sekedar klangenan menulis

Memang nggak bermaksud serius. Renggangkan otot, biar bicara enak, kalau bisa mudah didengar dan ada yang mendengar. Seperti balsen, mudah-mudahan bisa sedikit meringankan penyakit ringan, mulai pening, masuk angin, atau ngantuk.

Thursday, December 14, 2006

Tahan Diri

Sebuah suguhan kebrutalan, kekerasan, keegoisan, bahkan sering tanpa etika, bahkan sering tampil seakan manusia kini sudah tanpa hati, perasaan, dan yang ada hanya naluri belaka tampil di layar tivi kita belakangan ini. Dimulai dengan heboh soal smackdown, kemudian beralih ke video syuur, sampai saling-silang poligami Aa Gym, hingga kemudian berita seputar artis yang meninggal mengenaskan di sebuah hotel yang ditampil utuh, mulai wajah hingga seluruh tubuhnya!

Yah, mayat artis yang selama ini dikenal sebagai penyanyi Alda ditampilakn wajahnya saat nyawa sudah lepas dari raganya. Sepertinya para pengelolali televisi itu tidak lagi punya hati nurani. Lepas, liar, bahkan tanpa kontrol dan hanya mengejar rating and sharing saja, meminjam istilah pelawak Thukul Arwana yang berarti hanya urusan menarik penonton, dan menjadi mayoritas.

Sepertinya, pengelola tivi kita meski tidak semuanya memang tidak lagi mementingkan apa isi tayangannya, yang sering ditampilkan pokoknya tidak melanggar sensor yang selama ini kriterianya, sering hanya berupa urusan kekerasan, seks, atau berbau sara yang kadang-kadang secara vulgar semua itu tampil, namun secara vulgar pula mereka menyatakan itu terjadi.

Kalau seperti ini, memang diri kita sendirilah yang paling berhak menentukan, apakah mau terus menikmati kebrutalan itu, atau menghentikannya. Yah, semuanya memang kembali kepada diri kita. Menehan diri, sebuah ungkapan yang mungkin sangat normatif, dan sangat klise itu harusnya memang diresapi lebih dalam lagi, dan diimplemantikan ke diri kita sendiri.

Kalau bukan dari diri kita, lalu siapa lagi? Pengelola tivi itu tidak bisa langsung disalahkan, kita memang menyukai semua yang mereka tawarkan. Mereka memang menyuguhkan apa yang selama ini menjadi, mungkin kebutuhan kita sehari-hari itu. Kalau tidak, mana mungkin tontonan itu menjadi begitu popular kalau diri kita tidak menyukainya.

Akhirnya, meski ini menjadi seperti kalimat putus asa, tidak ada jalan terbaik bagi kita dengan menahan diri untuk tidak menikmati tayangan-tayangan itu, sehingga rumah kita tidak lagi dipenuhi oleh, kebrutalan, kebengisan, kekerasan, dan perilaku tanpa hati yang sampai masuk ke ruang tidur kita.

Friday, December 08, 2006

Asal Ngomong

Kalau sudah sudah tua, bahkan sudah menjadi pejabat tetapi masih saja asal bicara tentunya tidak lucu banget. Iya kalau masih muda, masih ABG dan gaya bicaranya masih ada lucu-lucunya, tentu omongan yang ngasal itu menjadi sedikit menghibur bahkan bisa tadi trend terus jadi lucu. Misalnya ponakan saya yang begtiu suka bilang cape deh dengan mimik lucu bila menghadapi masalah, atau lagi bersitegang dengan kakaknya untuk sebuah pembicaraan yang sepertinya tiada ujung.

Pejabat sekarang (atau mungkin dari dulu) memang suka asal bicara, tampa harus memikirkan dampaknya di kemudian hari. Sebuan omongan yang sampai kini mungkin masih membekas, ketika seorang menteri untuk urusan sumber daya mineral di negeri ini, begitu lantang bicara di televisi saat memberikan komentar soal musibah Lumpur Panas Lapindo di Porong, Sidoarjo dengan mengatakan kejadian itu sebagai hal biasa, dan sering terjadi di setiap kegiatan eksplorasi sumber alam.

Ketika banyak penduduk di sekitar situ mengeluhkan lumpur yang terus keluar, bahkan sedikit demi sedikit penduduk mulai mengungsi, sang meneri masih bersikeras itu hal biasa, dan tidak usah diributkan untuk mengatasinya. Namun, kini semua akhirnya mengetahui, lumpur itu semakin mengganas dan sang menteri, di kemudian hari menyatakan itu keadaan luar biasa, dan akhirnya pemerintah ikutan mengatasinya, setelah penderitaan masyarakat di sana makin menyedihkan. Ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, bahkan efeknya bisa mematikan kegiatan industri di Jawa Timur, setelah banyak ruas jalan tol akhirnya tidak bisa dilalui, pipa gas yang menjadi kebutuhan vital di banyak industri Jawa Timur akhirnya terganggu, bahkan terhenti setelah salah satu pipa dekat semburan lumpur itu akhirnya meledak, bahkan membawa korban meninggal.

Pejebat itu, pada akhirnya menyadarai bencana yang terjadi, namun seperti tidak mengungkapkan permintaan maaf atas kata-kata yang telah diucapkan pertama kali. Yah, gaya keadaan seperti ini seperti telah menjadi semacam model di hampir semua pejabat kita. Asal bicara yang tidak jarang juga dibarengi dengan ucapan bohong-bohongan kemudian disertai perdebatan untuk urusan yang nggak penting bahkan sering tidak mengindahkan subtansi sering kita baca, dengar, dan lihat koran, radio, dan televisi kita.

Mungkin budaya kita memang demikian, yang penting ngomong aja dulu kan ujung-ujungnya bisa memperoleh popularitas. Sementara mereka yang jarang ngomong namun kerja keras, tetap saja di belakang.

"Makanya, ngomong dong." Tapi jangan asal ngomong ah!

Sotomie Triji

Sebuah warung di pasar modern Bumi Serpong Damai, mengusik saya. Warungnya sih biasa aja, cuma namanya yang menjadi menarik, Sotomie Triji, iya dia menulis triji bukan 3G yang kini menjadi icon baru dalam dunia telekomunikasi yang diartikan sebagai kemajuan teknologi dengan pita saluran lebih lebar lagi dan lebih cepat sehingga bisa menonton saluran tivi atau mendownlaod lagu-lagu atai film dengan kecepatan luar biasa.

Si pemilik warung, sepertinya sadar betul akan demam 3G yang kini gencar dipromosikan oleh para operator selular. Promosi gencar itu mulai di televisi, media cetak, sampai internet. Meski banyak orang awam bingung dengan istilah 3G, tidak demikian dengan penjual sotomie tersebut. Padahal, definisi umum 3G sebagai sebuah solusi nirkabel yang bisa memberikan kecepatan akses:

  • Sebesar 144 Kbps untuk kondisi bergerak cepat (mobile).

  • Sebesar 384 Kbps untuk kondii berjalan (pedestrian).

  • Sebesar 2 Mbps untuk kondisi statik di suatu tempat


Namun, tanpa mengurangi rasa hormat dengan pemilik warung, bisa jadi dia memang tau betul arti dari 3G sehingga dia dengan sadar memilih nama itu sebagai brand atau merek dari produk sotomienya. Selama ini memang banyak turunan merek yang berhasil dibanding merek awalnya. Yamaha, misalnya menurut seorang teman sebenarnya awalnya memang dari industri alat-alat musik. Buktinya, logo yang dia pakai menggunakan tiga garpu tala yang sangat identik dengan dunia musik. Namun, kini mereka lebih dikenal sebagai penghasil sepeda motor kelas satu, meski juga dikenal sebagai penghasil alat musik kelas satu juga, seperti piano atau gitar.

Kembali ke sotomie, makanan khas yang katanya asal bogor, terdiiri dari daging cintang, kol, bihun, potongan gorengan mirip cakue, dan kuah yang aromanya khas, yang begitu nikmat disantap saat cuaca dingin, bisa jadi nama itu bisa menghasilkan kemungkinan sotomie menjadi makan kelas dunia. Iya siapa tau, dari nama sotomie triji di kemudian hari bisa dikeketmukan sotomie dengan rasa, atau cara penyajian yang lebih spektakuler serta menghasilkan gelegar dan keinginan untuk mencicipi, seperti kita ingin tau banget dengan 3G yang kini menjadi demam itu.

Iya, siapa tau.

Thursday, December 07, 2006

Poligami (Lagi)

Sepertinya poligami masih menjadi topik paling hangat buat media. Hampir tiap hari, di seluruh stasiun televisi membahas masalah itu. Yang setuju dan yang tidak setuju dengan poligami diajak berdiskusi, berdialog, dan beragumentasi dengan pendapatnya masing-masing. Kadang, jalannya diskusi itu menarik, tapi kadang juga sangat menjemukan bahkan tidak jarang berubah jadi depat kusir, saling memotong pendapat, meski ada juga yang sama-sama jernih dalam berargumentasi.

Salah satu pendapat menarik, diuangkapkan nara sumber yang menentang poligami tentang pendapat yang pro poligami bahwa demi menjadikan keluarga sakinah, dari pada para wanita menjanda, atau menjadi perawan tua bakal lebih terhormat di depan Tuhan dengan menjadi istri kedua atau ketiga. Kontan pendapat ini disanggah, karena urusan lebih terhormat, lebih beriman tidak bisa dilihat oleh manusia, soalnya semua mahluk di itu di mata Tuhan sama saja, kecuali ketakwaaanya. Dan seorang janda atau perawan tua ketakwaaanya belum tentu di bawah istri kedua, ketuga atau keempat.

Poligami kalau diruntut dari sejarah, masih menurut sumber tadi dilakukan oleh Rasulullah setelah beliau hampir 3 tahun menduda sejak kematian istri pertanmanya yang dia nikahi ketika beliau berusia 25 tahun dengan seorang janda berusia 40 tahun, Khadijah. Selama 28 tahun perkawinannya, beliau sama sekali tidak pernah berpoligami. Dan pertama kali poligami saat belai berusia 56 tahun, dan itu dilakukan dengan seorang janda yang berusia 60 tahun.

Bila belajar dari Rosulullah, poligami ini memang dekat dengan urusan syahwat atau tidak? Kita tidak tau pasti, soalnya beliau berpoligami juga dengan semangat mempersatukan suku-suku dan kabilah-kabilah yang ada, atau dengan mengangkat derajat sorang janda yang pada masa itu memang masih direndahkan, dan ideologi patriarki yang menganggap laki-laki derajatnya di atas perempuan juga masih melekat kuat. Makanya, Islam turun salah satunya mengangkat derajat perempuan, hingga salah satu haditsnya membuktikan dengan menyebutkan, "surga itu di bawah telapak kaki para ibu," yang berarti perempuan memiliki kedudukan yang minimal setara dengan laki-laki.

Kembali soal poligami, Rosul juga pernah memperingatkan salah satu menantu tercintanya, Ali yang juga suami dari anak perempaun tercintanya, Fatimah untuk tidak berpoligami. Beliau mengaku bila putrinya sakit hati, dia juga bisa merasakan sakit hati dia. Di sini, putri Rosul yang dikenal sabar dan begitu beriman kepada Allah masih tidak "rela" bila suami tercinta harus berpoligami, padahal sang suami yang juga salah satu Khalifah dan terkenal sangat taat kepada Allah, dan akhirnya mengurungkan niat berpoligami.

Ah, mungkin suguhan ibu-ibu yang tampak menangis tersedu ketika tokoh panutannya, yang selama ini menjadi penyejuk, bahkan semacam obat mujarab bila ada masalah dengan suaminya, tiba-tiba menikah lagi. Tangisan itu, bisa diartikan bahwa tokoh panutan itu telah meninggal. Dan kini penggantinya adalah orang lain, soranag tokoh, yang kini ternyata sudah beristri dua.

Kini, tidak ada lagi tokoh dengan petuah menyejukkan itu. Tokoh itu telah mati minggu lalu, dan ratapan para ibu itu masih bergema hingga satu minggu kemudian.

Wednesday, December 06, 2006

Jangan-jangan Tuhan Kita Laki-laki?

Judul itu jangan dianggap serius, bahkan ketika saya menulis ini saya percaya bahwa Tuhan itu tidak bisa dipersamakan dengan mahluknya. Tuhan tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tuhan tidak berjenis kelamin. Namun, judul ini terusik ketika dalam satu minggu belakangan ini hampir semua media di Indonesia meributkan masalah Poligami.

Bahkan, poligami menjadi kata yang sering muncul dalam enam hari terakhir. Kalau saya menggunakan fitur pencarian di google, saat mengetik kata poligami ternyata menemukan hasil 124.000 entry untuk kata poligami dalam waktu 0,15 detik.

Yah, poligami alias suami yang beristrikan lebih dari satu wanita itu, tiba-tiba menjadi kata yang sangat popular. Dari kantor swasta sampai kantor pemerintahan, dari warung pinggir jalan sampai kafe-kafe di tempat mewah banyak yang membicarakan poligami.Semua itu muncul ketika Dai paling popular saat ini, Aa Gym resmi mengakui telah melakukan poligami dengan mempersunting seorang janda beranak 3 yang oleh media disebut Teh Rini atau ada juga yang menyebut Mbak Rini.

Dan sejak berita itu terdengar, gunjingan, kemarahan, keresahan, dukungan, belaan sampai cibiran seperti menjadi satu tentang langkah yang dilakukan oleh As Gym tersebut. Kalangan petinggi dan DPR pun ikut-ikut ribut, karena presiden dan ibu presiden ternyata banyak menerima SMS seputar poligami ini.

Dalam Islam, poligami hukumnya halal. Seorang teman, mengutip ayat Al Qur'an menyakan, "maka nikahilah olehmu perempuan sebanyak 2, 3, atau 4 tetapi kalau engkau tidak dapat berlaku adil, maka cukuplah 1 saja."


Di sini Tuhan menggelitik kita untuk berpikir, bahwa ayat ini mempunyai arti
negasi, mungkin ini ayat spesial untuk bangsa Arab waktu diturunkannya. Misalnya bila Tuhan waktu itu berfirman, "maka menikahlah dengan cukup 1 orang saja,"
dengan tradisi dan budaya Arab pada waktu itu, bisa saja mereka bakal memilih murtad lagi karena nggak tahan untuk tidak berpoligami.

Tapi, sejauh mana kebenaran tafsir itu, saya tidak tau. Artinya bila Tuhan menyatakan "bila kamu bisa berbuat adil", Tuhan tentu tau bahwa manusia memang bisa berbuat adil, meski Tuhan juga tau bahwa berbuat adil itu sangat berat, bahkan mungkin berat sekali karena banyak sisi yang membuat manusia bakal kesulitan untuk berbuat adil alias seadil-adilnya.

Teman lain punya argumentasi, bahwa poligami itu urusan halal kenapa harus dipersoalkan. Mending mempersoalkan banyak tindakan yang jelas-jelas haram, seperti prostitusi, serta perzinaan yang selama ini sepertinya tidak ada yang mempermasalahkan. Kalau dalam Al Qur'an poligami itu sudah diperbolehkan, kenapa harus diributkan. Yah toh?


Namun, buat yang begitu kesal dengan tindakan poligami itu, apalagi dilakukan oleh Dai yang selama ini terkenal dengan siraman rohani damai, teduh, ihlas bahkan menampakkan pengendalian diri sangat luar biasa itu, yang akhirnya memutuskan untuk berpoligami, yang oleh sebagain besar masyarakat dianggap tidak bisa mengendalikan diri dari nafsu itu, tentu banyak sekali kekesalan, kekecewaan, terutama terjadi pada para jamaahnya. Buktinya, banyak jamaah wanita di pesantren Daarut Tauhid, menitikkan air mata (mungkin haru atau mungkin kesal) ketika Aa Gym memberikan alasan poligami itu. Meski menikah itu ibadah, apakah yang kedua itu menjadi ibadah juga?

"Atau jangan-jangan Tuhan kita laki-laki yah, kenapa kok terlau berpihak pada laki-laki?"

Wallahu A'lam Bisshowab

Adegan Syur Itu

“Menurut saya, Yahya Zaini hanya ketiban sial. Secara jujur, banyak sekalia anggota DPR yang bertindak “mesum: seperti dia,” begitu kata anggota DPR dari Fraksi PDIP, Permadi SH mengomentari heboh “video syur” anggota DPR itu dengan penyanyi dangdut Maria Eva.

Yah, selama ini memang banyak omongan, grenengan, atau sekedar guyonan bahkan anggota DPR kita yang terhormat itu suka berbuat tidak terhormat. Urusan Mo Limodalam falsafah Jawa madon, madat, mabuk,maling, dan main sering mereka lakukan. Bukan rahasia lagi, para anggora DPR itu, terutama yang laki-laki memang banyak punya wanita simpanan, alias madon, juga madat, bahkan ada yang sampai dipecat gara-gara ketahuan sudang menggunakan narkoba, dan termasuk minum-minuman. Urusan maling? Sepertinya paling sering disorot, karena mereka dengan seenaknya sering jalan-jalan keluar negeri dan menghambur-hamburkan uang.

Yaj, semua sifat buruk ini seperti menjadi kebiasaan yang biasa bagi wakil rakyat kita. Mereka, meski tidak semuanya, sepertinya sudah bebal dan lupa dengan urusan atau tanggung jawab yang seharusnya mereka pikul karena sudah diberi kepercayaan oleh masyarakat Indonesia untuk seharusnya menyeurakan aspirasi yang mereka wakili agar rakyat bisa hidup tenteran, aman, dan sejahtera.

Namun, adegan yang kita lihat di sana jauh dari semua itu. Bahkan, didukung oleh hingar-bingarnya media, kejadian yang ada dipanggung DPR bahkan seperti lakon cerita perang yang tanpa diketahui kapan lakon itu selesai. Adegan pertikaian,yang diselingi adegan mo limo terus nampak begitu jelas di depan mata kita. Suara-suara ideaslisme DPR yang mestinya masih ada, malah tenggelam dengan hingar-bingar yang bukan menjadi urusan penting.

Para petinggi DPR bahkan dengan sadar sering bertikai untuk urusan yang sama sekali nggak penting, seperti ribut dengan perjalanan dinas, voucher pendidikan, yang kemudan ujung-ujungnya memang urusan tidak penting, sementara urusan penting mereka membuat undang-udang, bahkan antriannya makin lama dan makin panjang hingga tidak tau mau kapan bakal kelar.

Para orang pintar di DPR itu, sepertinya menjadi tidak pintar lagi. Atau mereka memang lebih pintar untuk urusan mo limo tadi?

Saya tidak tau, mengkin kalau jadi anggota DPR bakal ikut seperti itu juga? Kan sudah menjadi tradisi, kalau tidak ikutan bakal dibilang nggak gaul, seperti anak-anak yang begitu menggemari acara Smack Down, karena takut dibilang nggak gaul oleh lingkungannya.