sekedar klangenan menulis

Memang nggak bermaksud serius. Renggangkan otot, biar bicara enak, kalau bisa mudah didengar dan ada yang mendengar. Seperti balsen, mudah-mudahan bisa sedikit meringankan penyakit ringan, mulai pening, masuk angin, atau ngantuk.

Monday, May 08, 2006

Aku Lebih Cinta Diriku

Setiap hari dia menikmati kecantikan wajahnya dengan menatap cermin di kamar mandi. Cermin, berbentuk bingkai, bermodel minimalis, berukuran sedang, sekitar 35 cm kali 45 cm, yang menggantung di dinding kamar mandi yang dilapisi keramik berwarna putih keperakan. Cermin itu, setiap sisinya dilapisi penjepit stainless berwarna mengkilap, degan sedikit potongan pada kaca di setiap ujungnya. Modelnya yang begitu sederhana, namun terkesan minimalis dan modis, sepertinya bisa membuat setiap wajah yang bercermin menjadi lebih percaya diri. Bahkan tidak jarang yang merasa cantik menjadi lebih cantik lagi.

Seperti pagi ini, wajah cantik itu setiap hari mengagumi dirinya di depan cermina itu. Wajah itu memperhatikan setiap titik, yang dia miliki. Dia begitu mengagumi alisnya yang tidak terlalu lebat, namun bulunya begitu halus membentuk cekungan, seperti habis dirapihin oleh tangan-tangan terampil di salon. Dia tidak perlu melakukan itu, karena memang milikinya dan anugerah dari Tuhannya. Bibirnya juga terlihat cukup seksi, tipis dan pesona sedikit basah, meski dia jarang menggunakn pelembab bibir. Tulang pipinya yangs edikit menonjol, dengan kulit halus bersih, dengan raut wajah sedikit oval, rambut hitam tebal, hidung cukup mancung untuk ukuran orang Asia, memang dia, cukup cantik. Bahkan cantik sekali.

Jadi, tidak salah kalau dia sangat mengagumi wajahnya di depan cermin. Dia bisa bertahan berjam-jam di depan cermin, bahkan suatu ketika menjadi lupa apa yang seharusnya di akerjakan saat dia masuk kamar mandi. Wanita, yang usianya sekitar awal 20-an tahun itu, sangat mengagumi kecantikan dirinya. Dia begitu bangga akan kecantikan itu, seperti memaerkan wajah cantiknya kepada cermin yang setiap saat selalu memantulkan wajah cantiknya.

Waktu terus berganti, dan dia merasakan kecantikan dia bertambah lagi. Cermin itu juga sama, penampilan dia yang sederhana tetap mampu memantulkan setiap wajah-wajah yang mendekati dirinya. Dan wajah cantik yang setia itu, selalu saja datang kepada dirinya, dan tidak lupa memuji kecantikannya.

Suatu ketika, wanita itu ternyata tidak datang lagi. Sudah lebih sebulan, wanita cantik itu tidak datang, apalagi lagi berlama-lama di depan cermin. Kemana gerangan dia? Apakah dia memang tidak lagi mengagumi cermin itu? Begitu teman-teman cermin di kamar mandi itu bertanya-tanya.

Beberapa temannya di kamar mandi, mulai gantungan baju, yang bersandar di sisi pintu kamar mandi, sikat gigi, tempat sikat gigi, bahkan aneka kosmetik dan sabun yang berada di dalam kamar mandi itu, selama ngiri melihat cermin yang selalu dipandanginya berlama-lama oleh wanita cantik itu.

Ketidak-hadiran wanita itu, tentu saja membuat teman-teman cermin di kamar mandi itu merasa kehilangan. Meraka lalu sepakat menanyakan hal itu ke cermin. Apalagi hampir tiap saat ketika wanita cantik itu memandangi wajahnya, dia bercicara dengan bayangannya. Sering seperti terjadi pembicraan serius, sebuah pembicraan antara wanita itu dengan cermin di depannya. Sepertinya wanita itu tidak bicara pada bayangan dirinya, terkadang dia bicara sambil mengerdipkan matanya. Sesekali dengan mengangkat alis pada saat dia bicara.

Karena tidak tahan, gantungan baju bertanya kepada cermin itu. "Wanita cantik itu kemana sekarang, sudah hampir sebulan dia tidak kelihatan datang dan bicara kepadamu?".

"Aku sendiri tidak tahu, wanita itu mungkin saja sudah bosan pada diriku yang indah ini. Setiap hari dia memang datang dan sepertinya memandangi diriku. Terkadang dia bicara kepadaku yang tidak aku mengerti. Aku merasa wanita itu telah jatuh cinta padaku. Setiap datang, dia banyak mengumbar kata-kata pujian akan keindahan dan kecantikan. Dan aku memang merasakannya, aku merasa diriku memang cantik, indah, pantas membuat orang jatuh cinta, jadi tidak salah bila wanita itu selalu memberikan pujian kepadaku. Lalu kemana dia sekarang, aku tidak tau. Mungkin saja dia merasa aku tidak membalas cintanya. Aku tidak tahu. Sekali lagi, aku tidak tau."

Oh, begitu....


thank's to: paolo coelho

0 Comments:

Post a Comment

<< Home