Tahan Diri
Sebuah suguhan kebrutalan, kekerasan, keegoisan, bahkan sering tanpa etika, bahkan sering tampil seakan manusia kini sudah tanpa hati, perasaan, dan yang ada hanya naluri belaka tampil di layar tivi kita belakangan ini. Dimulai dengan heboh soal smackdown, kemudian beralih ke video syuur, sampai saling-silang poligami Aa Gym, hingga kemudian berita seputar artis yang meninggal mengenaskan di sebuah hotel yang ditampil utuh, mulai wajah hingga seluruh tubuhnya!
Yah, mayat artis yang selama ini dikenal sebagai penyanyi Alda ditampilakn wajahnya saat nyawa sudah lepas dari raganya. Sepertinya para pengelolali televisi itu tidak lagi punya hati nurani. Lepas, liar, bahkan tanpa kontrol dan hanya mengejar rating and sharing saja, meminjam istilah pelawak Thukul Arwana yang berarti hanya urusan menarik penonton, dan menjadi mayoritas.
Sepertinya, pengelola tivi kita meski tidak semuanya memang tidak lagi mementingkan apa isi tayangannya, yang sering ditampilkan pokoknya tidak melanggar sensor yang selama ini kriterianya, sering hanya berupa urusan kekerasan, seks, atau berbau sara yang kadang-kadang secara vulgar semua itu tampil, namun secara vulgar pula mereka menyatakan itu terjadi.
Kalau seperti ini, memang diri kita sendirilah yang paling berhak menentukan, apakah mau terus menikmati kebrutalan itu, atau menghentikannya. Yah, semuanya memang kembali kepada diri kita. Menehan diri, sebuah ungkapan yang mungkin sangat normatif, dan sangat klise itu harusnya memang diresapi lebih dalam lagi, dan diimplemantikan ke diri kita sendiri.
Kalau bukan dari diri kita, lalu siapa lagi? Pengelola tivi itu tidak bisa langsung disalahkan, kita memang menyukai semua yang mereka tawarkan. Mereka memang menyuguhkan apa yang selama ini menjadi, mungkin kebutuhan kita sehari-hari itu. Kalau tidak, mana mungkin tontonan itu menjadi begitu popular kalau diri kita tidak menyukainya.
Akhirnya, meski ini menjadi seperti kalimat putus asa, tidak ada jalan terbaik bagi kita dengan menahan diri untuk tidak menikmati tayangan-tayangan itu, sehingga rumah kita tidak lagi dipenuhi oleh, kebrutalan, kebengisan, kekerasan, dan perilaku tanpa hati yang sampai masuk ke ruang tidur kita.
Yah, mayat artis yang selama ini dikenal sebagai penyanyi Alda ditampilakn wajahnya saat nyawa sudah lepas dari raganya. Sepertinya para pengelolali televisi itu tidak lagi punya hati nurani. Lepas, liar, bahkan tanpa kontrol dan hanya mengejar rating and sharing saja, meminjam istilah pelawak Thukul Arwana yang berarti hanya urusan menarik penonton, dan menjadi mayoritas.
Sepertinya, pengelola tivi kita meski tidak semuanya memang tidak lagi mementingkan apa isi tayangannya, yang sering ditampilkan pokoknya tidak melanggar sensor yang selama ini kriterianya, sering hanya berupa urusan kekerasan, seks, atau berbau sara yang kadang-kadang secara vulgar semua itu tampil, namun secara vulgar pula mereka menyatakan itu terjadi.
Kalau seperti ini, memang diri kita sendirilah yang paling berhak menentukan, apakah mau terus menikmati kebrutalan itu, atau menghentikannya. Yah, semuanya memang kembali kepada diri kita. Menehan diri, sebuah ungkapan yang mungkin sangat normatif, dan sangat klise itu harusnya memang diresapi lebih dalam lagi, dan diimplemantikan ke diri kita sendiri.
Kalau bukan dari diri kita, lalu siapa lagi? Pengelola tivi itu tidak bisa langsung disalahkan, kita memang menyukai semua yang mereka tawarkan. Mereka memang menyuguhkan apa yang selama ini menjadi, mungkin kebutuhan kita sehari-hari itu. Kalau tidak, mana mungkin tontonan itu menjadi begitu popular kalau diri kita tidak menyukainya.
Akhirnya, meski ini menjadi seperti kalimat putus asa, tidak ada jalan terbaik bagi kita dengan menahan diri untuk tidak menikmati tayangan-tayangan itu, sehingga rumah kita tidak lagi dipenuhi oleh, kebrutalan, kebengisan, kekerasan, dan perilaku tanpa hati yang sampai masuk ke ruang tidur kita.
