Filantropi
Mereka-mereka ini punya moto perusahaan sehat karyawan sejahtera. Karyawan diajak memikirkan bagaimana membuat perusahaan semakin kaya, dan cara tarbaik menikmati kekayaan itu bersama-sama. Mungkin, dalam dunia kapatilis, yang selama ini sangat mengagungkan kekayaan, tetap ada sisi manusiawi sebagi bagian dari kebenaran teori, semakin tinggi pendidikan, semakin bijak seseorang. Meski teori ini tidak sepenuhnya salah, tetapi tetap saja ada benarnya.
Sejak beberapa tahun belakangan ini, beberapa yayasan yang menyumbangkan kegiatan sosial di Indonesia memang lumayan besar. Sebenarnya, sejak zaman orde baru, kegiatan ini juga telah ada. Namun karena waktuitu iklimnya masih banyak nuansa kkn dalam sisi bisnis, kegiatan itu pun sepertinya tidak terlalu terbuka, bahkan banyak yang menengarai hanya menjadi akal licik untuk sebuah kepentingan semakin besar.
PT HM Samporna Tbk mungkin bisa dikatan sebagai pionir perusahaan yang menyisihkan keutungannnya kepada masyarakat dan lingkungan sosialnya. Dicanang tahun 2000, perusahaan rokok yang berbasis di Surabaya ini menyisihkan 2 persen dari setiap penjualannya dalam yayasan yang lebih banyak bergerak dalam pendidikan, Samporna Foundation. Pendirian yang merupakan ide dari bos Samporna waktu itu, yakni Putera Samporna memang telah memberikan kontribusi cukup besar dalam mendurung kemajuan dunia pendidikan.
2 persen dari penjualan memang angka yang tidak sedikit. Bila rata-rata per tahun Sampoerna mampu membubukan penjualan di atas Rp10 triliun, dana untuk yayasan dipastikan selalu lebih dari Rp20 miliar tiap tahun. Sebuah angka yang cukup besar untuk memberikan bantuan dunia pendidikan, seperti beasiswa, atau membiayai riset-riset dalam kemajuan pendidikan.
Filantropi yang dari bahasa Yunani, philein yang berarti cinta dan anthropos yang berarti manusia. Filantropi bisa kita pahami sebagai seseorang yang mencintai sesama manusia.
Selama ini, orang-orang terkaya dunia juga telah menjadi filantropi, katanya Bill Gates, pendiri dan bos Microsoft ini bahkan memiliki yayasan yang dikelola dari kekayaan Bill Gates dengan nilai sekitar Rp40 triliun pada 2005. Mendermakan kekayaan sebesar itu, bukan sebagai upaya mengelabuhi pajak, tetapi seperti yang di kemukakan, karena sudah menjadi tanggung jawab dia untuk membagikan apa yang dia miliki demi kemakmuran di muka bumi.
Yah, kemakmuran tanpa harus menindas orang lain. Sepertinya, jelek atau buruk sebuah ideologi politik, selalu tergantung pada manusianya.
Sejak beberapa tahun belakangan ini, beberapa yayasan yang menyumbangkan kegiatan sosial di Indonesia memang lumayan besar. Sebenarnya, sejak zaman orde baru, kegiatan ini juga telah ada. Namun karena waktuitu iklimnya masih banyak nuansa kkn dalam sisi bisnis, kegiatan itu pun sepertinya tidak terlalu terbuka, bahkan banyak yang menengarai hanya menjadi akal licik untuk sebuah kepentingan semakin besar.
PT HM Samporna Tbk mungkin bisa dikatan sebagai pionir perusahaan yang menyisihkan keutungannnya kepada masyarakat dan lingkungan sosialnya. Dicanang tahun 2000, perusahaan rokok yang berbasis di Surabaya ini menyisihkan 2 persen dari setiap penjualannya dalam yayasan yang lebih banyak bergerak dalam pendidikan, Samporna Foundation. Pendirian yang merupakan ide dari bos Samporna waktu itu, yakni Putera Samporna memang telah memberikan kontribusi cukup besar dalam mendurung kemajuan dunia pendidikan.
2 persen dari penjualan memang angka yang tidak sedikit. Bila rata-rata per tahun Sampoerna mampu membubukan penjualan di atas Rp10 triliun, dana untuk yayasan dipastikan selalu lebih dari Rp20 miliar tiap tahun. Sebuah angka yang cukup besar untuk memberikan bantuan dunia pendidikan, seperti beasiswa, atau membiayai riset-riset dalam kemajuan pendidikan.
Filantropi yang dari bahasa Yunani, philein yang berarti cinta dan anthropos yang berarti manusia. Filantropi bisa kita pahami sebagai seseorang yang mencintai sesama manusia.
Selama ini, orang-orang terkaya dunia juga telah menjadi filantropi, katanya Bill Gates, pendiri dan bos Microsoft ini bahkan memiliki yayasan yang dikelola dari kekayaan Bill Gates dengan nilai sekitar Rp40 triliun pada 2005. Mendermakan kekayaan sebesar itu, bukan sebagai upaya mengelabuhi pajak, tetapi seperti yang di kemukakan, karena sudah menjadi tanggung jawab dia untuk membagikan apa yang dia miliki demi kemakmuran di muka bumi.
Yah, kemakmuran tanpa harus menindas orang lain. Sepertinya, jelek atau buruk sebuah ideologi politik, selalu tergantung pada manusianya.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home