Bisnis Bencana
Setiap kejadian selalu ada hikmahnya, bahkan keadaan paling buruk pun selalu ada hikmahnya. Seperti itulah pesan guru agama saat kita masih kecil. Pesan seperti itu seperti "biasa" saja, hanya sekedar penghibur, atau mungkin cuma sekedar basa-basi dalam kehidupan kita. Bisa jadi memang demikian, karena kita dulu diajar seperti itu, meski mungkin ada makna yang lebih dalam lagi. Siapa tau?
Setidaknya, kenyataan seperti ini terlihat benar memang "hikmah" itu. Paling jelas dan nampak di depan mata, saat bencana tsunami di Aceh akhir 2004 lalu. Bencana maha dahsyat itu, selain membawa hikmah kita menjadi lebih dekat dengan Tuhan, juga rasa persaudaraan, juga menjadi lebih tumbuh lagi.
Namun, ada suatu "hikmah" lain, meski kedengarannya sangat ironis, yakni sebuah peluang bisnis maha besar yang nampak di depan mata untuk membangun Aceh yang luluh lantak itu. Bantuan yang begitu besar mengalir dari penjuru dunia, memang begitu besar. Nilainya mungkin tidak pernah terbayangkan, mungkin mencapai puluhan trilun, atau bahkan ratusan triliun rupiah.
Dana yang besar itu, sudah pasti menjadi peluang tersendiri. Banyak perusahaan baru bermunculan dengan, baik itu yang menjadi kontraktor, sub kontraktor, atau hanya sekedar broker dalam pembangunan kembali Aceh yang berasal dari dana-dana bantuan di seluruh dunia itu.
Dan pemnadangan kontras pun terjadi ketika banyak lembaga-lembaga bantuan tadi mulai bekerja membangun Aceh yang hancur. Mereka bekerja seperti sebuah perusahaan, yang membangun secara sitematis, begitu juga fasilitasnya. Miliaran dana mereka habiskan untuk biaya operasional saja. Deretan mobil mewah banyak berkeliaran di sana sebagai sarana transportasinya.
Ada sebuah perusahaan yang khusus melakukan kerja hanya dengan menjadi broker, mulai dari usaha mencari bahan baku, menjadi broker hanya urusan transportasi berubah menjadi sebuah perusahaan besar. Perusahaan baru ini, mampu berkantor di perkatoran elit di Jakarta, dan membawai banyak pegawai dengan memanfaatkan bantuan asing tadi.
Memang seperti sebuah anomali, saat bencana itu muncul, bahkan seperti perang bekecamuk di sebuah daerah konflik, dan harus ada pasukan keamaanan, yang mungkin dari seluruh dunia, sebuah peluang bisnis besar muncul di situ. Peluang dari hal-hal kecil saja, seperti untuk urusan sabun, shampoo, alat cukur sudah pasti dibutuhkan oleh para tentara tadi.
Ini belum termasuk kebutuhan utama, seperti logistik makanan pokok, atau pasokan minyak, buat alat-alat berat.
Bencana memang bisa menjadi sebuah bisnis, termasuk bisnis media yang begitu gencar memberitakan bencana.
Setidaknya, kenyataan seperti ini terlihat benar memang "hikmah" itu. Paling jelas dan nampak di depan mata, saat bencana tsunami di Aceh akhir 2004 lalu. Bencana maha dahsyat itu, selain membawa hikmah kita menjadi lebih dekat dengan Tuhan, juga rasa persaudaraan, juga menjadi lebih tumbuh lagi.
Namun, ada suatu "hikmah" lain, meski kedengarannya sangat ironis, yakni sebuah peluang bisnis maha besar yang nampak di depan mata untuk membangun Aceh yang luluh lantak itu. Bantuan yang begitu besar mengalir dari penjuru dunia, memang begitu besar. Nilainya mungkin tidak pernah terbayangkan, mungkin mencapai puluhan trilun, atau bahkan ratusan triliun rupiah.
Dana yang besar itu, sudah pasti menjadi peluang tersendiri. Banyak perusahaan baru bermunculan dengan, baik itu yang menjadi kontraktor, sub kontraktor, atau hanya sekedar broker dalam pembangunan kembali Aceh yang berasal dari dana-dana bantuan di seluruh dunia itu.
Dan pemnadangan kontras pun terjadi ketika banyak lembaga-lembaga bantuan tadi mulai bekerja membangun Aceh yang hancur. Mereka bekerja seperti sebuah perusahaan, yang membangun secara sitematis, begitu juga fasilitasnya. Miliaran dana mereka habiskan untuk biaya operasional saja. Deretan mobil mewah banyak berkeliaran di sana sebagai sarana transportasinya.
Ada sebuah perusahaan yang khusus melakukan kerja hanya dengan menjadi broker, mulai dari usaha mencari bahan baku, menjadi broker hanya urusan transportasi berubah menjadi sebuah perusahaan besar. Perusahaan baru ini, mampu berkantor di perkatoran elit di Jakarta, dan membawai banyak pegawai dengan memanfaatkan bantuan asing tadi.
Memang seperti sebuah anomali, saat bencana itu muncul, bahkan seperti perang bekecamuk di sebuah daerah konflik, dan harus ada pasukan keamaanan, yang mungkin dari seluruh dunia, sebuah peluang bisnis besar muncul di situ. Peluang dari hal-hal kecil saja, seperti untuk urusan sabun, shampoo, alat cukur sudah pasti dibutuhkan oleh para tentara tadi.
Ini belum termasuk kebutuhan utama, seperti logistik makanan pokok, atau pasokan minyak, buat alat-alat berat.
Bencana memang bisa menjadi sebuah bisnis, termasuk bisnis media yang begitu gencar memberitakan bencana.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home