Poligami (Lagi)
Sepertinya poligami masih menjadi topik paling hangat buat media. Hampir tiap hari, di seluruh stasiun televisi membahas masalah itu. Yang setuju dan yang tidak setuju dengan poligami diajak berdiskusi, berdialog, dan beragumentasi dengan pendapatnya masing-masing. Kadang, jalannya diskusi itu menarik, tapi kadang juga sangat menjemukan bahkan tidak jarang berubah jadi depat kusir, saling memotong pendapat, meski ada juga yang sama-sama jernih dalam berargumentasi.
Salah satu pendapat menarik, diuangkapkan nara sumber yang menentang poligami tentang pendapat yang pro poligami bahwa demi menjadikan keluarga sakinah, dari pada para wanita menjanda, atau menjadi perawan tua bakal lebih terhormat di depan Tuhan dengan menjadi istri kedua atau ketiga. Kontan pendapat ini disanggah, karena urusan lebih terhormat, lebih beriman tidak bisa dilihat oleh manusia, soalnya semua mahluk di itu di mata Tuhan sama saja, kecuali ketakwaaanya. Dan seorang janda atau perawan tua ketakwaaanya belum tentu di bawah istri kedua, ketuga atau keempat.
Poligami kalau diruntut dari sejarah, masih menurut sumber tadi dilakukan oleh Rasulullah setelah beliau hampir 3 tahun menduda sejak kematian istri pertanmanya yang dia nikahi ketika beliau berusia 25 tahun dengan seorang janda berusia 40 tahun, Khadijah. Selama 28 tahun perkawinannya, beliau sama sekali tidak pernah berpoligami. Dan pertama kali poligami saat belai berusia 56 tahun, dan itu dilakukan dengan seorang janda yang berusia 60 tahun.
Bila belajar dari Rosulullah, poligami ini memang dekat dengan urusan syahwat atau tidak? Kita tidak tau pasti, soalnya beliau berpoligami juga dengan semangat mempersatukan suku-suku dan kabilah-kabilah yang ada, atau dengan mengangkat derajat sorang janda yang pada masa itu memang masih direndahkan, dan ideologi patriarki yang menganggap laki-laki derajatnya di atas perempuan juga masih melekat kuat. Makanya, Islam turun salah satunya mengangkat derajat perempuan, hingga salah satu haditsnya membuktikan dengan menyebutkan, "surga itu di bawah telapak kaki para ibu," yang berarti perempuan memiliki kedudukan yang minimal setara dengan laki-laki.
Kembali soal poligami, Rosul juga pernah memperingatkan salah satu menantu tercintanya, Ali yang juga suami dari anak perempaun tercintanya, Fatimah untuk tidak berpoligami. Beliau mengaku bila putrinya sakit hati, dia juga bisa merasakan sakit hati dia. Di sini, putri Rosul yang dikenal sabar dan begitu beriman kepada Allah masih tidak "rela" bila suami tercinta harus berpoligami, padahal sang suami yang juga salah satu Khalifah dan terkenal sangat taat kepada Allah, dan akhirnya mengurungkan niat berpoligami.
Ah, mungkin suguhan ibu-ibu yang tampak menangis tersedu ketika tokoh panutannya, yang selama ini menjadi penyejuk, bahkan semacam obat mujarab bila ada masalah dengan suaminya, tiba-tiba menikah lagi. Tangisan itu, bisa diartikan bahwa tokoh panutan itu telah meninggal. Dan kini penggantinya adalah orang lain, soranag tokoh, yang kini ternyata sudah beristri dua.
Kini, tidak ada lagi tokoh dengan petuah menyejukkan itu. Tokoh itu telah mati minggu lalu, dan ratapan para ibu itu masih bergema hingga satu minggu kemudian.
Salah satu pendapat menarik, diuangkapkan nara sumber yang menentang poligami tentang pendapat yang pro poligami bahwa demi menjadikan keluarga sakinah, dari pada para wanita menjanda, atau menjadi perawan tua bakal lebih terhormat di depan Tuhan dengan menjadi istri kedua atau ketiga. Kontan pendapat ini disanggah, karena urusan lebih terhormat, lebih beriman tidak bisa dilihat oleh manusia, soalnya semua mahluk di itu di mata Tuhan sama saja, kecuali ketakwaaanya. Dan seorang janda atau perawan tua ketakwaaanya belum tentu di bawah istri kedua, ketuga atau keempat.
Poligami kalau diruntut dari sejarah, masih menurut sumber tadi dilakukan oleh Rasulullah setelah beliau hampir 3 tahun menduda sejak kematian istri pertanmanya yang dia nikahi ketika beliau berusia 25 tahun dengan seorang janda berusia 40 tahun, Khadijah. Selama 28 tahun perkawinannya, beliau sama sekali tidak pernah berpoligami. Dan pertama kali poligami saat belai berusia 56 tahun, dan itu dilakukan dengan seorang janda yang berusia 60 tahun.
Bila belajar dari Rosulullah, poligami ini memang dekat dengan urusan syahwat atau tidak? Kita tidak tau pasti, soalnya beliau berpoligami juga dengan semangat mempersatukan suku-suku dan kabilah-kabilah yang ada, atau dengan mengangkat derajat sorang janda yang pada masa itu memang masih direndahkan, dan ideologi patriarki yang menganggap laki-laki derajatnya di atas perempuan juga masih melekat kuat. Makanya, Islam turun salah satunya mengangkat derajat perempuan, hingga salah satu haditsnya membuktikan dengan menyebutkan, "surga itu di bawah telapak kaki para ibu," yang berarti perempuan memiliki kedudukan yang minimal setara dengan laki-laki.
Kembali soal poligami, Rosul juga pernah memperingatkan salah satu menantu tercintanya, Ali yang juga suami dari anak perempaun tercintanya, Fatimah untuk tidak berpoligami. Beliau mengaku bila putrinya sakit hati, dia juga bisa merasakan sakit hati dia. Di sini, putri Rosul yang dikenal sabar dan begitu beriman kepada Allah masih tidak "rela" bila suami tercinta harus berpoligami, padahal sang suami yang juga salah satu Khalifah dan terkenal sangat taat kepada Allah, dan akhirnya mengurungkan niat berpoligami.
Ah, mungkin suguhan ibu-ibu yang tampak menangis tersedu ketika tokoh panutannya, yang selama ini menjadi penyejuk, bahkan semacam obat mujarab bila ada masalah dengan suaminya, tiba-tiba menikah lagi. Tangisan itu, bisa diartikan bahwa tokoh panutan itu telah meninggal. Dan kini penggantinya adalah orang lain, soranag tokoh, yang kini ternyata sudah beristri dua.
Kini, tidak ada lagi tokoh dengan petuah menyejukkan itu. Tokoh itu telah mati minggu lalu, dan ratapan para ibu itu masih bergema hingga satu minggu kemudian.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home