Jualan Sabun
Saat berbicara soal politik semua yang ada lama fikiran saakan-akan macet, terkunci, males, kalau tidak bisa dibilang sangat-sangat apatis. Dunia politik –dalam benar ini– seperti sebuah dunia penuh sandiwara, sinetron yang tidak lucu, tidak menghibur, bahkan bikin kepala tambah pusing kalau ikut membicarakannya.
Namun, jangan pernah akhirnya menyerah untuk sama sekali tidak menggunakan hal politik kita. Begitu kata banyak akademisi atau politisi yang sering terdengar, baik lewar radio atau televisi. Mundur tidak akan menyelesaikan bangsan ini dari keterpurukan, itu kata-kata yang terdengar 10 tahun lalu dan kemarin kata-kata ini masih juga terdengar. Jadi masih terpuruk saja.
Jadi, terus apa hubungan judul Jualan Sabun dengan urusan politik? Akhir pekan lalu, di kantor mengundang pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Effendy Ghazali dan bercerita tentang kacaunya komunikasi politik di negeri tercinta ini, Indonesia. Penggagas acara parodi politik, Republik Mimpi, secara terus terang saat ini kondisi komunikasi politik Indonesia, menurut teori komunikasi sudah bergerak dalam tiga C, yakni Consumerism, Celebritism, dan Cinism.
Apa yang terjadi dalam pemilihan langsng kepala daerah alias Pilakada sudah terlihat dengan jelas. Untuk mengenalkan seorang tokoh, bukan lagi karena jasa-jasa yang secara riil telah mereka lakukan untuk negara, terutama rakyatnya. Calon-calon itu akhirnya hanya dikenalkan dengan bombardir iklan, bisa melalui billboard, radio, televisi, juga cetak. Iklan-iklan “menjual diri” itu tidak ubahnya menjual produk obat-obatan yang seringkali “menipu”. Seperti kita melihat iklan obat sakit kepala, yang langsung sembuh setelah meminumnya. Dengan bombardir iklan-iklan seperti itu, bakal terlihat apakah mereka benar-benar menawarkan sebuah kejujuran atau tidak. Mereka menjual ke publik seperti cunsumer goods yang jadi bagian dari Cunsumerism.
Lalu Celebritism, nah ini juga bagian dari fenomena tadi. Karema iklan yang terkesan asal jual, dan berisi janji-janji, bisa menyembuhkan apa saja namun mereka menjadi dikenal. Akhirnya, meraka bak selebritis dadakan setelah melalu proses pengenalan secara instan lewat ruang publik dari berbagai media. Bahkan bak bintang Indonesian Idol, tokoh ini tiba-tiba saja memenuhi ruang publik yang kadang-kadang kita merasa bingung ketika tiba-tiba ada tokoh di provinsi mana yang muncul tiba-tiba di layar kaca dengan janji-janji kampanye seperti jualan sabun mandi atau sabun cuci. Yang, gaya selebritis tiba-tiba muncul di depan mata yang tidak tau siapa dia.
Dan semuanya bakal berbuah jadi Cinism, semuanya menjadi alergi dengan semua yang dibicarakan oleh para politisi. Bahkan yang paling benar pun, menjadi tidak penting lagi.
Benarkan? Wallahu A’lam
Namun, jangan pernah akhirnya menyerah untuk sama sekali tidak menggunakan hal politik kita. Begitu kata banyak akademisi atau politisi yang sering terdengar, baik lewar radio atau televisi. Mundur tidak akan menyelesaikan bangsan ini dari keterpurukan, itu kata-kata yang terdengar 10 tahun lalu dan kemarin kata-kata ini masih juga terdengar. Jadi masih terpuruk saja.
Jadi, terus apa hubungan judul Jualan Sabun dengan urusan politik? Akhir pekan lalu, di kantor mengundang pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Effendy Ghazali dan bercerita tentang kacaunya komunikasi politik di negeri tercinta ini, Indonesia. Penggagas acara parodi politik, Republik Mimpi, secara terus terang saat ini kondisi komunikasi politik Indonesia, menurut teori komunikasi sudah bergerak dalam tiga C, yakni Consumerism, Celebritism, dan Cinism.
Apa yang terjadi dalam pemilihan langsng kepala daerah alias Pilakada sudah terlihat dengan jelas. Untuk mengenalkan seorang tokoh, bukan lagi karena jasa-jasa yang secara riil telah mereka lakukan untuk negara, terutama rakyatnya. Calon-calon itu akhirnya hanya dikenalkan dengan bombardir iklan, bisa melalui billboard, radio, televisi, juga cetak. Iklan-iklan “menjual diri” itu tidak ubahnya menjual produk obat-obatan yang seringkali “menipu”. Seperti kita melihat iklan obat sakit kepala, yang langsung sembuh setelah meminumnya. Dengan bombardir iklan-iklan seperti itu, bakal terlihat apakah mereka benar-benar menawarkan sebuah kejujuran atau tidak. Mereka menjual ke publik seperti cunsumer goods yang jadi bagian dari Cunsumerism.
Lalu Celebritism, nah ini juga bagian dari fenomena tadi. Karema iklan yang terkesan asal jual, dan berisi janji-janji, bisa menyembuhkan apa saja namun mereka menjadi dikenal. Akhirnya, meraka bak selebritis dadakan setelah melalu proses pengenalan secara instan lewat ruang publik dari berbagai media. Bahkan bak bintang Indonesian Idol, tokoh ini tiba-tiba saja memenuhi ruang publik yang kadang-kadang kita merasa bingung ketika tiba-tiba ada tokoh di provinsi mana yang muncul tiba-tiba di layar kaca dengan janji-janji kampanye seperti jualan sabun mandi atau sabun cuci. Yang, gaya selebritis tiba-tiba muncul di depan mata yang tidak tau siapa dia.
Dan semuanya bakal berbuah jadi Cinism, semuanya menjadi alergi dengan semua yang dibicarakan oleh para politisi. Bahkan yang paling benar pun, menjadi tidak penting lagi.
Benarkan? Wallahu A’lam

0 Comments:
Post a Comment
<< Home