Jujur Itu Banyak Versi Kok
Minggu-minggu terakhir ini, riuh-reda kampanye pemilihan presiden dan wakil presiden ternyata bukan hanya seputar janji-janji dan platform untuk memajukan Indonesia. Semua calon presiden juga pada sibuk membuat tangkisan terhadap tuduhan penggunaan kampanye hitam, istilah yang digunakan para capres dan cawapres bila ada lawannya yang menjelek-jelekkan dirinya. Kampanye hitam menjadi bahan pembicaraan ramai, bahkan melibihi pembicaraan dari isi kampanye hitam yang dipermasalahkan itu.
Sebagai pemilih, saya terus terang bingung mau memilih siapa. Pasalnya, setelah mengikuti kampanye semua calon presiden dan wakil presiden, baik yang dari iklan; mulai telivisi, radio, koran, sampai internet semua presiden hampir sama platformnya. Maksudnya janji-janji yang sudah mereka buat untuk membuat Indonesia tercinta ini maju, mulai ekonomi, kesehatan, pendidikan bagi penduduknya hingga bisa, aman, damai, sejahtera, lahir dan batin. Pokoknya indah sekali, bahkan seindah warna aslinya, begitu kira-kira meminjam istilah iklan film yang sangat populer itu.
Dalam setiap kesempatan yang biasanya diliput media massa itu, masing-masing calon berjanji akan membangun Indonesia menjadi lebih maju. Kejujuran akan dijunjung tinggi, serta berjanji akan membersihkan Indonesia dari korupsi yang membuat negara yang katanya sangat kaya raya ini menjadi miskin, karena menjadi sarang koruptor terbesar di Asia, meski sampai kiri koruptornya tidak pernah ketemu dimana! Wuih, bener-bener enak sekali didengar semua kampanye itu. Enak, banget kalau meraka jadi presiden kan kita bakal kaya-raya beneran.
Semua capres dan cawapres mengaku paling jujur, paling bersih, paling bisa membawa Indonesia ke arah lebih maju. Karena semua isinya sama, saya pun jadi bingung, harus memilih siapa? Wong semuanya baik-baik. Lho semua baik kok bingung? Iya bingung habis sebuah pada baik dan jujur, yang dipilih harus satu pasangan, padahal pasangannya ada lima. Kalau boleh memilih (saking jujur dan baiknya) maunya sih dipilih semuanya. Begitulah kira-kira yang sering kita dengar tentang kebaikan dan kejujuran yang sering diucapkan calon presiden dan wakil presiden, baik melalui melalui televisi, radio, koran, dan sumber lain.
Apakah itu semua juga dilakukan dalam perbuatan sehari-hari? Saya juga tidak tau, saya percaya aja, kan mereka mengaku jujur. Meski kemudian ribut-ribut mempersoalkan kampanye hitam dan saling menjelekkan. Belum lagi berita tentang tuduhan adanya konsipirasi untuk menjatuhkan calon presiden tertentu. Waduh, saya yang secara tidak langsung mengikuti pesta kampanye pemilihan ini dibuat makin bingung, kali ini bener-bener bingung, terus kejujuran itu sebenarnya dimana dan apa? Jangan-jangan ukuran kejujuran yang mereka lontarkan itu berbeda dengan sebuah kejujuran yang selama ini saya anut. Bagi saya, kejujuran itu semacan sifat terbuka apa adanya, kalau A yah dikatakan A, B yah dikatakan B, tidak dikatakan C,D atau Z. Bagi saja, kejujuran merupakan pengungkapan sesuatu yang sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Mungkin, kejujuran model yang saya pakai ini sudah kuno, terlalu lugu, sehingga perlu dimodifikasi? Mungkin saja. Hanya para calon presiden dan wakil presiden yang tahu.
Lalu saya pun cuma bisa senyum-senyum saja ketika tadi malem melihat televisi bahwa dana kampanye para calon presiden dan wakil presiden yang diungkapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak pernah melebihi angka Rp5 miliar. Sebuah angka bagi saya sangat besar, tapi kok rasanya sangat kecil dengan biaya kampanye para calon presiden dan wakil presiden. Bayangkan, setiap hari ada iklan di televisi yang harganya bisa mencapai ratusan juta per menit, belum lagi di koran yang juga bisa mencapai ratusan juta per halaman.
Kalau mereka jujur sekali dengan dana yang dilaporkan, berarti tidak ada kampanye yang ramai di televisi, radio, koran, hingga kampanye keliling dengan menyewe para pemusik dangdut. Belum lagi baliho, poster, sampai stiker yang kalau dihitung angkanya bisa mencapi ratusan miliar bahkan triliunan rupiah, wah! Soalnya, saat kampanye legislatif Maret lalu saja, infalasi bisa naik hingga 1 sampai 2 persen. Aduh, kalau begitu angkanya sudah triliunan dong?
Kalau begitu dari mana mana duit untuk kampanye yang ratusan miliar dan tidak masuk laporan ke KPU? Terus kalau mau tanya lebih panjang lagi, itu duitnya dari mana, kok banyak sekali? Kalau mau tanya ke anak-anak baru gede (ABG) yang suka dengerin lagu Linkin Park, sebuah grup musik yang lagi digemari anak-anak baru gede, jawabnya "Wah hanya Tuhan dan sopir bajay, yang tahu". Kok sopir bajay segala? Soalnya bajay biasanya suka zig-zag yang tidak bisa kita ketahui.
Terus saya mau pilih presiden yang mana? "Yah mau pilih yang paling jujur saja deh." Terus siapa yang paling jujur? "Wah... tunggu saya nanti mau tanya sama Tuhan dulu".
Sebagai pemilih, saya terus terang bingung mau memilih siapa. Pasalnya, setelah mengikuti kampanye semua calon presiden dan wakil presiden, baik yang dari iklan; mulai telivisi, radio, koran, sampai internet semua presiden hampir sama platformnya. Maksudnya janji-janji yang sudah mereka buat untuk membuat Indonesia tercinta ini maju, mulai ekonomi, kesehatan, pendidikan bagi penduduknya hingga bisa, aman, damai, sejahtera, lahir dan batin. Pokoknya indah sekali, bahkan seindah warna aslinya, begitu kira-kira meminjam istilah iklan film yang sangat populer itu.
Dalam setiap kesempatan yang biasanya diliput media massa itu, masing-masing calon berjanji akan membangun Indonesia menjadi lebih maju. Kejujuran akan dijunjung tinggi, serta berjanji akan membersihkan Indonesia dari korupsi yang membuat negara yang katanya sangat kaya raya ini menjadi miskin, karena menjadi sarang koruptor terbesar di Asia, meski sampai kiri koruptornya tidak pernah ketemu dimana! Wuih, bener-bener enak sekali didengar semua kampanye itu. Enak, banget kalau meraka jadi presiden kan kita bakal kaya-raya beneran.
Semua capres dan cawapres mengaku paling jujur, paling bersih, paling bisa membawa Indonesia ke arah lebih maju. Karena semua isinya sama, saya pun jadi bingung, harus memilih siapa? Wong semuanya baik-baik. Lho semua baik kok bingung? Iya bingung habis sebuah pada baik dan jujur, yang dipilih harus satu pasangan, padahal pasangannya ada lima. Kalau boleh memilih (saking jujur dan baiknya) maunya sih dipilih semuanya. Begitulah kira-kira yang sering kita dengar tentang kebaikan dan kejujuran yang sering diucapkan calon presiden dan wakil presiden, baik melalui melalui televisi, radio, koran, dan sumber lain.
Apakah itu semua juga dilakukan dalam perbuatan sehari-hari? Saya juga tidak tau, saya percaya aja, kan mereka mengaku jujur. Meski kemudian ribut-ribut mempersoalkan kampanye hitam dan saling menjelekkan. Belum lagi berita tentang tuduhan adanya konsipirasi untuk menjatuhkan calon presiden tertentu. Waduh, saya yang secara tidak langsung mengikuti pesta kampanye pemilihan ini dibuat makin bingung, kali ini bener-bener bingung, terus kejujuran itu sebenarnya dimana dan apa? Jangan-jangan ukuran kejujuran yang mereka lontarkan itu berbeda dengan sebuah kejujuran yang selama ini saya anut. Bagi saya, kejujuran itu semacan sifat terbuka apa adanya, kalau A yah dikatakan A, B yah dikatakan B, tidak dikatakan C,D atau Z. Bagi saja, kejujuran merupakan pengungkapan sesuatu yang sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Mungkin, kejujuran model yang saya pakai ini sudah kuno, terlalu lugu, sehingga perlu dimodifikasi? Mungkin saja. Hanya para calon presiden dan wakil presiden yang tahu.
Lalu saya pun cuma bisa senyum-senyum saja ketika tadi malem melihat televisi bahwa dana kampanye para calon presiden dan wakil presiden yang diungkapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak pernah melebihi angka Rp5 miliar. Sebuah angka bagi saya sangat besar, tapi kok rasanya sangat kecil dengan biaya kampanye para calon presiden dan wakil presiden. Bayangkan, setiap hari ada iklan di televisi yang harganya bisa mencapai ratusan juta per menit, belum lagi di koran yang juga bisa mencapai ratusan juta per halaman.
Kalau mereka jujur sekali dengan dana yang dilaporkan, berarti tidak ada kampanye yang ramai di televisi, radio, koran, hingga kampanye keliling dengan menyewe para pemusik dangdut. Belum lagi baliho, poster, sampai stiker yang kalau dihitung angkanya bisa mencapi ratusan miliar bahkan triliunan rupiah, wah! Soalnya, saat kampanye legislatif Maret lalu saja, infalasi bisa naik hingga 1 sampai 2 persen. Aduh, kalau begitu angkanya sudah triliunan dong?
Kalau begitu dari mana mana duit untuk kampanye yang ratusan miliar dan tidak masuk laporan ke KPU? Terus kalau mau tanya lebih panjang lagi, itu duitnya dari mana, kok banyak sekali? Kalau mau tanya ke anak-anak baru gede (ABG) yang suka dengerin lagu Linkin Park, sebuah grup musik yang lagi digemari anak-anak baru gede, jawabnya "Wah hanya Tuhan dan sopir bajay, yang tahu". Kok sopir bajay segala? Soalnya bajay biasanya suka zig-zag yang tidak bisa kita ketahui.
Terus saya mau pilih presiden yang mana? "Yah mau pilih yang paling jujur saja deh." Terus siapa yang paling jujur? "Wah... tunggu saya nanti mau tanya sama Tuhan dulu".
