Negeri 1001 Isu
Soal kisah-kisah lucu yang mungkin bisa menandingi kisah 1001 malam ala Abu Nawas, minggu-minggu ini sepertinya juga terjadi di negeri kita, Indonesia. Dimulai dengan silang pendapat soal rencana pengurangan subsidi BBM atau tepatnya kenaikan harga BBM, yang akhirnya benar-benar naik, diikuti berbagai demo sampai ke pelosok negeri, sampai yang paling mutakhir tragedi Monas antara Front Pembela Islam (FPI) dengan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan rbagai demo sampai ke Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).
Saat kenaikan BBM akhirnya benar-benar terjadi, ribuan isu bergulir. Ada lawan politik yang memanfaatkan dengan kampanye menyerang, atau lagi parpol membuka posko kesehatan karena korban BBM, serta banyak pemanfaatan lain. Itu belum ditambah saling pendapat para pengamat yang mendukung dan menolak, sampai alasan-alasan yang terkadang konyol keluar dari para pejabat pemerintah sendiri.
Namun, semua itu kemudian berubah ketika akhirnya ada tragedi monas. Secara berombongan, hampir semua media di Indonesia, baik cetak, televisi, sampai internet, beramai-ramai menulis kasus tersebut. Mulai dari penagkapan anggota FPI, sampai pencatuman status buron salah satu simpatisan FPI karena dijadikan tersangka dalam tragedi itu.cLalu, semua itu berkembang menjadi pusaran isu yang hilir-mudik dengan banyak teori, bahkan sampai teori konspirasi. Awalnya, demo BBM juga sempat diisukan telah tidak murni lagi. Menurut isu tersebut, ada banyak mantan pejabat negeri ini yang sengaja memanas-manasi demo tersebut. Lalu ada isu lagi, demo tersebut telah disusupi oleh agen-agen asing.
Saat tragedi monas pacah, lalu semua media beramai-ramai mengangkat berita ini. Dalam beberapa hari, kasus monas ini telah mengalahkan berita-berita serta demo kenaikan BBM. Lalu, isu pun merebak kemana-mana. Ada yang bilang tragedi monas sengaja diletupkan oleh pemerintah, biar keributan soal kenaikan BBM mereda. Bahkan ada lagi teori konspirasi bahwa semua itu didalangi oleh agen asing, dengan mengangkat isu Hak Azasi Manusia (HAM), dan berbagai isu lain termasuk isu kenapa kok polisi seperti datang terlambat dalam menangani demo tersebut, sehingga terjadi tragedi itu. Lagi-lagi isu merebak kemana-mana sampai banyak pembaca, penonton, serta pendengar tidak tau pasti mana benar-benar berita sesuai kejadian atau hanya rekayasa belaka. Lagi-lagi isu bermunculan.
Sepertinya, sejak kebebasan media yang terjadi sejak 10 tahun lalu, saat reformasi pertama kali ditabuh genderangnya, isu-isu memang berkeliaran bebas tanpa kita tidak tau siapa yang memulai dan mengontrolnya. Jadi mempertahankan satu isu saja, misalnya soal kenaikan BBM beberapa waktu lalu, atau penangkapan koruptor oleh KPK, akan sulit untuk terus dipertahankan, Ketika sebuah kasus besar lagi meledak, isu pun bergeser kearah baru lagi. Dan jutaan isu bakal kembali mendatangi kita.
Isu yang datang memang begitu liar, jadi nikmatilah isu-isu tersebut yang akhirnya menjadi makanan sehari-hari, dan tinggal kita mau memilih mana yang isu benar-benar bergisi dan sehat untuk dikonsumsi serta dan mana yang benar-benar sampah.
Akhirnya, untuk sejenak selamat berakhir pekan semoga ada isu yang lebih menyehatkan, setidaknya bisa kita lakukan dengan menikmati tayangan Piala Eropa atau Euro 2008 di Austria dan Swiss sampai akhir Juni ini, meski harus begadang malam-malam.
Saat kenaikan BBM akhirnya benar-benar terjadi, ribuan isu bergulir. Ada lawan politik yang memanfaatkan dengan kampanye menyerang, atau lagi parpol membuka posko kesehatan karena korban BBM, serta banyak pemanfaatan lain. Itu belum ditambah saling pendapat para pengamat yang mendukung dan menolak, sampai alasan-alasan yang terkadang konyol keluar dari para pejabat pemerintah sendiri.
Namun, semua itu kemudian berubah ketika akhirnya ada tragedi monas. Secara berombongan, hampir semua media di Indonesia, baik cetak, televisi, sampai internet, beramai-ramai menulis kasus tersebut. Mulai dari penagkapan anggota FPI, sampai pencatuman status buron salah satu simpatisan FPI karena dijadikan tersangka dalam tragedi itu.cLalu, semua itu berkembang menjadi pusaran isu yang hilir-mudik dengan banyak teori, bahkan sampai teori konspirasi. Awalnya, demo BBM juga sempat diisukan telah tidak murni lagi. Menurut isu tersebut, ada banyak mantan pejabat negeri ini yang sengaja memanas-manasi demo tersebut. Lalu ada isu lagi, demo tersebut telah disusupi oleh agen-agen asing.
Saat tragedi monas pacah, lalu semua media beramai-ramai mengangkat berita ini. Dalam beberapa hari, kasus monas ini telah mengalahkan berita-berita serta demo kenaikan BBM. Lalu, isu pun merebak kemana-mana. Ada yang bilang tragedi monas sengaja diletupkan oleh pemerintah, biar keributan soal kenaikan BBM mereda. Bahkan ada lagi teori konspirasi bahwa semua itu didalangi oleh agen asing, dengan mengangkat isu Hak Azasi Manusia (HAM), dan berbagai isu lain termasuk isu kenapa kok polisi seperti datang terlambat dalam menangani demo tersebut, sehingga terjadi tragedi itu. Lagi-lagi isu merebak kemana-mana sampai banyak pembaca, penonton, serta pendengar tidak tau pasti mana benar-benar berita sesuai kejadian atau hanya rekayasa belaka. Lagi-lagi isu bermunculan.
Sepertinya, sejak kebebasan media yang terjadi sejak 10 tahun lalu, saat reformasi pertama kali ditabuh genderangnya, isu-isu memang berkeliaran bebas tanpa kita tidak tau siapa yang memulai dan mengontrolnya. Jadi mempertahankan satu isu saja, misalnya soal kenaikan BBM beberapa waktu lalu, atau penangkapan koruptor oleh KPK, akan sulit untuk terus dipertahankan, Ketika sebuah kasus besar lagi meledak, isu pun bergeser kearah baru lagi. Dan jutaan isu bakal kembali mendatangi kita.
Isu yang datang memang begitu liar, jadi nikmatilah isu-isu tersebut yang akhirnya menjadi makanan sehari-hari, dan tinggal kita mau memilih mana yang isu benar-benar bergisi dan sehat untuk dikonsumsi serta dan mana yang benar-benar sampah.
Akhirnya, untuk sejenak selamat berakhir pekan semoga ada isu yang lebih menyehatkan, setidaknya bisa kita lakukan dengan menikmati tayangan Piala Eropa atau Euro 2008 di Austria dan Swiss sampai akhir Juni ini, meski harus begadang malam-malam.
