Asal Ngomong
Kalau sudah sudah tua, bahkan sudah menjadi pejabat tetapi masih saja asal bicara tentunya tidak lucu banget. Iya kalau masih muda, masih ABG dan gaya bicaranya masih ada lucu-lucunya, tentu omongan yang ngasal itu menjadi sedikit menghibur bahkan bisa tadi trend terus jadi lucu. Misalnya ponakan saya yang begtiu suka bilang cape deh dengan mimik lucu bila menghadapi masalah, atau lagi bersitegang dengan kakaknya untuk sebuah pembicaraan yang sepertinya tiada ujung.
Pejabat sekarang (atau mungkin dari dulu) memang suka asal bicara, tampa harus memikirkan dampaknya di kemudian hari. Sebuan omongan yang sampai kini mungkin masih membekas, ketika seorang menteri untuk urusan sumber daya mineral di negeri ini, begitu lantang bicara di televisi saat memberikan komentar soal musibah Lumpur Panas Lapindo di Porong, Sidoarjo dengan mengatakan kejadian itu sebagai hal biasa, dan sering terjadi di setiap kegiatan eksplorasi sumber alam.
Ketika banyak penduduk di sekitar situ mengeluhkan lumpur yang terus keluar, bahkan sedikit demi sedikit penduduk mulai mengungsi, sang meneri masih bersikeras itu hal biasa, dan tidak usah diributkan untuk mengatasinya. Namun, kini semua akhirnya mengetahui, lumpur itu semakin mengganas dan sang menteri, di kemudian hari menyatakan itu keadaan luar biasa, dan akhirnya pemerintah ikutan mengatasinya, setelah penderitaan masyarakat di sana makin menyedihkan. Ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, bahkan efeknya bisa mematikan kegiatan industri di Jawa Timur, setelah banyak ruas jalan tol akhirnya tidak bisa dilalui, pipa gas yang menjadi kebutuhan vital di banyak industri Jawa Timur akhirnya terganggu, bahkan terhenti setelah salah satu pipa dekat semburan lumpur itu akhirnya meledak, bahkan membawa korban meninggal.
Pejebat itu, pada akhirnya menyadarai bencana yang terjadi, namun seperti tidak mengungkapkan permintaan maaf atas kata-kata yang telah diucapkan pertama kali. Yah, gaya keadaan seperti ini seperti telah menjadi semacam model di hampir semua pejabat kita. Asal bicara yang tidak jarang juga dibarengi dengan ucapan bohong-bohongan kemudian disertai perdebatan untuk urusan yang nggak penting bahkan sering tidak mengindahkan subtansi sering kita baca, dengar, dan lihat koran, radio, dan televisi kita.
Mungkin budaya kita memang demikian, yang penting ngomong aja dulu kan ujung-ujungnya bisa memperoleh popularitas. Sementara mereka yang jarang ngomong namun kerja keras, tetap saja di belakang.
"Makanya, ngomong dong." Tapi jangan asal ngomong ah!
Pejabat sekarang (atau mungkin dari dulu) memang suka asal bicara, tampa harus memikirkan dampaknya di kemudian hari. Sebuan omongan yang sampai kini mungkin masih membekas, ketika seorang menteri untuk urusan sumber daya mineral di negeri ini, begitu lantang bicara di televisi saat memberikan komentar soal musibah Lumpur Panas Lapindo di Porong, Sidoarjo dengan mengatakan kejadian itu sebagai hal biasa, dan sering terjadi di setiap kegiatan eksplorasi sumber alam.
Ketika banyak penduduk di sekitar situ mengeluhkan lumpur yang terus keluar, bahkan sedikit demi sedikit penduduk mulai mengungsi, sang meneri masih bersikeras itu hal biasa, dan tidak usah diributkan untuk mengatasinya. Namun, kini semua akhirnya mengetahui, lumpur itu semakin mengganas dan sang menteri, di kemudian hari menyatakan itu keadaan luar biasa, dan akhirnya pemerintah ikutan mengatasinya, setelah penderitaan masyarakat di sana makin menyedihkan. Ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, bahkan efeknya bisa mematikan kegiatan industri di Jawa Timur, setelah banyak ruas jalan tol akhirnya tidak bisa dilalui, pipa gas yang menjadi kebutuhan vital di banyak industri Jawa Timur akhirnya terganggu, bahkan terhenti setelah salah satu pipa dekat semburan lumpur itu akhirnya meledak, bahkan membawa korban meninggal.
Pejebat itu, pada akhirnya menyadarai bencana yang terjadi, namun seperti tidak mengungkapkan permintaan maaf atas kata-kata yang telah diucapkan pertama kali. Yah, gaya keadaan seperti ini seperti telah menjadi semacam model di hampir semua pejabat kita. Asal bicara yang tidak jarang juga dibarengi dengan ucapan bohong-bohongan kemudian disertai perdebatan untuk urusan yang nggak penting bahkan sering tidak mengindahkan subtansi sering kita baca, dengar, dan lihat koran, radio, dan televisi kita.
Mungkin budaya kita memang demikian, yang penting ngomong aja dulu kan ujung-ujungnya bisa memperoleh popularitas. Sementara mereka yang jarang ngomong namun kerja keras, tetap saja di belakang.
"Makanya, ngomong dong." Tapi jangan asal ngomong ah!

0 Comments:
Post a Comment
<< Home