sekedar klangenan menulis

Memang nggak bermaksud serius. Renggangkan otot, biar bicara enak, kalau bisa mudah didengar dan ada yang mendengar. Seperti balsen, mudah-mudahan bisa sedikit meringankan penyakit ringan, mulai pening, masuk angin, atau ngantuk.

Saturday, December 20, 2008

Negeri 1001 Isu

Soal kisah-kisah lucu yang mungkin bisa menandingi kisah 1001 malam ala Abu Nawas, minggu-minggu ini sepertinya juga terjadi di negeri kita, Indonesia. Dimulai dengan silang pendapat soal rencana pengurangan subsidi BBM atau tepatnya kenaikan harga BBM, yang akhirnya benar-benar naik, diikuti berbagai demo sampai ke pelosok negeri, sampai yang paling mutakhir tragedi Monas antara Front Pembela Islam (FPI) dengan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan rbagai demo sampai ke Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).

Saat kenaikan BBM akhirnya benar-benar terjadi, ribuan isu bergulir. Ada lawan politik yang memanfaatkan dengan kampanye menyerang, atau lagi parpol membuka posko kesehatan karena korban BBM, serta banyak pemanfaatan lain. Itu belum ditambah saling pendapat para pengamat yang mendukung dan menolak, sampai alasan-alasan yang terkadang konyol keluar dari para pejabat pemerintah sendiri.

Namun, semua itu kemudian berubah ketika akhirnya ada tragedi monas. Secara berombongan, hampir semua media di Indonesia, baik cetak, televisi, sampai internet, beramai-ramai menulis kasus tersebut. Mulai dari penagkapan anggota FPI, sampai pencatuman status buron salah satu simpatisan FPI karena dijadikan tersangka dalam tragedi itu.cLalu, semua itu berkembang menjadi pusaran isu yang hilir-mudik dengan banyak teori, bahkan sampai teori konspirasi. Awalnya, demo BBM juga sempat diisukan telah tidak murni lagi. Menurut isu tersebut, ada banyak mantan pejabat negeri ini yang sengaja memanas-manasi demo tersebut. Lalu ada isu lagi, demo tersebut telah disusupi oleh agen-agen asing.

Saat tragedi monas pacah, lalu semua media beramai-ramai mengangkat berita ini. Dalam beberapa hari, kasus monas ini telah mengalahkan berita-berita serta demo kenaikan BBM. Lalu, isu pun merebak kemana-mana. Ada yang bilang tragedi monas sengaja diletupkan oleh pemerintah, biar keributan soal kenaikan BBM mereda. Bahkan ada lagi teori konspirasi bahwa semua itu didalangi oleh agen asing, dengan mengangkat isu Hak Azasi Manusia (HAM), dan berbagai isu lain termasuk isu kenapa kok polisi seperti datang terlambat dalam menangani demo tersebut, sehingga terjadi tragedi itu. Lagi-lagi isu merebak kemana-mana sampai banyak pembaca, penonton, serta pendengar tidak tau pasti mana benar-benar berita sesuai kejadian atau hanya rekayasa belaka. Lagi-lagi isu bermunculan.

Sepertinya, sejak kebebasan media yang terjadi sejak 10 tahun lalu, saat reformasi pertama kali ditabuh genderangnya, isu-isu memang berkeliaran bebas tanpa kita tidak tau siapa yang memulai dan mengontrolnya. Jadi mempertahankan satu isu saja, misalnya soal kenaikan BBM beberapa waktu lalu, atau penangkapan koruptor oleh KPK, akan sulit untuk terus dipertahankan, Ketika sebuah kasus besar lagi meledak, isu pun bergeser kearah baru lagi. Dan jutaan isu bakal kembali mendatangi kita.

Isu yang datang memang begitu liar, jadi nikmatilah isu-isu tersebut yang akhirnya menjadi makanan sehari-hari, dan tinggal kita mau memilih mana yang isu benar-benar bergisi dan sehat untuk dikonsumsi serta dan mana yang benar-benar sampah.

Akhirnya, untuk sejenak selamat berakhir pekan semoga ada isu yang lebih menyehatkan, setidaknya bisa kita lakukan dengan menikmati tayangan Piala Eropa atau Euro 2008 di Austria dan Swiss sampai akhir Juni ini, meski harus begadang malam-malam.

Jiplak

Seorang teman protes, ketika lagu Munajat Cinta yang diciptakan musisi Ahmad Dhani meraih SCTV Music Award pekan lalu. Soalnya, lagu yang cukup manis ini, bahkan anak-anak di bawah 3 tahun pun sudah ada yang bisa menghapal lagu ini ternyata secara jelas-jelas menjiplak lagu, State of Grace dari Liquid Tension Experiment yang dimotori John Petruci, gitaris grup metal Dream Theater.

Urusan jiplak-menjiplak dalam industri “seni” - baca musik, film, novel, sampai sinteron– sepertinya memang sudah hal yang wajar. Para penjiplak, yang rata-ratan banyak musisi atau sutradara film papan atas di Indonesia ini, kadang dilakan dengan halus misalnya hanya mengambil intronya saja, namun banyak juga yang hampir penuh sampai refrainnya. Mungkin kalau dalam bahas musik sampai chord-chordnya sama semuanya.

Dalam keseharian, sebagai penikmat musik dan film memang banyak jiplakan yang kadang-kadang kasar banget. Seperti lagu milik, supergrup Yes, Owner of Lonely Heart yang sempat dicontek habis oleh Ahmad Albar ciptaan Ian Antono, dengan judul Kemana. Lalu sering juga dalam tayangan film tv, juga mengadaptasi kisah-kisah film Hollywood. Saya tidak tau apakah kisah itu adaptasi atau bukan, soalnya kalau adaptasi tentunya di depan disebutkan dengan jelas. Namun, dalam kasus FTV yang diputar di stasiun televisi swasta itu, sama sekali tidak disebutkan, malah ada penulis skenario dan penulis cerita segala. Kisahnya kalau tidak salah sama persis dengan film While You’re Sleeping film yang dibintangi Sandra Bullock.

Yah emang sudah jamak kali di sini main jiplak….tanpa pengembangan yang lebih bagus lagi…

Kabinet Tukang Ojek

Tukang ojek yang satu ini mungkin politisi handal. Dari obrolannya, dia punya visi sangat jauh ke depan, jujur, namun akhirnya terlempar dari panggung politik dan menggeluti profesi barunya sebagai tukang ojek. Umurnya, seperti dia akui lebih dari 60 tahun. Dari kerut di wajahnya, terlihta guratan-guratan kulit yang sudah dimakan usia, mulai mengeriput meskipun kesan keras masih terlihat nambah. Intonasi suaranya terdengar beratm dan meledak-ledak dalam membuka pembicaraan.

Setiap memanfaatkan jasa ojek dari kawasan Blok M menuju Kuningan, bapak tua ini, begitu bisia saya menyebutnya, memulai pembicaraan tidak jauh-jauh dengan urusan politik. Visi politiknya begitu jelas dalam berbicara tentang tokoh-tokoh nasioal. Dia seperti bisa membaca pikiran para tokoh-tokoh yang dia sebutnya. Siapa yang tepat menjadi presiden, wakil presiden, menteri dalam negeri, menteri social, menteri ekonomi, sampai menteri pertanian. Dan nama-nama yang dia sebut untuk menjadi cabinet versi tukang ojek ini, kalau dipikir secara awam cukup menjaikan untuk membuat Indonesia menjadi lebih maju dan lebih jujur.

“Bila mereka yang memjalankan roda pemereintahan ini, Indonesia akan menjadi Negara yang makmur dan besar. Negeri ini sanga kaya, tapi tidak ada yang bisa mengurus. Semuanya pada berebut posisi untuk mempertebal kantongnya sendiri. Semuanya, mau memperkaya diri sendiri, entah itu DPR atau Pemerintah,” keluh si Babe Ojek, begitu dia biasa dipanggil pelanggan dan teman-teman sesama pengojek.

Babe ojek satu ini, analisisnya tidak kalah tajam dengan para politisi kawakan atau pengamat politik dan sering berbusa-busa kalau memberi komentar di televisi. Apalagi disbanding politisi yang sekarang duduk di kursi empuk dalam kabinet atau di Senayan sana, analisinya malah lebih tajam, tidak berputar-putar dan seringkali hanya mencari alasan atau cari pembenaran saja.

Bagi dia, pemerintahan sekarang hanya bisa memberi alasan tanpa melakukan kebijakan yang jelas dan langsung bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Perbaikan, baik dari sisi ekonomi, pendidikan, kesehatan, bahkan perbaikan fisik secara langsung sama sekali tidak terlihat ada kemajuan disbanding tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah sekarang seperti hanya menjalankan argo yang sudah jalan, dan menggunakan resep-resep kuno dalam menyelesaikan setiap masalah.

Hingga kini, tidak ada berita bagus yang menunjukkan bahkan Indonesia telah melakukan gebrakan yang sangat fenomenal dalam usaha membawa negeri ini dalam kemajuan yang berarti. Semua masih sama dengan tahun-tahun lalu, korupsi masih terus terjadi, birokrasi masih berbelit-belit. Semua itu masih diperburuk dengan gaya pemerintah yang suka berfikir instant. Sehingga semua kebijakan sering dibuat tanpa dipikirkan dengan vsi jauh ke depan, tetapi hanya program instant yang hanya mengatasi masalah sesaat lalu berubah menjadi masalah yang bertumpuk di kemudian hari.

Banyak kebijakan, mulai urusan pendidikan, pangan, sampai minyak sering dibuat tanpa visi yang jelas jauh ke depan. Urusan pendidikan, yang menjadi tulang punggung kemajuan Negara di masa mendatang, sering hanya menjaid lading sebuah proyek danmencari muka para pemimpinnya. Pendidikan berubah menjadi lading bisnis, bukan menjadi lading untuk menciptakan anak-anak terdidik untuk siap membawa Indonesia ke masa depan lebih bagus agar mereka bisa memanfaatkan kekayaan Indonesia yang tidak ternilai ini.

Berkaca pada pemerintahan Amerika Serikat –kalau memang ada yang bagus bolehlah ditiru– mereka punya pemikir yang sangat pintar, dengan rentangusia tua sampai muda, yang siap diadu argumentasi dalam gedung yang sangat dikenal sebagai West Wing untuk mencari solusi terbaik dalam membuat kebijakan negeri itu. Setiap presiden terpilih akan mendengarkan, setiap masukan-masukan mereka lalu dituangkan dalam sebuah kebijakan yang terukur dan dengan jujur dilaksanakan.

Semua itu memang kembali kepada para pemimpinnya. Apakah mereka akan melaksanakan semua masukan-masukan itu. Sehingga, Indonesia akan tau kapan harga-hraga bahan pokok dunia akan naik, dan kita sudah siap dengan produksi yang berlimpah, kapan harga minyak bakal naik, dan kita juga sudah siap dengan produksi yang berlimpah. Dan semua itu akan membuat negara ini menjadi kaya, dan membuat kaya semua rakyatnya .Iya, kapan itu?

Dan babe ojek itu mulai berzig-zag mencari jalan dengan terus tancap gas agar sesegera mungkin sampai tujuan.