Mesin Uang Bernama Hiburan
"Entertainment itu paling mudah mencari duitnya. Bahkan dengan gratisan, kita bisa memperoleh uang banyak." Begitu kisah seorang teman yang gencar membuat majalan gratisan alais free magz yang begitu menjamur dikota-kota besar Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan beberapa tempat lain.
Mungkin, hiburan bagi masyarat perkotaan yang kata penelitian memiliki tingkat stress sanagt tinggi, memang haus akan hiburan, tidak peduli apakah benar-baner menghibur dan menghilangkan stress atau malah stresnya nambah.
Soal itu, tidak usah dibicrakan lebih jauh, namun soal perputaran uang yang beredar di bisnis hiburan ini, waduh begitu besar, dan begitu beragam,mulai dari urusan film, restoran, salon, sampai sampai panti pijat hingga pasar malam.
Makanya tak heran, menjamurnya majalah-majalah gratis yang dipenuhi iklan hiburan begitu menjamur, yang menurut sorang teman hampir mencapai 100-an penerbit, hanya di Jakarat saja yang terbit minggu, dwi mingguan, sampai bulanan.
Di sisi lain, dunia hiburan ini, juga berkembang, mulai dari urusan pentas kesenian, dugem, konser musik, sampai pada urusan film.
Untuk yang satu ini, dunia perfilm-an memang mulai bangun dari pingsan. Sejak 5 tahun terakhir, produksi film nasional memang terus menunjukkan gejala makin tumbuh, dengan ditandai produksi yang terus berkembang. Meski urusan kualitas masih belum kelihatan, namun untuk urusan bisnis sudah menunjukkan adanya peluang yang cukup terbuka.
Bisnis hiburan ini memang benar-benar menggiurkan, sebagai pembanding, meski kurang pantas, di Hollywood menurut Asosiasi Film AS (MPAA) mengemukakan pemasukan dari hasil penjualan karcis film mencapi 25,8 miliar dolar pada 2006. Kalau dirupiahnya, angkanya sungguh sangat fantastis, mencapai sekitar 250 triliun. Wahhh!
Namun, untuk sampai ke sana, mungkin bagi Indonesia masih jauh sekali, atau bahkanseperti tidak mungkin.
Mungkin, hiburan bagi masyarat perkotaan yang kata penelitian memiliki tingkat stress sanagt tinggi, memang haus akan hiburan, tidak peduli apakah benar-baner menghibur dan menghilangkan stress atau malah stresnya nambah.
Soal itu, tidak usah dibicrakan lebih jauh, namun soal perputaran uang yang beredar di bisnis hiburan ini, waduh begitu besar, dan begitu beragam,mulai dari urusan film, restoran, salon, sampai sampai panti pijat hingga pasar malam.
Makanya tak heran, menjamurnya majalah-majalah gratis yang dipenuhi iklan hiburan begitu menjamur, yang menurut sorang teman hampir mencapai 100-an penerbit, hanya di Jakarat saja yang terbit minggu, dwi mingguan, sampai bulanan.
Di sisi lain, dunia hiburan ini, juga berkembang, mulai dari urusan pentas kesenian, dugem, konser musik, sampai pada urusan film.
Untuk yang satu ini, dunia perfilm-an memang mulai bangun dari pingsan. Sejak 5 tahun terakhir, produksi film nasional memang terus menunjukkan gejala makin tumbuh, dengan ditandai produksi yang terus berkembang. Meski urusan kualitas masih belum kelihatan, namun untuk urusan bisnis sudah menunjukkan adanya peluang yang cukup terbuka.
Bisnis hiburan ini memang benar-benar menggiurkan, sebagai pembanding, meski kurang pantas, di Hollywood menurut Asosiasi Film AS (MPAA) mengemukakan pemasukan dari hasil penjualan karcis film mencapi 25,8 miliar dolar pada 2006. Kalau dirupiahnya, angkanya sungguh sangat fantastis, mencapai sekitar 250 triliun. Wahhh!
Namun, untuk sampai ke sana, mungkin bagi Indonesia masih jauh sekali, atau bahkanseperti tidak mungkin.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home