan sejahtera. Karyawan diajak memikirkan bagaimana membuat perusahaan semakin kaya, dan cara tarbaik menikmati kekayaan itu bersama-sama. Mungkin, dalam dunia kapatilis, yang selama ini sangat mengagungkan kekayaan, tetap ada sisi manusiawi sebagi bagian dari kebenaran teori, semakin tinggi pendidikan, semakin bijak seseorang. Meski teori ini tidak sepenuhnya salah, tetapi tetap saja ada benarnya.

Sejak beberapa tahun belakangan ini, beberapa yayasan yang menyumbangkan kegiatan sosial di Indonesia memang lumayan besar. Sebenarnya, sejak zaman orde baru, kegiatan ini juga telah ada. Namun karena waktuitu iklimnya masih banyak nuansa kkn dalam sisi bisnis, kegiatan itu pun sepertinya tidak terlalu terbuka, bahkan banyak yang menengarai hanya menjadi akal licik untuk sebuah kepentingan semakin besar.

PT HM Samporna Tbk mungkin bisa dikatan sebagai pionir perusahaan yang menyisihkan keutungannnya kepada masyarakat dan lingkungan sosialnya. Dicanang tahun 2000, perusahaan rokok yang berbasis di Surabaya ini menyisihkan 2 persen dari setiap penjualannya dalam yayasan yang lebih banyak bergerak dalam pendidikan, Samporna Foundation. Pendirian yang merupakan ide dari bos Samporna waktu itu, yakni Putera Samporna memang telah memberikan kontribusi cukup besar dalam mendurung kemajuan dunia pendidikan.

2 persen dari penjualan memang angka yang tidak sedikit. Bila rata-rata per tahun Sampoerna mampu membubukan penjualan di atas Rp10 triliun, dana untuk yayasan dipastikan selalu lebih dari Rp20 miliar tiap tahun. Sebuah angka yang cukup besar untuk memberikan bantuan dunia pendidikan, seperti beasiswa, atau membiayai riset-riset dalam kemajuan pendidikan.

Filantropi yang dari bahasa Yunani, philein yang berarti cinta dan anthropos yang berarti manusia. Filantropi bisa kita pahami sebagai seseorang yang mencintai sesama manusia.

Selama ini, orang-orang terkaya dunia juga telah menjadi filantropi, katanya Bill Gates, pendiri dan bos Microsoft ini bahkan memiliki yayasan yang dikelola dari kekayaan Bill Gates dengan nilai sekitar Rp40 triliun pada 2005. Mendermakan kekayaan sebesar itu, bukan sebagai upaya mengelabuhi pajak, tetapi seperti yang di kemukakan, karena sudah menjadi tanggung jawab dia untuk membagikan apa yang dia miliki demi kemakmuran di muka bumi.

Yah, kemakmuran tanpa harus menindas orang lain. Sepertinya, jelek atau buruk sebuah ideologi politik, selalu tergantung pada manusianya.

Gempa

Sekitar pukul 8 pagi, Sabtu 27 Mei 2006, saat menikmati liburan di Bandung, sebuah pesan singkat alias SMS lewat ponsel dari teman mengabarkan terjadinya sebuah gempa di Yogyakarta dan sekitarnya, pagi hari sekitar pukul 05.50 pagi. Awalnya saat mendapat berita itu, dalam benak hanya berfikir kalau itu sekedar gempa biasa, dan mengira-ngira hanya ringan saja. Namun saat teman bilang banyak rumah yang rata dengan tanah, dan mempersilahkan untuk menonton televisi, kengerian langsung menyeruak dalam benak. Gempa yang dalam hitungan skala richter seharusnya "tidak" terlalu besar, 5,9 skala richter tetapi akibat yang ditimbulkan sangat dahsyat. Ribuan rumah rata dengan tanah, dan ribuan nyawa menghilang. Sebuah bencana alam besar kembali menimpa Indonesia yang belum sembuh benar dari hantaman tsunami di Aceh 26 Desember 2004 silam.

Beberapa teman lain di Yogyakarta mengabarkan, gempa susulan benar-benar membuat warga ketakutan. Bahkan teman itu bersama anaknya yang masih 3 tahun, harus rela terkena dinginnya angin malam saat ikut mengungsi di tanah lapang. Yah, selama dua malam, mereka tidak berani tidur di dalam rumah, dan terpaksa tidur di tanah-tanah lapang sambil menggelar alas seadanya, atau ada yang beruntung bisa memperoleh tenda seadanya. Mereka tidak bisa menikmati penerangan, karena listrik juga mati serta banyak saluran telepon yang juga masih terputus.

Gempa, sebuah kejadian alam yang sebenarnya bisa diramalkan oleh ilmu pengetahuan, memang tidak bakal begitu besar akibat kerusakan yang ditimbulkan. Selama lebih sebulan, Yogyakarta masih disibukkan oleh kemungkinan bencana meletusnya gunung merapi. Banyak penduduk yang sudah mengungsi, dan pemerintah juga sudah mengantisipasi dengan memberikan informasi agar penduduk mau mengungsi. Namun, di saat ancaman Merapi itu sedikit mereda, sebauh gempa yang begitu hebat malah menerjang Yogakarta, yang merusakkan hampir 80 persen rumah di Kabupaten Bantul juga di Kabupaten Klaten.

Fenomena alam, memang bisa dibaca dari ilmu pengetahuan, meski ada yang menggunakan daya pikir berbeda dalam menemukan gejala-gejala itu. Ilmuan, ahli bumi juga batu-batuan, mencermati kejadian alam itu punya ramalan tersendiri, dan berbeda dengan "ilmuan" lain yang melihat kemurkaan alam dengan dengan banyak variabel penyebab, seperti pemimpin yang tidak lagi adil, manusia yang semakin rakus merusak alam, dan bisa jadi ini merupakan "hukuman" Tuhan karena manusia semakin menjauh dari Tuhannya. Namun, ini juga merupakan ujian, karena Tuhan tidak akan memberi ujian pada mahluk-Nya bila meka tidak mampu menanggungnya.

Boleh jadi, ini merupakan ujian bagi rakyat Indonesia yang tidak juga mau belajar dari pengalaman. Mungkin, ujian maha dahsyat seperti tsunami di Aceh hingga Gempa di Nias masih belum cukup bagi rakyat, atau barangkali penguasa di negeri ini agar lebih melihat diri sendiri, berintrospeksi, kenapa bencana demi bencana terus terjadi.

Bencana ini, mungkin bisa lebih mempererat rasa kemanusiaan, rasa kecintaan, rasa saling memiliki, rasa sosial, bahkan kita memang tidak hidup sendiri dalam sebuah negara yang bernama Indonesia ini.

Wednesday, May 24, 2006

Pesan Sponsor

"Keluarga Indonesia, Internet ada sumber ilmu pengetahuan tapi juga mengandung pornografi dan hal-hal negatif. Gunakan Internet secara Bijak dan Sehat."

Itulan pesan dari Menkominfo yang saya terima lewat ponsel tepat pukul 12:36:17 tanggal 24 Mei 2006. Saya tidak tau kenapa dapat pesan ini, dan setelah tanya beberapa teman, ternyata tidak semua mendapat info lewat SMS yang menurut saya sudah masuk kategori spamming, meski informasi yang diberikan memang benar.

Ekspresi saya saat dapat pesan itu hanya senyum kecil saja, mungkin Menkominfo bermasuk baik, memeri pesan bahwa silakan gunakan internet dengan besar, meski tidak selama ini pemerintah menueurt saya tidak terlalu maksimal untuk memasyarakatkan dunia internet di Indonesia. Masyarakat sepertinya belajar internet sendiri, lalu tiba-tiba diajari oleh Menkominfo untuk menggunakan internte dengan Bijak dan Sehat. Penggunaan kata Bijak dan Sehat juga sepertinya tidak beda jauh dengan kata pilihan pejabat selama ini, yang mengesankan bahwa mereka memang orang yang paling bijaksana, dan tidak pernah salah dalam setiap kata dan petuahnya.

Padahal, di dunia internet sendiri di Indonesia termasuk barang langka dan mahal. Selain tidak merata, karena lebih 90 persen hanya di kota-kota besar saja, biayanya juga sangat mahal. Mahalnya biaya internet di Indonesia tidak lebpas dari kebijakan pemerintah sendiri yang membuat harga koneksi internet menjadi mahal.

Bagimana tidak mahal, biaya koneksi internet di Indonesia dengan akses yang sangat lama ini tarifnya bisa lebih mahal dari yang sudah diterapkan di negara-negara maju.

Karena itu, saya memang akan berinternet dengan sehat, terutama kalau akses dari rumah Pak Menteri biar kantor saya tetap sehat. :)

Tuesday, May 23, 2006

Tanpa Batas

Dua kata yang sering digunakan sebagai simbol kreatifitas, ilmu pengetahuan, bahkan sampai kesembongan dan mungkin kekuasaan. Batas dianggap sebagai penghalang, meski kalau ditambah dengan kata kota, berarti itu merupakan daerah akhir wilayah sebuah kota, termasuk juga negara. Sebuah pertanda bawah di situlah akhir dari "kekuasaaa" sebuah kota atau negara.

Saat ini, dunia memang sudah seperti tanpa batas. Kebutuhan manusia yang terus meningkat itulah yang membuat dunia seperti masa lalu, yang sepertinya tanpa batas, meski di setiap negara ada penguasanya. Negara, tampaknya hanya mengatur administrasi saja, sementara kebutuhan lain sudah tidak mengenal batas. Tidak terbatasnya dunia itu, diikuti dengan perkembangan dunia usaha atau korporasi yang memang memiliki "kekuasaan" melebihi negara itu sendiri.

Perusahaan-perusahaan multinasional besar dunia, seperti menjelma menjadi sebuah negara sendiri, yang memiliki kekuasaan melebihi negara dengan kemampuan akses tanpa batas dan menembus ke seluruh dunia. Mereka bahkan memiliki kontrol terutama dari sisi ekonomi, lebih dari negara.

Bahkan sejak lima tahun lalu, menurut Kompas edisi 20 Mei 2006, 51 dari 100 kekuatan ekonomi terbesar dunia sudah bukan lagi ada di tangan negara atau, tetapi perusahaan! Bisa dibayangkan, pendapatan WalMart, jaringan perusahaan ritel terbesar di AS, pada tahun 2001 sudah melampaui produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebagai negara. Indonesia yang berpendudukan lebih 230 juta kalah dengan perusahaan eceran terbesar di Amerika Serikat!

Bahkan, perusahaan minyak asal Belanda yang dulunya menemukan sumur minyak pertama kali di Indonesia sekitar tahun 1800-an, Royal Dutch Shell melampaui PDB Venezuela, salah satu anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang memiliki cadagangan minyak terbesar kelima dunia.

Pendapatan perusahaan mobil nomor satu dunia dari AS, General Motor, kira-kira sama dengan kombinasi PDB tiga negara: Selandia Baru, Irlandia, dan Hongaria. General Electric, salah satu perusahaan multinasional terbesar dunia, menguasai aset 647,483 miliar dollar AS atau hampir tiga kali lipat PDB Indonesia!

Begitu besar kekuatan uang dan pengaruh yang dimiliki korporasi-korporasi ini sehingga mampu mengendalikan pengambilan keputusan di tingkat pemerintahan dan menentukan arah pergerakan perdagangan dan perekonomian global.

Dan mereka memang memasuki dunia tanpa batas. Dan seiring pertumbuhan ekonomi di Asia, terutama China, perusahaan yang memiliki pengaruh pada dunia juga terus tumbuh di negeri itu.

Dalam daftar 100 multinasional nonfinansial terbesar dunia (dari sisi aset) versi World Investment Report 2005, ada nama seperti Hutchison Whampoa Limited (urutan 16) dari Hongkong, Singtel Ltd (66) dari Singapura, Petronas (72) dari Malaysia, dan Samsung (99) dari Korea Selatan.

Sementara dalam daftar 50 TNCs finansial terbesar dunia, ada tiga wakil dari China, yakni Industrial & Commercial Bank of China (urutan 23), Bank of China (34), dan China Construction Bank (39).

Indonesia? Sepertinya masih jauh, bahkan produk kita secara keseluruhan juga masih kalah.

Monday, May 22, 2006

UN=Melatih Kerja Keras?

Ujian Nasional atawa yang biasa disingkan UN akhirnya tetap dilaksakan karena dianggap bisa menjadi patokan untuk mengejar kemajuan pendidikan. Bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, selama ini bangsa Indonesia sangat rendah kerja kerasnya. Lewat UN ini diharapkan bisa mendidik siswa untuk berkerja keras. Yah, Ujian Nasional dianggap sebagai upaya mendidik kerja keras.

Inilah pernytaan Wapres yang lagi-lagi seperti blunder, atau mungkin karena "ketidaktauhannya" atau bahkan "kenaifannya", yang tidak jauh berbeda saat dia dengan polosnya mengaku buta teknologi informasi, dan tidak bisa menggunakan internet, apalgi mengecek email. Pantas saja pemerintah kita tidak pernah menghargai teknologi, dan kini banyak ilmuan mengatakan Iptek Indonesia sudah sampai titik nadir.

Kembali ke soal UN tadi, Wapres sepertinya memang tidak tau persis soal pendidikan, atau memang para pembantunya, yakni para menter-menterinya yang berurusan dengan pendidikan tidak memberi tahu. Yang pasti, ungkapan wapres ini sebearnya sangat bertolak belakang dengan pernytaannya bahwa UN itu untuk menumbuhkan budaya kerja keras. Padahal, UN hanya sebagai dari proses pendidikan, yakni bagian dari evaluasi pendidikan. Padahal, pendidikan merupakan proses, sehingga hasil tidak bisa diukur dari satu variabel yang bernama UN tersebut untuk mengetahui hasil pendidikan.

Melihat potret pendidikan kita memang tak ubahnya melihat potret diri kita sendiri, potrek negara kita sendiri, yang sepertinya tidak bisa mengurus diri sendiri juga lingkungannya. Pemerintah, yang kini banyak dikendalikan oleh partai-parti politik sepertinya lebih sibuk dengan urusan dapur dia sendiri. Semangat membangun Indonesia sebagai satu negara hanya semangat yang nomor sekian, sebelum semangat mencari untung buat dirinya, kelompoknya, juga partainya.

Dalam urusan pendidikan, semangat UN sangat terlihat dari adanya tarik-menarik kepentingan politik, uang, kekuasaan, dibading urusan memajukan pendidikan yang sesungguhnya.

Makanya, meski sekarang rencana menaikkan anggaran pendidikan hingga 20 persen dari APBN seperti yang diamanatkan oleh Undang-Undang posri itu masih sangat kecil, bahkan tidak ada sepertiga dari hutang luar negeri yang harus dibayar tiap tahun. Menurut catatan pengamat eknomo Revisron Bashwir, APBN untuk pendidikan nilai Rp 35 triliun, sementara hutang luar negeri yang harus dibayar nilainya 150 triliun.

Lebih celaka lagi, dari nilai yang "hanya" sedikit itu, masih cukup tinggi kebocorannya. Kebocoran yang sangat tinggi di anggaran tiap departemen pemerintahan memang bukan rahasia lagi, dan itu sepertinya sudah jadi pekerjaan rutin bagi para pimpinan proyek untuk mengutak-atik anggaran itu, karena diapaki oleh foya para direktur, dirjen, dan petinggi lain negara ini yang memang sudah terkenal sanagt boros.

Misalnya, biaya untuk yang sangat tidak perlu, golf, sewa apartemen, dan biaya-biaya dinas lain, yang tentunya harus diambil dari anggaran masing-masing departemen ini. "Sampai saat ini, biaya seperti itu tidak pernah hilang, bahkan cenderung lebih tinggi," kata teman yang kebetulan kerja di sebuah instansi pemerintah.

"Kita ini kan mau isntan saja, tidak pernah invertasi untuk jangka panjang yang menguntungkan, seperti menanam kayu jati, tapi lebih memilih kangkung yang cepet-cepet saja," kata Sosiolog Imam B Prasodjo.

Jadi, benarkah UN=Melatih Kerja Keras?

Tebak-Tebakan

Semua perempuan menjadi seperti ibu masing-masing. Itu kemalangan mereka. Laki-laki tidak demikian. Tapi itu pun kemalangan mereka. Oscar Wilde.

Kemalangan, dari satu sisi memang menjadi keuntungan orang lain. Atau sebaliknya. Tapi, kita tidak seharusnya menerima begitu saja kemalangan itu. Ada proses dimana kita bisa memodifikasinya, kita bisa mengubahnya. Karena itu kita dibekali pikiran oleh Tuhan, tidak perduli jenis kelamin kita.

Sejak manusia ada hingga kini, perdebatan bahwa wanita-wanita masih ering terbelenggu oleh "kewanitaanya" itu. Dalam kehidupan sehari-hari, kata-kata dia kan wanita, gak mungkin dong pergi sendiri, kerja sampai malam, atau apa lagi kata-kata yang intinya membelnggunya. Tidak beda dengan wanita, laki-laki juga masih terbelenggu oleh kelaki-lakiannya. Secara sadar sebagian besar laki-laki masih memandang wanita sebagi wanita yang "beda" dengan laki-laki. Masing-masing secara sadar masih membeda-bedakannya. Apakah

Tapi benarkah itu yang ideal? Saya sendiri juga tidak tau, Tuhan memang menciptakan mahluk di bumi berpasang-pasangan. Ada siag ada malam, termasuk laki-laki dan perempuan. Itu semua rahasia Tuhan, tinggal bagaimana kita mencarinya. Manusia telah dibekali akan untuk mencari jawaban itu.

Apakah pasangan itu memang hanya untuk urusan reproduksi? Untuk melanggengkan ciptan-Nya di bumi? Tuhan selalu punya jawaban, dan tinggal bagimana kita mencari jawaban itu.

Dimanakah jawaban itu? cari taulah sendiri, mungkin begitu kata Tuhan saat menyuruh Muhammad, Sang Nabi, untuk iqra', "bacalah", lalu "bacalah atas nama Tuhamu". Cari taulah, sampai kau menemukannya, tapi jangan pernah melupakan Tuhan-Mu.

Jangan pernah bertingkah konyol, seperti kata William Shakespeare, ketika masalah itu timbul yang sebagian besar karen aulah kita sendiri dengan mempersalahkan, ...matahari, kepada bulan, kepada bintang-bintang: seoalh-olah kita kroban takdir, buah permainan kekuatan surgawi...sasaran kutukan sang penyihir agung, yang menjatuhkan tulah lewat pergerakan bintang....

Friday, May 19, 2006

Kala Itu

Wanita itu memang menyenangkan, membangkitkan hidupnya yang sudah paruh baya, semangatnya kembali bersinar, setelah 2 tahun ditinggal mati istrinya. Kini dia bahkan merasa seperti terlahir kembali, dan wanita itu seperti membukakan kegairahan hidup yang sama sekali tidak dia peroleh dalam 15 tahun kehidupan rumahtangganya bersama istri yang akhirnya meninggalkannya duluan untuk selama-lamanya.

Namun, sebuah sejarah kelam wanita itu ternyata mengusik laki-laki paruh baya itu, tidak peduli saat pertama kali mereka kenal sudah sepakat tidak mengungkitnya. Mereka sepakat menikmati apa yang dirasakan saat ini, menikmati kebahagiaan bersama itu. Tapi, laki-laki paruh baya itu tidak tahan untuk mengusiknya.

Diam-diam dia mengusik kisah masa lalu wanita itu, semakin banyak yang dia tau, semakin dia menjadi mengutuk diri, bahkan sampai pada sebuah rahasia yang ternyata melibatkan wanita itu dan teman karib laki-laki itu yang selam aini jadi teman curhatnya. Lalu, sebuah episode tragis mengakhiri tiga orang itu.

Itulah sepanggal kisah Before She Meets Me tentang sebuah kegairahan cinta yang sudah meredup, pengalamana baru, pengutukan masa lalu, diakhiri lewat sebuah ending sangat tragis di antara para tokohnya.

Masa lalu memang susah sekali dipisahkan dengan aktulisasi masa kini. Freud lewat teori psikoanalisanya, melihat perkembangan seseorang sangat dipengaruhi masa lalunya. Para orang tua kita juga sering mengaitkan diri kita dengan masa lalunya, mulai dari kata-kata dia anak siapa. Lalu siapa yang mendidik kita, dan masih ribuan kata yang mengaitkan itu dengan masa lalu.

Mungkin, kita bisa sedikit mengingat kata-kata ilmuan penganut teori evolusi, Charles Darwin, "manusia dengan segala sifat mulia yang dimilikinya masih menyimpan unsur-unsur primitif dalam tubuhnya yang diwarisi dari leluhurnya yang sederhana."

Thanks to Anthony Giddens

Bisnis Kontroversi

Sudah banyak buktinya, kontroversi memang manghasilkan sebuah bisnis yang sangat besar. Manusia yang dasarnya punya rasa ingin tau cukup besar, sering tidak bisa menahan gejolak untuk menikmati sebuah kontroversi. Kontroversi yang sering menghamburkan energi sangat besar, dan sering terbuang tidak berguna, namun tidak jarang energi itu masih bisa dinikmati dalam sebuah elemen bisnis yang sangat besar.

Kontroversi yang dulu pernah saya dengar saat masih muda, novel Ayat Ayat Setan karya Salman Rushdie yang menggemparkan. Novel yang isinya mempersonifikasikan Nabi Muhammad dalam novel yang jelas-jelas hanya imaginasi ini, malah mengundang kontroversi dan dinggap oleh sebagain besar umat Islam sebagai pelecehan terhadap Nabi Muhammad dan Umat Islam. Tak heran, sang penulis yang notabene juga beragama Islam dijatuhi hukuman mati oleh Ayatullah Khumaini yang waktu itu menjadi pemimpin Iran.

Akibat kontroversi itu, Ayat Ayat Setan menjadi laris luar biasa. Meski saat itu di Indonesia dilarang masuk, buku-buku dalam bentuk selundupan juga marak masuk. Semakin ditentang beredarnya novel ini, semakin besar rasa ingin tau orang untuk menikmatinya.

Begitu saat film Passion of Jesus Christ yang digarap Mel Gibson mengundang kontroversi saat diluncurkan. Film yang menggambarkan penyiksaan Jesus atau Nabi Isa menjelang kematiannya dari malam penculikannya, hingga siang hari penyiksaan juga mengundang kontroversi. Studia besar film di Amerika yang selama ini memproklamirkan dirinya sebagai negara paling sekular, malah banyak yang menolak mengedarkannya. Akhirnya, sebuah studio kecil yang berani mengedarkan, dan meledaklah film itu, karena kontroversi yang ditampilkannya.

Film ini memang menggambarkan penyiksaan luar biasa oleh Jesus yang dilakukan penguasa Romawi saat itu. Penculikan yang dibumbui oleh hasutan dari para Pendeta Yahudi memang sumpat menjadi kontroversi bahwa film ini Anti Yahudi. Dan bisa membangkitkan kemarahan umat Kristen bahwa pembunuhan Jesus merupakan intrik yang dilakukan para Pendeta Yahudi.

Karena menjadi kontroversi, film ini pun menjadi pembicaraan dimana-mana. Meski penggambaran penyiksaan Jesus sangat kejam, berdarah-darah, bahkan sangat sadis, penonton tetap ingin menikmatinya. Sekali lagi, kontroversi memang menjadi peluang bisnis sangat besar.

Lalu, kontroversi paling besar selama 2 tahun belakangan ini menjadi menyeruak akibat sebuah novel dengan Judul The Da Vinci Code yang ditulis oleh novelis Dan Brown. Sebuah kode yang terdapat dalam lukisan Leonardo Da Vinci, menjadi pembicaraan karena mampu menyihir jutaan pembaca bahwa, Jesus ternyata manusia biasa yang punya istri dan juga punya anak serta keturunan yang hidup hingga saat ini. Bagi penganut Katolik, novel ini bisa membuat jutaan umat Katolik di dunia dituduh berbohong dengan ajaran yang selama ini mereka anut.

Padahal novel ini, bagi pembaca seperti saya, kisahnya sangat menarik dan bikin gemas dan geregetan ingin cepat-cepat selesai kisah akhirnya.

Makanya, sejak kontroversi novel itu ada, puluhan buku terbit dan memberikan argumentasi bahwa apa yang diungkap dalam The Da Vinci Code hanyalah ilusi belaka. Dan lebih menggemaskan lagi, semua buku-buku yang menentang teori The Da Vinci Code yang selalu menjadi buku paling laris.

Kontroversi sepertinya mampu menyihir setiap orang dan membangkitkan rasa ingin tau yang sangat besar. Sebuah peluang bisnis sangat besar bakal lahir dari kontroversi itu.

Tuesday, May 16, 2006

Manusia

Mahluk sempurna yang tidak pernah merasa sempurna dalam hidupnya. Selalu kurang dan kurang, seperti inilah yang dirasakan oleh sebagain besar manusia. Betul engga? Tidak tau pasti, yang pasti menuurut teori rising demand yang pernah diungkapkan oleh Abraham Maslow, ketidakpuasan itu memang tidak sepenuhnya salah. Kebutuhan kita selalu naik, yang artinya tidak pernah merasa sempurna, tidak akan merasa puas.

Saat impian itu sudah kita rengkuh, impian lain masih menunggu, begitu seterusnya. Tidak pernah ada keinginan yang selesai, semuanya tidak pernah selesai. Manusia, bakal selalu mengejar kesempuarnaan itu, meski Tuhan sudah menakdirkan bahwa manusia ada mahluk paling sempur yang pernah Dia ciptakan.

Mungkin, Tuhan tidak "menyelesaikan" secara penuh "proyek" pembuatan mahluk bernama manusia ini. Manusia dibiarkan mencari sendiri jalan kesempurnaan itu. Beberapa manusia terpilih juga telah diciptakan oleh Tuhan untuk membimbing manusia itu sendiri. Namun, tidak jarang petunjukkan Tuhan langsung lewat manusia "terpilih" itu bisa sampai ke tangan manusia "biasa".

Penentangan, ketidakpuasan, bahkan keputus-asaan, kerap menjadi teman oleh manusia yang mencari kesempurnaan itu. Bahkan dalam upaya mencari kesempurnaan itu, tidak jarang manusia itu saling menghabisi, saling menipu, saling membunuh, untuk mencapai sebuah kesempurnaan.

Kalau sudah seperti ini, benarkan manusia itu menjadi mahluk paling pantas menjadi pemimpin di bumi ini? Tuhan memang sudah mentakdirkan seperti itu.

Monday, May 15, 2006

Si Untung apa Si Bahagia

Untung, tokoh yang menjadi kembaran Paman Donald dalam komik Donald merupakan seorang yang sama sekali tidak pernah mengalami sial. Meski bloon dan sedikit bodoh, Untung selalu memperoleh kemujuran. Dan itu beda sekali dengan Donald yang sering sial, meski sudah berusaha sekuat mungkin agar tidak tertimpa kesialan.

Ada guyonan, orang bodoh memang selalu jadi bulan-bulanan orang pintar, tetapiorang pintar biasanya kalah sama orang cerdik. Nah, dua-duanya itu tidak akan berkutik dengan orang yang hoki, alias untung, alias lucky.

Keberuntungan memang tidak bisa dicari, itu sudah menjadi karunia Tuhan yang tidak semua orang memilikinya. Namun, masih ada sedikit "kegembiraan" bahwa keberuntungan itu, meski namanya untung, tidak selalu membahagiakan kita. "Kebahagiaan" menjadi lebih dari sekedar keberuntungan, dia lebih bermakna, lebih mengena dalam diri kita.

Menjadi kaya, menjadi cantik, menjadi yang serba lebih, bahkan menjadi impian semua orang dan memiliki semua keberuntungan, belum tentu membahagiakan. Kebahagiaan, bisa kita cari di mana saja, mulai dari tempat paling kotor sampai tempat paling bersih, dari tempat paling mengerikan danmenakutkan, sampai tempat paling menghibur.

Kalo boleh memilih, mau si untung apa si bahagia?

Friday, May 12, 2006

Surga Nggak Pantas, Neraka Nggak Kuat

Sebagai orang muslim, doa ini sering kita panjatkan seusai sholat Jumat. Doa yang konon pertama kali dilakukan oleh Abu Nawas, salah satu tokoh islam yang terkenal dengan kecerdikannya, dan sering membuat heboh sang amir awaktu itu, Khalifah Harun Al Rasyid. Disa sering dipanggil bahkan diancam hukuman, namun akhirnya sang Abu Nawas selalu bisa beragumentasi dan sang Khalifah bisa menerima argumentasinya, bahkan selalu berterima kasih karena diingatkan, meski dengan gaya seperti orang usil dan bernada canda.

Tokoh yang sudah melegenda dengan kisah 1001 malam ini memang lebih banyak dikenal dengan kecerdikannya dan selalu membuat usil. Bahkan doanya yang sering kita baca usai sholat jumat, "ilaahilas turil firdausi ahla walaahwa alanaariljaahimin wahabli taubatan waghfirdunubi fainnakaho firudzanbil aadhimiin" arti bebasnya mungkin seperti ini, Ya Tuhanku, rasanya aku nggak pantas masuk surga-Mu, namun aku juga nggak kuat di dalam neraka-Mu, tapi aku selalu berusaha untuk selalu bertobat kepada-Mu agar bisa termasuk orang yang beriman.

Doa yang diplomatis memang, tapi apakah Tuhan mengabulkannya? Wallau A'lam Bisshowab tergantung pada diri kita, dan niat kita untuk selalu mendekatkan di kepada Tuhan sesuai dengan keyakinan dan kemampuan kita.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita memang banyak menyaksikan sebuah kontradiksi yang sepertinya tidak bisa diterima oleh nalar. Seorang walikota di sebuah kota di Jawa Timur pernah dengan enteng berkata, semua manusia sama saja, doyan duit. "Buat apa kita mendengar omongan para kyai (tokoh agama), ujung-ujung pasti duit, dan semua beres," kata sang Walikota. Dia menvonis bahwa semua manusia sama, baik itu yang biasa, politikus, pintar, bodoh, tokoh agama, semuanya doyan duit.

Meungkin dia memang terlalu naif, atau punya pengalaman buruk dengan kyai. Namun dia juga tidak bisa dibenarkan, karena seperti yang kita tau semua kyai begitu. Sama saja ketika ada orang berdemo menentang kemungkaran yang menurut mereka melanggar kesucian agama, lalu mambawa atribut agama dalam demonya, tapi yang dilakukan sama sekali tidak menunjukkan tingkah sebagai orang yang beragama. Kekerasan yang sangat dilarang agama untuk tidak dilakukan, malah sering dilakukan dalam "pengkutukan" terhadap orang-orang yang diyakini telah melecehkan agama.

Persoalan dia baik apakah dia melanggar agama Tuhan, sepertinya bukan hak kita sebagai manusia untuk menilainya. Sebagai manusia, mahluk Tuhan, kita memang memiliki keterbatasan, termasuk keterbatasan dalam melaksanakan agama yang sudah diturunkan Tuhan melalui nabi dan rosul-rosulnya. Agama diturunkan sebagai petunjuk agar kita hidup lebih beradab, dengan sesama mahluk dan tentu saja dengan sang Khalik, sang Pencipta, yakni Allah subhanahu wata'ala.

Seandainya, para utusan Tuhan itu melihat apa yang telah kita lakukan saat ini dalam menjalankan agamanya, apakah mereka tersenyum dengan apa yang sudah kita lakukan sekarang? atau malah menangis karena ajaran yang dia sampaikan sama sekali tidak berbekas di hati para umatnya? Mereka mengaku bergama, memiliki pengetahun lebih tentang agama, mengaku sebagai penjaga kemurnian agama, tetapi dilakukan dengan cara-cara yang jauh dari agama yang mereka bela itu sendiri?

Wallau A'lam, rasanya memang saya tidak pantas untuk masuk surga, namun saya tidak kuat jika dimasukkan neraka-Mu ya Tuhan.

Semoga Allah selalu memberikan pentunjuk ke jalan yang lurus.

Ditulis usai Sholat Jumat di Masjid Al Maimun Kebagusan, Jaksel

Wednesday, May 10, 2006

Gaya Hidup Bernama Selingkuh

Pernah nonton serial Desperate Housewife yang lebih ke ibu-ibu kelas atas dan bertetangga ala dunia barat, atau yang begitu metropilis dan lajang seperti Sex and The City, sampai yang membawa model dengan tema kantoran seperti Ally McBeal. Di antara belantara persaingan bisnis, rumah tangga, pergaulan sampai sebuah kegiatan kemanusiaan, ada satu gaya hidup yang sebanarnya sudah terjadi sejak zaman dulu kala, selingkuh!

Yang membedaan denan dulu, mungkin kualitasnya atau aktivitasnya. Manusia, sebagai mahluk sosial memang tidak bisa hdiup sendiri. Mereka harus berinteraksi dengan sesama manusia, baik itu yang sejenis atau lawan jenis. Dari interaksi itu, ada hubungan yang normal, ada yang lebih dari sekedar normal.

Serial Desperate Housewife, dari judulnya saja kita bisa mengira-ngira tentang tidak berdayanya para istri. Namun, jangan salah meski judul menggambar istri-istri yang desperatemalah ada yang bisa membuat suaminya desperate akibat ulah istrinya. Bagimana tidak, sang istri itu dengan enakny aberselingkuh dengan pria-pria yang lebih muda, bahkan selingkuh dengan anak tetangganya sendiri, atau bahkan dengan tukang kebun yang merawa rumahnya.

Dalam Sex and The City mungkin sedikit berbeda. Wanita-wanita lajang itu lebih menikmati kelajangannya meski terkadang suka berselingkuh dari pacar-pacarnya, atau bahkan menyelingkuhi pacar temannya. Komunitas pertemanan mereka bukan karena satu kantor, tetapi memang komunitas pertemanan yang menyatukan mereka. Sangat berbeda ketika persleingkuhan terjadi dalam serial Ally McBeal yang lebih menorot hubungan mereka di kantor, juga perselingkuhan, dan persaingan yang terjadi, termasuk intrik-intrik untuk saling menjatuhkan temannya sendiri.

Kehidupan di kota besar Indonesia mungkin dengan lebih permisif menerima polah dantingkah seperti itu. Meski selingkuh bukan monolpoli yang bisa dilakukan penduduk kota, tetapi akses, mulai dari komunikasi, interaksi, hingga tempat yang lebih mendukung membuat perselingkuhan itu menjadi lebih berpeluang besar dilakukan oleh masyarakat perkotaan.

Bahkan, sebuah gaya hidup berselingkuh pun tiba-tiba seperti menjadi trend yang oleh sebagian masyarakat dianggap sudah biasa. Dalam likungan kantor, kita bahkan bisa menemukan "adegan" perselingkuhan dengan jelas. Dalam tayangan televisi yang penuh gemerlap artis, seperti infotainment kita juga sering melihat "perselingkuhan" itu.

Yang lebih menghebohkan lagi ialah terjadinya "perselingkuhan" antara pemerintah, pengusaha, dan para wakil rakyat kita. Dan itu bisa kita baca dari berita soal demo para buruh yang menolak revisi sebuah undang-undang karena hal itu dilakkan dari hasil "perselingkuhan" pengusaha dan penguasa yang lebih celakanya lagi bakal disahkan oleh para wakil rakyatnya sendiri yang bernama DPR>

Lalu sebaiknya kita tanya diri kita sendiri, apakah juga telah melakukan perselingkuhan?

Tuesday, May 09, 2006

Bisnis Bencana

Setiap kejadian selalu ada hikmahnya, bahkan keadaan paling buruk pun selalu ada hikmahnya. Seperti itulah pesan guru agama saat kita masih kecil. Pesan seperti itu seperti "biasa" saja, hanya sekedar penghibur, atau mungkin cuma sekedar basa-basi dalam kehidupan kita. Bisa jadi memang demikian, karena kita dulu diajar seperti itu, meski mungkin ada makna yang lebih dalam lagi. Siapa tau?

Setidaknya, kenyataan seperti ini terlihat benar memang "hikmah" itu. Paling jelas dan nampak di depan mata, saat bencana tsunami di Aceh akhir 2004 lalu. Bencana maha dahsyat itu, selain membawa hikmah kita menjadi lebih dekat dengan Tuhan, juga rasa persaudaraan, juga menjadi lebih tumbuh lagi.

Namun, ada suatu "hikmah" lain, meski kedengarannya sangat ironis, yakni sebuah peluang bisnis maha besar yang nampak di depan mata untuk membangun Aceh yang luluh lantak itu. Bantuan yang begitu besar mengalir dari penjuru dunia, memang begitu besar. Nilainya mungkin tidak pernah terbayangkan, mungkin mencapai puluhan trilun, atau bahkan ratusan triliun rupiah.

Dana yang besar itu, sudah pasti menjadi peluang tersendiri. Banyak perusahaan baru bermunculan dengan, baik itu yang menjadi kontraktor, sub kontraktor, atau hanya sekedar broker dalam pembangunan kembali Aceh yang berasal dari dana-dana bantuan di seluruh dunia itu.

Dan pemnadangan kontras pun terjadi ketika banyak lembaga-lembaga bantuan tadi mulai bekerja membangun Aceh yang hancur. Mereka bekerja seperti sebuah perusahaan, yang membangun secara sitematis, begitu juga fasilitasnya. Miliaran dana mereka habiskan untuk biaya operasional saja. Deretan mobil mewah banyak berkeliaran di sana sebagai sarana transportasinya.

Ada sebuah perusahaan yang khusus melakukan kerja hanya dengan menjadi broker, mulai dari usaha mencari bahan baku, menjadi broker hanya urusan transportasi berubah menjadi sebuah perusahaan besar. Perusahaan baru ini, mampu berkantor di perkatoran elit di Jakarta, dan membawai banyak pegawai dengan memanfaatkan bantuan asing tadi.

Memang seperti sebuah anomali, saat bencana itu muncul, bahkan seperti perang bekecamuk di sebuah daerah konflik, dan harus ada pasukan keamaanan, yang mungkin dari seluruh dunia, sebuah peluang bisnis besar muncul di situ. Peluang dari hal-hal kecil saja, seperti untuk urusan sabun, shampoo, alat cukur sudah pasti dibutuhkan oleh para tentara tadi.

Ini belum termasuk kebutuhan utama, seperti logistik makanan pokok, atau pasokan minyak, buat alat-alat berat.

Bencana memang bisa menjadi sebuah bisnis, termasuk bisnis media yang begitu gencar memberitakan bencana.

Monday, May 08, 2006

Aku Lebih Cinta Diriku

Setiap hari dia menikmati kecantikan wajahnya dengan menatap cermin di kamar mandi. Cermin, berbentuk bingkai, bermodel minimalis, berukuran sedang, sekitar 35 cm kali 45 cm, yang menggantung di dinding kamar mandi yang dilapisi keramik berwarna putih keperakan. Cermin itu, setiap sisinya dilapisi penjepit stainless berwarna mengkilap, degan sedikit potongan pada kaca di setiap ujungnya. Modelnya yang begitu sederhana, namun terkesan minimalis dan modis, sepertinya bisa membuat setiap wajah yang bercermin menjadi lebih percaya diri. Bahkan tidak jarang yang merasa cantik menjadi lebih cantik lagi.

Seperti pagi ini, wajah cantik itu setiap hari mengagumi dirinya di depan cermina itu. Wajah itu memperhatikan setiap titik, yang dia miliki. Dia begitu mengagumi alisnya yang tidak terlalu lebat, namun bulunya begitu halus membentuk cekungan, seperti habis dirapihin oleh tangan-tangan terampil di salon. Dia tidak perlu melakukan itu, karena memang milikinya dan anugerah dari Tuhannya. Bibirnya juga terlihat cukup seksi, tipis dan pesona sedikit basah, meski dia jarang menggunakn pelembab bibir. Tulang pipinya yangs edikit menonjol, dengan kulit halus bersih, dengan raut wajah sedikit oval, rambut hitam tebal, hidung cukup mancung untuk ukuran orang Asia, memang dia, cukup cantik. Bahkan cantik sekali.

Jadi, tidak salah kalau dia sangat mengagumi wajahnya di depan cermin. Dia bisa bertahan berjam-jam di depan cermin, bahkan suatu ketika menjadi lupa apa yang seharusnya di akerjakan saat dia masuk kamar mandi. Wanita, yang usianya sekitar awal 20-an tahun itu, sangat mengagumi kecantikan dirinya. Dia begitu bangga akan kecantikan itu, seperti memaerkan wajah cantiknya kepada cermin yang setiap saat selalu memantulkan wajah cantiknya.

Waktu terus berganti, dan dia merasakan kecantikan dia bertambah lagi. Cermin itu juga sama, penampilan dia yang sederhana tetap mampu memantulkan setiap wajah-wajah yang mendekati dirinya. Dan wajah cantik yang setia itu, selalu saja datang kepada dirinya, dan tidak lupa memuji kecantikannya.

Suatu ketika, wanita itu ternyata tidak datang lagi. Sudah lebih sebulan, wanita cantik itu tidak datang, apalagi lagi berlama-lama di depan cermin. Kemana gerangan dia? Apakah dia memang tidak lagi mengagumi cermin itu? Begitu teman-teman cermin di kamar mandi itu bertanya-tanya.

Beberapa temannya di kamar mandi, mulai gantungan baju, yang bersandar di sisi pintu kamar mandi, sikat gigi, tempat sikat gigi, bahkan aneka kosmetik dan sabun yang berada di dalam kamar mandi itu, selama ngiri melihat cermin yang selalu dipandanginya berlama-lama oleh wanita cantik itu.

Ketidak-hadiran wanita itu, tentu saja membuat teman-teman cermin di kamar mandi itu merasa kehilangan. Meraka lalu sepakat menanyakan hal itu ke cermin. Apalagi hampir tiap saat ketika wanita cantik itu memandangi wajahnya, dia bercicara dengan bayangannya. Sering seperti terjadi pembicraan serius, sebuah pembicraan antara wanita itu dengan cermin di depannya. Sepertinya wanita itu tidak bicara pada bayangan dirinya, terkadang dia bicara sambil mengerdipkan matanya. Sesekali dengan mengangkat alis pada saat dia bicara.

Karena tidak tahan, gantungan baju bertanya kepada cermin itu. "Wanita cantik itu kemana sekarang, sudah hampir sebulan dia tidak kelihatan datang dan bicara kepadamu?".

"Aku sendiri tidak tahu, wanita itu mungkin saja sudah bosan pada diriku yang indah ini. Setiap hari dia memang datang dan sepertinya memandangi diriku. Terkadang dia bicara kepadaku yang tidak aku mengerti. Aku merasa wanita itu telah jatuh cinta padaku. Setiap datang, dia banyak mengumbar kata-kata pujian akan keindahan dan kecantikan. Dan aku memang merasakannya, aku merasa diriku memang cantik, indah, pantas membuat orang jatuh cinta, jadi tidak salah bila wanita itu selalu memberikan pujian kepadaku. Lalu kemana dia sekarang, aku tidak tau. Mungkin saja dia merasa aku tidak membalas cintanya. Aku tidak tahu. Sekali lagi, aku tidak tau."

Oh, begitu....


thank's to: paolo coelho

Plin dan Plan

Dua kata ini seharusnya menyambung, yang selama ini memiliki konotasi negatif dimaksudkan penilaian kepada seseorang yang mempunyai sifat tidak konsisten, tidak jujur, baik dari tingkahnya, bicaranya, atau tindakannya sehingga memberi kesan bahwa dia itu tidak jujur alias berbohong.

Karena saya bukan ahli bahasa, tidak tahu persis dari mana asal kata plin-plan ini, soalnya dalam kamus bahasa Inggris tidak menemukannya, sementara dalam kamus besar bahasa Indonesia, belum sempat mencari, maklum karena sudah pede sebagai warga negara Indonesia, menjadi malas bawa-bawa kamus bahasa Indonesia.

Dua kata ini menjadi menarik dalam beberapa pekan terakhir, karena ternyata berkaitan dengan ucapan yang diungkapkan oleh beberapa petinggi negara yang sempat dilansir di koran, kemudian dibantah sendiri oleh mereka, juga di koran.

Pertama, 1 Mei 2006 lalu ketika demo buruh yang begitu besar di Jakarta. 1 Mei yang diperingati sebagai hari buruh, alias May Day memang jadi waktu bagi para buruh yang selama ini termarjinalkan untuk berdemo demi memperbaiki nasip mereka yang selama terpinggirkan, dan perannya dianggap tidak terlalu besar. Saat itu, salah satu anggota DPR menyatakan bahwa mereka menerima aspirasi buruh, lalu Anggota DPR yang juga tim yang ngurusi revisi undang-undang tentang buruh menyatakan bakal menghentikan revisi yang dianggap tidak berpihak kepada buruh itu.

Tetapi, tidak berselang terlalu lama ketia Dewan Perwakilan Rakyat mengatakan bahwa itu hanya pernyata pribadi anggota dewan, meski yang mengatakan itu tim. Lalu, kemudian ada pernyataan dari pemerintah, bawah revisi tetap dilaksanakan. Kemudian, demo bertambah seru, bahkan sampai acara bakar-bakaran dan roboh-robohan pagar. Kemudian pak Ketua DPR menyatakan lagi, bahwa pemerintah yang membuat pernyataan yang memprovokasi buruh. Waduh, bagaiman ini pak Ketua DPR kok ikutan plin-plin dengan pernyataan yang selalu berubah-ubah.

Soal demo ini, berbuntutu panjang, lalu dari pemerintah sempat keluar pernyataan bahwa demo buruh ada yang menunggangi, untuk menjatuhkan kredibilitas pemerintah. Terus ada banyak politikus, yang menyerang pemerintah bahwa pemerintah tidak bisa saja membuat pernyataan seperti itu, ini namanya membela diri saja. Terus, sekali lagi pemerintah menyatakan bahwa tidak pernah menyatakan bahwa demo buruh ada yang menunggangi. Lho? kok jadi seperti saling bantan membantah dan mambuat yang bicara makin plin-plan saja.

Rupanya, para buruh yang tidak pernah plin-plan, tetap menyuarakan perbaikan nasib mereka.

Mungkin, plin-plan memang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita, bahkan sebagian besar warga Indonesia termasuk penganut faham plin-plan ini. Tiap hari sepertinya kita serung menemui fenomena plin-plan, seperti kita suka plin sama teman, pacar, istri, atau bahkan anak kita sendiri.

Dan anak pun berkata dengan entengnya kepada ibunya, "wah, mama plin nih, masa katanya melarang nonton kita menggosip, lah mama sendiri matengin acara tivi gosip." Lho?

Wednesday, May 03, 2006

Demokrasi Ala Mission: Impossible III

Di tengah tampilan aksi heroik yang tidak bisa diterima akal, juga adegan yang mengagumkan dalm film Mission: Impossible III atau dipopulerkan dengan sebutan M:i:III yang dibintangi aktor paling banyak menciptakan film box office, Tom Cruise, terdapat sebuah pesan yang sepertinya sepele, memanfaatkan musuh yang menebar kejahatan, menyerang negara yang dibantu musuh yang dibantu oleh Amerika Sendiri, lalu menggempurnya dengan dalih mengembangkan demokrasi dan kemanusiaan.

Meski inti film bukan itu, sukuel ketiga film yang kini dibesut oleh sutradara muda Hollywood, JJ Abrams, yang sebelymnya sukses menggarap film serial Lost dan Alias dan menampilkan kembali sosok lebih manusia dari seorang jagoan agen rahasia yang dierankan oleh Tim Cruise, tetap tidak bisa dilepas dari sisi pragmatisme Amerika Serikat yang memang ingin menguasi dunia dan tidak lagi memperdulikan bagaimana caranya, bahkan kalau perlu dengan membunuh orang terbaiknya sendiri.

Tulisan ini memang tidak bermasuk merensensi film itu, soalnya rensensi sih kasih aja penikmat film, meski saya sendiri termasuk penikmat film, yang kadang-kadang suka serius, tapi kadang suka yang benar-benar menghibur, namnya juga menacri hiburan. Namun, sebuah pesan yang disampaikan oleh salah JJ Abrams meski hanya sebuah kalimat, dan itu menjelang film ini berakhir menjadi pesan yang bisa jadi menjadi ciri khas politik Ameriak Serikat selama ini.

Dengan dalih demokrasi, mereka bisa menyerang atau merongrong sebuah negara di mana pun di muka bumi. Dalih itu, bisa dilakukan lewat tekanan politik, ekonomi, bahkan mungkin dengan mengerahkan senjata militer. Perang bukan pilihan yang tabu bagi negara super kuat itu untuk melegitimasi tindakannya dengan dalih untuk menyelamatkan dunia dari bahaya perang itu sendiri.

Di dilam ini, bagimana ambisinya seorang pemimpin agen rahasia yang sengaja membocorkan rahaia ke musuh yang selama ini menjual informasi rahasia, juga senjata berhabaya kepada negara-negara yang selama ini memang sangat berambisi memilikinya. Sang tokoh penjual ini bahkan digambarkan sangat licin, dan berpengaruh sehingga bisa dengan seenaknya memanfaatkan kemampuan ke tempat-tempat yang seharusnya menjadi sentra penyuara perdamainan dengan Vatican.

Arogansi, kemampuan, dan semua yang serba lebih dari negara paling berkuasa du dunia saat ini memang terlihat bagimana mereka menggangp kecil bangsa lain di dunia. Amerika seakan paliang mampu dan setiap keinginannya tidak mungkin tidak tercapai dan tidak akan ada yang bisa menghalanginya.

Meski dari film ini, tidak semua pemimpin Amerika seperti itu. Bahkan tokoh utamanya, Ethan Hunt yang diperankan oleh Tom Cruise terlihat begitu manusiawi, bahkan sangat ingin menjadi manusia biasa, sampai dia rela menyembunyikan identitas aslinya kepada yang pacar yang akhirnya dia kawini, bahkan dia hanya seorang pegawai transportasi jalan tol.