Sotomie Triji
Sebuah warung di pasar modern Bumi Serpong Damai, mengusik saya. Warungnya sih biasa aja, cuma namanya yang menjadi menarik, Sotomie Triji, iya dia menulis triji bukan 3G yang kini menjadi icon baru dalam dunia telekomunikasi yang diartikan sebagai kemajuan teknologi dengan pita saluran lebih lebar lagi dan lebih cepat sehingga bisa menonton saluran tivi atau mendownlaod lagu-lagu atai film dengan kecepatan luar biasa.
Si pemilik warung, sepertinya sadar betul akan demam 3G yang kini gencar dipromosikan oleh para operator selular. Promosi gencar itu mulai di televisi, media cetak, sampai internet. Meski banyak orang awam bingung dengan istilah 3G, tidak demikian dengan penjual sotomie tersebut. Padahal, definisi umum 3G sebagai sebuah solusi nirkabel yang bisa memberikan kecepatan akses:
Namun, tanpa mengurangi rasa hormat dengan pemilik warung, bisa jadi dia memang tau betul arti dari 3G sehingga dia dengan sadar memilih nama itu sebagai brand atau merek dari produk sotomienya. Selama ini memang banyak turunan merek yang berhasil dibanding merek awalnya. Yamaha, misalnya menurut seorang teman sebenarnya awalnya memang dari industri alat-alat musik. Buktinya, logo yang dia pakai menggunakan tiga garpu tala yang sangat identik dengan dunia musik. Namun, kini mereka lebih dikenal sebagai penghasil sepeda motor kelas satu, meski juga dikenal sebagai penghasil alat musik kelas satu juga, seperti piano atau gitar.
Kembali ke sotomie, makanan khas yang katanya asal bogor, terdiiri dari daging cintang, kol, bihun, potongan gorengan mirip cakue, dan kuah yang aromanya khas, yang begitu nikmat disantap saat cuaca dingin, bisa jadi nama itu bisa menghasilkan kemungkinan sotomie menjadi makan kelas dunia. Iya siapa tau, dari nama sotomie triji di kemudian hari bisa dikeketmukan sotomie dengan rasa, atau cara penyajian yang lebih spektakuler serta menghasilkan gelegar dan keinginan untuk mencicipi, seperti kita ingin tau banget dengan 3G yang kini menjadi demam itu.
Iya, siapa tau.
Si pemilik warung, sepertinya sadar betul akan demam 3G yang kini gencar dipromosikan oleh para operator selular. Promosi gencar itu mulai di televisi, media cetak, sampai internet. Meski banyak orang awam bingung dengan istilah 3G, tidak demikian dengan penjual sotomie tersebut. Padahal, definisi umum 3G sebagai sebuah solusi nirkabel yang bisa memberikan kecepatan akses:
- Sebesar 144 Kbps untuk kondisi bergerak cepat (mobile).
- Sebesar 384 Kbps untuk kondii berjalan (pedestrian).
- Sebesar 2 Mbps untuk kondisi statik di suatu tempat
Namun, tanpa mengurangi rasa hormat dengan pemilik warung, bisa jadi dia memang tau betul arti dari 3G sehingga dia dengan sadar memilih nama itu sebagai brand atau merek dari produk sotomienya. Selama ini memang banyak turunan merek yang berhasil dibanding merek awalnya. Yamaha, misalnya menurut seorang teman sebenarnya awalnya memang dari industri alat-alat musik. Buktinya, logo yang dia pakai menggunakan tiga garpu tala yang sangat identik dengan dunia musik. Namun, kini mereka lebih dikenal sebagai penghasil sepeda motor kelas satu, meski juga dikenal sebagai penghasil alat musik kelas satu juga, seperti piano atau gitar.
Kembali ke sotomie, makanan khas yang katanya asal bogor, terdiiri dari daging cintang, kol, bihun, potongan gorengan mirip cakue, dan kuah yang aromanya khas, yang begitu nikmat disantap saat cuaca dingin, bisa jadi nama itu bisa menghasilkan kemungkinan sotomie menjadi makan kelas dunia. Iya siapa tau, dari nama sotomie triji di kemudian hari bisa dikeketmukan sotomie dengan rasa, atau cara penyajian yang lebih spektakuler serta menghasilkan gelegar dan keinginan untuk mencicipi, seperti kita ingin tau banget dengan 3G yang kini menjadi demam itu.
Iya, siapa tau.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home