sekedar klangenan menulis

Memang nggak bermaksud serius. Renggangkan otot, biar bicara enak, kalau bisa mudah didengar dan ada yang mendengar. Seperti balsen, mudah-mudahan bisa sedikit meringankan penyakit ringan, mulai pening, masuk angin, atau ngantuk.

Wednesday, December 06, 2006

Adegan Syur Itu

“Menurut saya, Yahya Zaini hanya ketiban sial. Secara jujur, banyak sekalia anggota DPR yang bertindak “mesum: seperti dia,” begitu kata anggota DPR dari Fraksi PDIP, Permadi SH mengomentari heboh “video syur” anggota DPR itu dengan penyanyi dangdut Maria Eva.

Yah, selama ini memang banyak omongan, grenengan, atau sekedar guyonan bahkan anggota DPR kita yang terhormat itu suka berbuat tidak terhormat. Urusan Mo Limodalam falsafah Jawa madon, madat, mabuk,maling, dan main sering mereka lakukan. Bukan rahasia lagi, para anggora DPR itu, terutama yang laki-laki memang banyak punya wanita simpanan, alias madon, juga madat, bahkan ada yang sampai dipecat gara-gara ketahuan sudang menggunakan narkoba, dan termasuk minum-minuman. Urusan maling? Sepertinya paling sering disorot, karena mereka dengan seenaknya sering jalan-jalan keluar negeri dan menghambur-hamburkan uang.

Yaj, semua sifat buruk ini seperti menjadi kebiasaan yang biasa bagi wakil rakyat kita. Mereka, meski tidak semuanya, sepertinya sudah bebal dan lupa dengan urusan atau tanggung jawab yang seharusnya mereka pikul karena sudah diberi kepercayaan oleh masyarakat Indonesia untuk seharusnya menyeurakan aspirasi yang mereka wakili agar rakyat bisa hidup tenteran, aman, dan sejahtera.

Namun, adegan yang kita lihat di sana jauh dari semua itu. Bahkan, didukung oleh hingar-bingarnya media, kejadian yang ada dipanggung DPR bahkan seperti lakon cerita perang yang tanpa diketahui kapan lakon itu selesai. Adegan pertikaian,yang diselingi adegan mo limo terus nampak begitu jelas di depan mata kita. Suara-suara ideaslisme DPR yang mestinya masih ada, malah tenggelam dengan hingar-bingar yang bukan menjadi urusan penting.

Para petinggi DPR bahkan dengan sadar sering bertikai untuk urusan yang sama sekali nggak penting, seperti ribut dengan perjalanan dinas, voucher pendidikan, yang kemudan ujung-ujungnya memang urusan tidak penting, sementara urusan penting mereka membuat undang-udang, bahkan antriannya makin lama dan makin panjang hingga tidak tau mau kapan bakal kelar.

Para orang pintar di DPR itu, sepertinya menjadi tidak pintar lagi. Atau mereka memang lebih pintar untuk urusan mo limo tadi?

Saya tidak tau, mengkin kalau jadi anggota DPR bakal ikut seperti itu juga? Kan sudah menjadi tradisi, kalau tidak ikutan bakal dibilang nggak gaul, seperti anak-anak yang begitu menggemari acara Smack Down, karena takut dibilang nggak gaul oleh lingkungannya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home