Bisnis Kontroversi
Sudah banyak buktinya, kontroversi memang manghasilkan sebuah bisnis yang sangat besar. Manusia yang dasarnya punya rasa ingin tau cukup besar, sering tidak bisa menahan gejolak untuk menikmati sebuah kontroversi. Kontroversi yang sering menghamburkan energi sangat besar, dan sering terbuang tidak berguna, namun tidak jarang energi itu masih bisa dinikmati dalam sebuah elemen bisnis yang sangat besar.
Kontroversi yang dulu pernah saya dengar saat masih muda, novel Ayat Ayat Setan karya Salman Rushdie yang menggemparkan. Novel yang isinya mempersonifikasikan Nabi Muhammad dalam novel yang jelas-jelas hanya imaginasi ini, malah mengundang kontroversi dan dinggap oleh sebagain besar umat Islam sebagai pelecehan terhadap Nabi Muhammad dan Umat Islam. Tak heran, sang penulis yang notabene juga beragama Islam dijatuhi hukuman mati oleh Ayatullah Khumaini yang waktu itu menjadi pemimpin Iran.
Akibat kontroversi itu, Ayat Ayat Setan menjadi laris luar biasa. Meski saat itu di Indonesia dilarang masuk, buku-buku dalam bentuk selundupan juga marak masuk. Semakin ditentang beredarnya novel ini, semakin besar rasa ingin tau orang untuk menikmatinya.
Begitu saat film Passion of Jesus Christ yang digarap Mel Gibson mengundang kontroversi saat diluncurkan. Film yang menggambarkan penyiksaan Jesus atau Nabi Isa menjelang kematiannya dari malam penculikannya, hingga siang hari penyiksaan juga mengundang kontroversi. Studia besar film di Amerika yang selama ini memproklamirkan dirinya sebagai negara paling sekular, malah banyak yang menolak mengedarkannya. Akhirnya, sebuah studio kecil yang berani mengedarkan, dan meledaklah film itu, karena kontroversi yang ditampilkannya.
Film ini memang menggambarkan penyiksaan luar biasa oleh Jesus yang dilakukan penguasa Romawi saat itu. Penculikan yang dibumbui oleh hasutan dari para Pendeta Yahudi memang sumpat menjadi kontroversi bahwa film ini Anti Yahudi. Dan bisa membangkitkan kemarahan umat Kristen bahwa pembunuhan Jesus merupakan intrik yang dilakukan para Pendeta Yahudi.
Karena menjadi kontroversi, film ini pun menjadi pembicaraan dimana-mana. Meski penggambaran penyiksaan Jesus sangat kejam, berdarah-darah, bahkan sangat sadis, penonton tetap ingin menikmatinya. Sekali lagi, kontroversi memang menjadi peluang bisnis sangat besar.
Lalu, kontroversi paling besar selama 2 tahun belakangan ini menjadi menyeruak akibat sebuah novel dengan Judul The Da Vinci Code yang ditulis oleh novelis Dan Brown. Sebuah kode yang terdapat dalam lukisan Leonardo Da Vinci, menjadi pembicaraan karena mampu menyihir jutaan pembaca bahwa, Jesus ternyata manusia biasa yang punya istri dan juga punya anak serta keturunan yang hidup hingga saat ini. Bagi penganut Katolik, novel ini bisa membuat jutaan umat Katolik di dunia dituduh berbohong dengan ajaran yang selama ini mereka anut.
Padahal novel ini, bagi pembaca seperti saya, kisahnya sangat menarik dan bikin gemas dan geregetan ingin cepat-cepat selesai kisah akhirnya.
Makanya, sejak kontroversi novel itu ada, puluhan buku terbit dan memberikan argumentasi bahwa apa yang diungkap dalam The Da Vinci Code hanyalah ilusi belaka. Dan lebih menggemaskan lagi, semua buku-buku yang menentang teori The Da Vinci Code yang selalu menjadi buku paling laris.
Kontroversi sepertinya mampu menyihir setiap orang dan membangkitkan rasa ingin tau yang sangat besar. Sebuah peluang bisnis sangat besar bakal lahir dari kontroversi itu.
Kontroversi yang dulu pernah saya dengar saat masih muda, novel Ayat Ayat Setan karya Salman Rushdie yang menggemparkan. Novel yang isinya mempersonifikasikan Nabi Muhammad dalam novel yang jelas-jelas hanya imaginasi ini, malah mengundang kontroversi dan dinggap oleh sebagain besar umat Islam sebagai pelecehan terhadap Nabi Muhammad dan Umat Islam. Tak heran, sang penulis yang notabene juga beragama Islam dijatuhi hukuman mati oleh Ayatullah Khumaini yang waktu itu menjadi pemimpin Iran.
Akibat kontroversi itu, Ayat Ayat Setan menjadi laris luar biasa. Meski saat itu di Indonesia dilarang masuk, buku-buku dalam bentuk selundupan juga marak masuk. Semakin ditentang beredarnya novel ini, semakin besar rasa ingin tau orang untuk menikmatinya.
Begitu saat film Passion of Jesus Christ yang digarap Mel Gibson mengundang kontroversi saat diluncurkan. Film yang menggambarkan penyiksaan Jesus atau Nabi Isa menjelang kematiannya dari malam penculikannya, hingga siang hari penyiksaan juga mengundang kontroversi. Studia besar film di Amerika yang selama ini memproklamirkan dirinya sebagai negara paling sekular, malah banyak yang menolak mengedarkannya. Akhirnya, sebuah studio kecil yang berani mengedarkan, dan meledaklah film itu, karena kontroversi yang ditampilkannya.
Film ini memang menggambarkan penyiksaan luar biasa oleh Jesus yang dilakukan penguasa Romawi saat itu. Penculikan yang dibumbui oleh hasutan dari para Pendeta Yahudi memang sumpat menjadi kontroversi bahwa film ini Anti Yahudi. Dan bisa membangkitkan kemarahan umat Kristen bahwa pembunuhan Jesus merupakan intrik yang dilakukan para Pendeta Yahudi.
Karena menjadi kontroversi, film ini pun menjadi pembicaraan dimana-mana. Meski penggambaran penyiksaan Jesus sangat kejam, berdarah-darah, bahkan sangat sadis, penonton tetap ingin menikmatinya. Sekali lagi, kontroversi memang menjadi peluang bisnis sangat besar.
Lalu, kontroversi paling besar selama 2 tahun belakangan ini menjadi menyeruak akibat sebuah novel dengan Judul The Da Vinci Code yang ditulis oleh novelis Dan Brown. Sebuah kode yang terdapat dalam lukisan Leonardo Da Vinci, menjadi pembicaraan karena mampu menyihir jutaan pembaca bahwa, Jesus ternyata manusia biasa yang punya istri dan juga punya anak serta keturunan yang hidup hingga saat ini. Bagi penganut Katolik, novel ini bisa membuat jutaan umat Katolik di dunia dituduh berbohong dengan ajaran yang selama ini mereka anut.
Padahal novel ini, bagi pembaca seperti saya, kisahnya sangat menarik dan bikin gemas dan geregetan ingin cepat-cepat selesai kisah akhirnya.
Makanya, sejak kontroversi novel itu ada, puluhan buku terbit dan memberikan argumentasi bahwa apa yang diungkap dalam The Da Vinci Code hanyalah ilusi belaka. Dan lebih menggemaskan lagi, semua buku-buku yang menentang teori The Da Vinci Code yang selalu menjadi buku paling laris.
Kontroversi sepertinya mampu menyihir setiap orang dan membangkitkan rasa ingin tau yang sangat besar. Sebuah peluang bisnis sangat besar bakal lahir dari kontroversi itu.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home