Demokrasi Ala Mission: Impossible III
Di tengah tampilan aksi heroik yang tidak bisa diterima akal, juga adegan yang mengagumkan dalm film Mission: Impossible III atau dipopulerkan dengan sebutan M:i:III yang dibintangi aktor paling banyak menciptakan film box office, Tom Cruise, terdapat sebuah pesan yang sepertinya sepele, memanfaatkan musuh yang menebar kejahatan, menyerang negara yang dibantu musuh yang dibantu oleh Amerika Sendiri, lalu menggempurnya dengan dalih mengembangkan demokrasi dan kemanusiaan.
Meski inti film bukan itu, sukuel ketiga film yang kini dibesut oleh sutradara muda Hollywood, JJ Abrams, yang sebelymnya sukses menggarap film serial Lost dan Alias dan menampilkan kembali sosok lebih manusia dari seorang jagoan agen rahasia yang dierankan oleh Tim Cruise, tetap tidak bisa dilepas dari sisi pragmatisme Amerika Serikat yang memang ingin menguasi dunia dan tidak lagi memperdulikan bagaimana caranya, bahkan kalau perlu dengan membunuh orang terbaiknya sendiri.
Tulisan ini memang tidak bermasuk merensensi film itu, soalnya rensensi sih kasih aja penikmat film, meski saya sendiri termasuk penikmat film, yang kadang-kadang suka serius, tapi kadang suka yang benar-benar menghibur, namnya juga menacri hiburan. Namun, sebuah pesan yang disampaikan oleh salah JJ Abrams meski hanya sebuah kalimat, dan itu menjelang film ini berakhir menjadi pesan yang bisa jadi menjadi ciri khas politik Ameriak Serikat selama ini.
Dengan dalih demokrasi, mereka bisa menyerang atau merongrong sebuah negara di mana pun di muka bumi. Dalih itu, bisa dilakukan lewat tekanan politik, ekonomi, bahkan mungkin dengan mengerahkan senjata militer. Perang bukan pilihan yang tabu bagi negara super kuat itu untuk melegitimasi tindakannya dengan dalih untuk menyelamatkan dunia dari bahaya perang itu sendiri.
Di dilam ini, bagimana ambisinya seorang pemimpin agen rahasia yang sengaja membocorkan rahaia ke musuh yang selama ini menjual informasi rahasia, juga senjata berhabaya kepada negara-negara yang selama ini memang sangat berambisi memilikinya. Sang tokoh penjual ini bahkan digambarkan sangat licin, dan berpengaruh sehingga bisa dengan seenaknya memanfaatkan kemampuan ke tempat-tempat yang seharusnya menjadi sentra penyuara perdamainan dengan Vatican.
Arogansi, kemampuan, dan semua yang serba lebih dari negara paling berkuasa du dunia saat ini memang terlihat bagimana mereka menggangp kecil bangsa lain di dunia. Amerika seakan paliang mampu dan setiap keinginannya tidak mungkin tidak tercapai dan tidak akan ada yang bisa menghalanginya.
Meski dari film ini, tidak semua pemimpin Amerika seperti itu. Bahkan tokoh utamanya, Ethan Hunt yang diperankan oleh Tom Cruise terlihat begitu manusiawi, bahkan sangat ingin menjadi manusia biasa, sampai dia rela menyembunyikan identitas aslinya kepada yang pacar yang akhirnya dia kawini, bahkan dia hanya seorang pegawai transportasi jalan tol.
Meski inti film bukan itu, sukuel ketiga film yang kini dibesut oleh sutradara muda Hollywood, JJ Abrams, yang sebelymnya sukses menggarap film serial Lost dan Alias dan menampilkan kembali sosok lebih manusia dari seorang jagoan agen rahasia yang dierankan oleh Tim Cruise, tetap tidak bisa dilepas dari sisi pragmatisme Amerika Serikat yang memang ingin menguasi dunia dan tidak lagi memperdulikan bagaimana caranya, bahkan kalau perlu dengan membunuh orang terbaiknya sendiri.
Tulisan ini memang tidak bermasuk merensensi film itu, soalnya rensensi sih kasih aja penikmat film, meski saya sendiri termasuk penikmat film, yang kadang-kadang suka serius, tapi kadang suka yang benar-benar menghibur, namnya juga menacri hiburan. Namun, sebuah pesan yang disampaikan oleh salah JJ Abrams meski hanya sebuah kalimat, dan itu menjelang film ini berakhir menjadi pesan yang bisa jadi menjadi ciri khas politik Ameriak Serikat selama ini.
Dengan dalih demokrasi, mereka bisa menyerang atau merongrong sebuah negara di mana pun di muka bumi. Dalih itu, bisa dilakukan lewat tekanan politik, ekonomi, bahkan mungkin dengan mengerahkan senjata militer. Perang bukan pilihan yang tabu bagi negara super kuat itu untuk melegitimasi tindakannya dengan dalih untuk menyelamatkan dunia dari bahaya perang itu sendiri.
Di dilam ini, bagimana ambisinya seorang pemimpin agen rahasia yang sengaja membocorkan rahaia ke musuh yang selama ini menjual informasi rahasia, juga senjata berhabaya kepada negara-negara yang selama ini memang sangat berambisi memilikinya. Sang tokoh penjual ini bahkan digambarkan sangat licin, dan berpengaruh sehingga bisa dengan seenaknya memanfaatkan kemampuan ke tempat-tempat yang seharusnya menjadi sentra penyuara perdamainan dengan Vatican.
Arogansi, kemampuan, dan semua yang serba lebih dari negara paling berkuasa du dunia saat ini memang terlihat bagimana mereka menggangp kecil bangsa lain di dunia. Amerika seakan paliang mampu dan setiap keinginannya tidak mungkin tidak tercapai dan tidak akan ada yang bisa menghalanginya.
Meski dari film ini, tidak semua pemimpin Amerika seperti itu. Bahkan tokoh utamanya, Ethan Hunt yang diperankan oleh Tom Cruise terlihat begitu manusiawi, bahkan sangat ingin menjadi manusia biasa, sampai dia rela menyembunyikan identitas aslinya kepada yang pacar yang akhirnya dia kawini, bahkan dia hanya seorang pegawai transportasi jalan tol.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home