sekedar klangenan menulis

Memang nggak bermaksud serius. Renggangkan otot, biar bicara enak, kalau bisa mudah didengar dan ada yang mendengar. Seperti balsen, mudah-mudahan bisa sedikit meringankan penyakit ringan, mulai pening, masuk angin, atau ngantuk.

Monday, June 19, 2006

Amanah Itu

Setelah lebih 18 jam menunggu, akhirnya dia nongol juga, saat suara adzan panggilan sholat Maghrib berkumandang, baik lewat speaker masjid, juga televisi dan radio. Tanggalnya 23 Juni 2006, pukul 18.00. Bayi laki-laki mungil dengan panjang 51 cm dan bersat 3,86 kg lahir dengan selamat lewat proses normal. Tangisan pertama keluar sesaat dia melihat dunia, yang kemudian begitu tenang sesaat ketika suaar adzan dikumandang kan di telinga. Tangisan pertama, yang diharapkan sebuah syukur yang dia ucapkan setelah dia hadir di dunia ini. Tangisan sebagai bahasa awal dia saat melihat dunia, yang oleh para kaum sufi sebagai ekspresi tanggung jawab besar dirinya ketika hadir di dunia.

Manusia, yang oleh sang Khalik ditahbiskan sebagai pemimpin di muka bumi ini bakal menangung beban tannggung jawab untuk menjadikan dunia yang fana ini, sebagai tempa untuk mempersiapkan manusia itu kelah ke “bumi” yang lain. Manusia diharapkan menjadi bumi tempat yang nyaman, beradab, bagai keharmonisan hidup semua mahluk ciptaan Allah Swt.

Kembali pada dia, si mungil yang sudah kami berinama Sahnon Savaa Archard, merupakan amanah alias titipan Allah kepada kita untuk mendidik, mengasuh, membesarkan, serta mendoakan semoga menjadi mahluk Allah yang selalu ingat kepada penciptanya. Di hari-hari mendatang, kami akan melaksakan tugas yang diamanhakn Allah itu, dengan penuh kasih sayang, dan selalu berharap semoga yang kami lakukan sesuai dengan nilai-nilai yang digariskan oleh Allah lewat utusan-utusannya-Nya.

Teriring doa kepada-Mu yang Allah, semoga kamu bisa membesarkan si dia sesuai dengan amanah-Mu yang Allah.

Amien

Friday, June 16, 2006

Kasih Tulus Itu

Alkisah, wanita pezinah itu begitu terketuk hatinya di siang yang terik itu saat melihat seekor anjing menjulurkan lidahnya dan terlihat nafasnya tersengal-sengal dengan kehausan yang luar biasa. Saat itu, timur tengah memang lagi terik-teriknya, dan anjing liar itu begitu kehausan karena sengatan terik matahari dan tidak bisa menemukan air setetespun. Lalu dengan penuh kasih yang tulus didorong rasa kasian yang mendalam sesama mahluk Allah swt, wanita itu memberikan air untuk anjing yang kehausan. Karena kasihnya itu, Allah swt mengampuni dosa-dosanya, bahkan dosa zinanya. Demikian salah satu riwayat tentang pentingnya mengasihi terhadap sesama, bahkan kepada anjing yang selama ini kita identikkan dengan mahluk yang dipandang najis secara maknawi oleh sebagian masyarakat Islam.

Lalu bagimana kalau kita bisa mengasihi manusia yang kesusahan dengan tulus karena membutuhkan bantuan kita? Apakah dosa-dosa kita bakal diampuni Allah swt. Setiap perbuatan baik yang ihlas kita lakukan karena Allah swt, sudah pasti Allah swt akan memberikan balasan setimpal dengan perbuatan kita. Itu sudah janji Allah, yang disampaikan dalam wahyunya, meski seringkali kita tidak bisa untuk melaksanakannya.

Dalam sebuah kehidupan yang kini sangat diburu waktu, tidak tau kenapa waktu seakan mengejar kita, hingga muncul istilah siapa yang cepat bakal menang. Itu berarti kita berpacu melawan waktu, makanya idiom yang tua dan cukup kita kenal, time is money, bahkan waktu adalah uang, bila kita nilai uang memang kebutuhan kita utama, berarti waktu begitu penting. Akibatnya, ada yang sering kita lupakan dalam kehidupan yang berjalan cepat ini, kita kehilangan waktu untuk mejalin komunikasi dengan orang-orang sekeliling kita. Dunia yang serba macu dengan teknologi komunikasi yang begitu cepat tumbuh dan mencapai tingkatan paling modern malah membuat kita semakin jauh dengan orang-orang dekat kita, lingkungan kita, yah semuanya begitu jauh karena kita sepertinya selalu kehilangan waktu.

Semakin jauh kita dalam kehidupan sosial, semakin kita menjadi terbiaisa hidup sendiri, samakin kita tidak terlatih menjadi fitrah manusia sebagai mahluk sosial. Rasa sosial, rasa kasih, rasa mencintai terhadap sesama semakin lama semakin pudar, hingga akhirnya hilang.

Ah, kasih tulus pezina itu begitu berharga

Friday, June 09, 2006

Warisan Itu

Alkisah

Mistikus Bola

Hari ini, tepat 9 Juni 2006 dimulai sebuah even akbar yang yang bernaam FIFA World Cup 2006 dimulai dengan sebuah pestang katanya paling semarak sepanjang penyelenggaran kontes perebutan tim terbaik dalam dunia sepak bola. Selama sebulan penuh kita bakal bisa menyaksikan adegan adu strategi para pelatih, kemampuan invidu pemian, dan kerjasama sebuah tim untuk meraih kemenangan. Sepak bola yang awalnya sempat disebut sebagai penyakit orang gila oleh orang-orang Jerman saat orang Inggris mengenalkan permainan perebutan bola oleh 22 orang. "Seperti tidak ada kerjaan, satu bola direbut oleh 22 orang kesana kemari," begitu kira-kira pernyataan orang yang tidak suka bola waktu itu.

Kini, sepak bola telah menjadi bagian dari budaya, gengsi, bahkan bisnis yang sangat menggiurkan di dunia. Makanya, tidak heran bila uang miliaran rupiah rela dikeluarkan untuk menggaet pemain terbaik yang dilakukan klub-klub bola kaya dunia, dari negara-negara yang memiliki sudah memiliki kompetisi sepak bola maju, seperti Inggris, Italia, Spanyol, Belanda, Prancis, sampai Jerman.

Sepak bola memang permainan sebuah tim. Kerjasama dalam sebuah tim sangat penting. Masing-masing pemain harus tau tugasnya, dan harus bisa menjalankan dengan baik tuga-tugas tersebut. Bukan hanya pemain di lapangan, pendukung atau sopputer juga menjadi bagian penting untuk menciptakan sebuah tim bisa bermain dengan sanat baik. Pendukung sudah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari tim sepak bola yang bermain di lapangan. Pendukung yang sudah benar cinta mati, dan matang dalam mendukung, terus memberi semangat bahkan saat timnya harus menerima kenyataan paling menyakitkan, kalah dalam pertandingan. Mereka tetap memberikan dukungan tim kesayangannya itu.

Ibaratnya, mereka boleh pindah agama asal tidak sampai pindah tim kesayangan. Cinta pada sebuah tim sepakbola adalah harga mati yang sudah tidak bisa lagi dipisahkan. Ibaratnya dia memang sudah ditakdirkan Tuhan untuk menjadi pendukung tim tersebut. Sebuah tindakan yang bisa dikatakan "gila" bagi mereka yang tidak terlalu suka, ataubenci dengan sepak bola.

Terjalinnya kerja, mulai pendukung, pemain, pelatih, bahkan belakangan pemilik klub menjadi bagian penting dari kemampuan sebuah tim. Namun, ini juga tidak cukup, peran wasit yang mengatur pertandingan, hingga peraturan yang digunakan dalam setiap permainan sepakbola menjadi bagian penting yang membuat sepakbola menjadi indah dan enak ditonton, serta berubah menjadi sebuah industri dengan niliai yang begitu besar di dunia.

Yah, sepak bola memang telah berubah menjadi sebuah kesatuan baru. Sebuah tatanan baru, meski tidak sedikit yang juga tidak menyukai bola, terlebih di Indonesia yang lebih sering masalahnya dibanding menghiburnya. Tidak terhitung berapa kali kita dibuat resah oleh ulah para pendukung tim sepak bola di negeri kita. Kerusuhan dan perusakan menjadi sajian khas yang sering kita jumpai di setiap arena pertandingan sepak bola.

Lalu kapan kita bisa menikmati bola indah di sini?

Mungkin suatu ketika kita bisa menikmati keindahan itu, kita melihat sepak bola diiringi lagiu indah dari Iwan Fals Mata Indah Bola Pingpong....

Thursday, June 08, 2006

Gosip Para Dokter

Namanya juga manusia, meski profesinya dokter yang kerap selalu berfikir rasional, tetap tidak jauh beda dengan manusia biasa, yang suka keluar pernyataan-pernyataan lugu, polos, konyol, layaknya kita semua. Bahkan, dia pun bisa panik saat sakit akibat keterangan dari dokter lain.

Pagi ini, merupakan minggu ke lima pergi ke dokter gigi. Karena lubangnya cukup lebar dan dalam, kata dokter perawatannya harus sampai tidak rasa sakit sama sekali. Mungkin biar kuman-kumannya mati sampai anak cucunya. Saya tidak protes, cukup percaya kata dokter karena dia memang sekolah cukup tinggi, hingga menjadi dokter gigi.

Selama masa perawatan dokter sekali seminggu itu, banyak kata-kata lucu, lugu, bahkan membuat senyum yang keluar dari dokter yang merawat bersama rekan-rekannya. Maklum dalam klinik dokter gigi itu, ada sekitar 6 sampai 7 dojter gigi yang berkumpul. Sebagian besar wanita, dan usianya juga cukup merata dari sekitar awal 30-an sampai mungkin pertengahan 40-an. Topiknya pun macam-macam, ada yang soal gosip artis, urusan sampah di Bandung, sampai urusan membicarakan dokter yang suka bikin sewot karena menueurt mereka selalu membuat panik.

Beberapa dokter gigi itu, yang kebetulan hamil memang ada yang panik layaknya dia bukan dokter saat akan ke dokter kandungan. Bahkan ada yang bercerita sampai nangis-nangis gara-gara dokter kandungannya memberikan keterangan yang "menggawatkan", meski kemudian oleh temannya yang juga dokter gigi di suruh pindah.

Lain lagi sorang dokter gigi yang protes karena diberi vitamin mulu oleh dokter kandungannya. "Bisa-bisa berat badan saya makin nambah kalau diberi vitamin terus," katanya. Sementara yang lain bilang itu masih untung, karena dia malah tidak diberi apa-apa.

Lalu ada lagi yang protes kepada dokter yang memberi keterangan berlawanan saat anaknya sakit. Mereka tidak habis mengerti, soalnya dokter itu sama-sama dokter spesialis anak, bahkan sama-sama menjadi dosen di sebuah universitas paling ternama di negeri ini, tapi keteranganya berubah sama sekali. "Wah kenapa bisa begitu yah? Terus kalau anak saya sakit, paling-paling disuruh minum air putih saja," keluh suara yang lain.

Begitulah para dokter pagi itu yang sibuk membicaran rekan dokternya, maksudnya pada dokter umum yang ternyata memberikan keterangan berbeda-beda. Dan ini membuat para dokter (gigi) ini juga panik, layaknya kita yang tidak punya predikat dokter ...

Ah, dokter juga manusia...kata Serious....

Wednesday, June 07, 2006

Berbagi Cinta

Tulisan ini bukan bermasud bersaing dengan judul film Berbagi Suami yang disutradarai oleh sutrdara wanita Nia Dinata dan memperoleh perhatian besar penikmat film di Indonesia, serta sempat ikut meramainkan salah satu ajang Festival Film Cannes, meski bukan untuk podium utama. Setidaknya, film yang diangkat dengan tema-tema klasik namun masih menjadi fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat Indonesia masa kini itu memang cukup menarik perhatian. Kalau memberi judul ini karena teringat akan film itu, sudah pasti jawabannya iya, tapi kalau dikatakan mencontek judul itu, yah bisa saja jawabannya, meski bisa saja penulis bilang ah judul itu kan bukan monopoli satu orang saja, seperti lagu dengan judul yang sama juga banyak bertaburan meski dari sisi isi sangat berbeda. Ah, ini sih namanya cuma mau ngeles saja. Yah terserah yang baca deh.

Seorang teman dengan serius mengatakan bahwa dia sepertinya jatuh cinta lagi. Sebuah pernyataan yang biasa, meski masih ditambah kata-kata "lagi" di belakangannya setelah jatuh cinta. Maksudnya memang dia jatuh cinta, kali ini dengan seorang wanita, umurnya di atas 30 tahun, dan dia juga sudah berkeluarga. Tidak jauh berbeda degan dirinya, yang sudah berkeluarga, dan sangat mencintai istrinya.

Mendengar pengakuan ini, saya tidak mau berkomentar hany abicara pendek. "jatuh cinta itu anugerah dari Tuhan, dan kita syukuri saja anugerah itu,". Lalu membiarkan dia untuk berfikir sendiri, toh saya juga terlalu antusias untuk mengorek-ngorek kisahnya lebih jauh. Cinta, love memang memiliki arti sangat luas, dalam kamus cinta bisa dilukiskan sebagai perasaan yang cukup dalam atau kasih sayang atau perhatian terhadap seseorang yang kita kenal atau rasa menjadi satu terhadap seseorang itu. Namun, cinta juga bisa berupa keintiman dan keinginan untuk lebih dekat dengan seseorang untuk menjadi pasangan karena dorongan emosi tentang romantisme dan seksualitas.

Cinta, memang bisa tumbuh secara vertikal, yakni cinta kepada Tuhan dan penciptanya dan tumbuh secara horisontal dengan sesama manusia. Dari yang horisontol ini, cinta bisa terbagi, ada yang cinta, karena dia dekat degnan kita akibat hubungan sedarah, hubungan yang teraikat oleh perkawinan, atau hubungan yang lain dari yang sudah dijelaskan, tetapi tiba-tiba saja tumbul rasa ingin saling memiliki, saling berbagi, dan saling membutuhkan. Cinta antara anak manusia yang berbeda jenis kelamin dan tertarik oleh daya magnet dan tiba-tiba bisa mendobrak sebuah tatanan yang dibuat oleh manusia, atau bahkan oleh Tuhan melalui utusannya ke dunia.

Cinta, sebuah kerunia yang diberikan tuhan memang bisa "lari-lari" dalam kehidupan kita, bahkan "meloncat-loncat" kesana kemari. Bagi pengagung cinta, cinta itu segala-galanya, tatanan yang ada hanya membelenggu cinta itu sendiri. Cinta itu suci, dan biarkan kesucina itu mengalir kemana-mana biar mensucikan jalan yang dilalui cinta itu.

Kembali ke soal teman tadi, ternyata dia kembali bertanya apakah cinta bisa dibagi? Dia mengaku telah jatuh cinta kepada seseorang itu, dan merasakan daya magis cinta bila dia berdekatan dengan seseorang itu. "Ini bukan cuma urusan seks, saya benar-benar merasakan cinta itu. Apakah saya bisa berbagi cinta degan dia, juga istri?" tanya dia lagi.

Sekali ini saya tidak memberikan jawab, hanya sentilan dan gurauan kecil yang keluar dari mulut sambil berkata, "Cinta mengkin tidak bisa dihitung secara matematis, dan bisa dibagi, seperti 100 dibagi dua jadi 50-50 seperti lagu dangdut tahun 80-an. Cinta bisa kita berikan 100 kepada seseorang dan bisa kita berikan 100 persen lagi kepada seseorang yang lain. Bahkan, cinta kita kepada Tuhan bisa kita berikan lebih dari 100 persen. jadi kita tidak udah membagi cinta, kita berikan saja cinta itu pada dia, cinta tidak itu tidak terbatas, dan nikmati saja apa yang sedang kau nikmati bersama cinta."

Ah, sebuah jawaban gila yang saya berikan pada dia.

Jadi, bisakah kita Berbagi Cinta?

Marilah kita cari jawabannya bersama-sama.

Tuesday, June 06, 2006

06.06.06

Yap, hari ini memang sungguh "istimewa" kalau penanggalan yang selama ini kita percaya memang benar. Hari ini tepat tanggal 06 bulan 06 tahun 2006 atau kalo mau disingkat bisa ditulis 06.06.06, yang jatuh hari Selasa. Dalam sistem hari, Selasa berarti hari ketiga yang berasal dari bahasa Arab yang berarti angka tiga.

Bila 3 dikali 2 bakal menjadi 6, lagi-lagi bertemu angka 6. Ah itu sih cuma utak-atik angka saja, atau orang Jawa bilang utak atik gathuk, semua direka-reka dihubung-hubungkan, akhirnya ketemu juga.

Angka 666 pada mitos yang dipercaya dalam dunia barat, terutama penganut Kristen angka ini melambangkan kehancuran atau penolakan terhadap Kristus alias Anti-Christ. Sementara menurut Dr. Delbert Hillers yang merupakan editor Oxford & Harper Collins menyatakan bawah angka 666 ini merupakan kode dari kaisar Romawi yang "sakit jiwa", Nero karena ingin membakar kota Romawi dan melihat di atas puncak bukit.

Namun, angka ini bagi pebisnis justru merupakan peluang besar untuk mengeruk keuntungan. Buktinya, salah satu studio film besar di Hollywood, 20th Century Fox justru meluncurkan remake film horor The Omen pada hari ini. Film yang bercerita tentang perang dengan setan itu bahkan judul aslinya ada The Omen 666 namun, demi kepentingan marketing judulnya hanya tetap The Omen dengan peluncukrna tepat pada tanggal ini.

Sebenranya, hari ini juga Istimewa bagi bangsa Indonesia. Karena tanggal ini merupakan hari kelahiran Presiden RI Peratama, Ir Soekarno yang lahir 06 Juni 1901 dan meninggal 20 Juni 1970. Yah, tepat hari ini Soekarno dilahirkan di Blitar, 105 tahun yang lalu.

Namun, apapun angka itu rasanya memang tidak terlalu kita percayai. Angka, memang sangt penting bila digunakan dengan hal-hal yang memang seharusnya. Misalnya, kecepatan di jalan tol antara 60 sampai 80 km per jam. Dan seharusnya kita patuh dengan angka ini, biar kita bisa nyeman berkendara dan mengurangi terjadi kecelakaan di jalan tol. Namu, sepertinya kita tidak terlalu peduli dengan angka itu, buktinya masih banyak yang melarikan mobilnya di atas 100 km per jam.

Jadi, apakah kita harus percaya bahwa angka 666 itu memang angka setan? Terserah Anda juga sih, toh menurut beberapa teolog dan ahli sejarah, sebenarnya angka yang merupakan simbol setan itu bukan 666 tetapi 616, namun terjadi salah cetak dalam Bible.

Jadi.....?

Sepak Bola

Dalam bahasa jawa sepak bola biasa disebut bal-balan. Saya tidak tau persis kenapa disebut bal-balan, meski dalam konotasi bahasa jawa setiap kata yang diulang lalu diberi akhiran an, biasanya berarti sebuah permainan yang tidak ada maksud untuk serius, alain memang main-main. Apalagi dalam bahasa jawa itu, istilah itu tidak menunjukkan bahwa bola yang jadi "perebutan" permainan harus ditendang, seperti dalam bahasa indonesia yang disebut sepak bola atau dalam bahasa inggris disebut foot ball. Tapi dalam bahasa jawa hanya disebut bal-balan yang berarti bola itu bisa ditendang, dilempar, atau bahkan dibawa pulang :)

Mulai 9 Juni sampai 9 Juli mendatang, sebuah pertunjukan akbar bakal digelar, yakni kejuaran Sepak Bola Dunia 2006 yang bakal digelar di Jerman. Meski Indonesia tim sepak bolanya tidak juga maju-maju, namun penggemar sepak bola tidak demikian. Para pecinta bola di negera ini pun bahkan sudah terpecah-pecah dan mendukung beberapa timyang jadi idolanya. Urusan dukung-mendukung ini pun tidak kalah serunya, saat kita menjadi pendukung fanatik klub sepak bola kampung, bahkan bukan cume ledek-ledekan saja, kalau disulut sedikit bisa menimbulkan "perang" antarkampung meski pertindangan itu hanya untuk meraimai acara "tujuhbelasan" untuk memperingati kemerdekaan Indonesia.

Nah, kembali pada gelaran akbar yang bernama Piala Dunia ini, sepertinya mampu menyihir hampir setengah penduduk dunia. Di Indonesia, kemeriahan itu sudah terlihat sejak beberapa pekan. Banyak acara, mulai cafe, televisi, radio, mal, ruang kantor siap-siap menyambut pergelaran ini. Tak lupa, bapak-bapak yang doyan bola juga sudah bersiap-siap, sementara ibu-ibu yang kurang suka juga harus menerima "kenyataan" harus ikut merayakan "hiburan" akbar yang baru datang sekalid alam 4 tahun ini.

Sorang ibu, dalam perbincangan di sebuah lift di pusat perkantoran di Jakarta Selatan, sudah mulai "mengeluh" atau bersia-siap mengeluh. "Wah piala dunia datang lagi, rumah pasti ramai, soalnya suami saya suka ngajak teman-temannya nonton bareng di rumah," katanya kepada teman di sebelahnya.

"Iya, saya juga bingung ini pasti bakaln banyak yang begadang malam-malam. Biasanya kan sepak bolah selalu disiarin televisi malam-malam begitu," timpal ibu yang lain, sambil berkata masih untung sekarang anaknya sudah liburan sekolah.

Sepak Bola memang bagi yang gemar banget, sejenak bisa melupakan masalah-masalah berat yang kini sedang dihadapi. Urusan harga-harga yang naik, tapi gaji tidak naik-naik masih bisa dilupakan sejenak. Bahkan, para korban gempa yang baru saja melanda Yogayakarta dan Jateng juga jauh-jauh hari sudah minta bantuan soal bisa menonton acara sepak bola ini.

Makanya tak lupa beberapa lembaga swadaya masyarakat juga sudah mulai "minta" kepada pemerintah agar menyediakan sarana hiburan untuk korban gempa agar tetap bisa menikmati pertandingan sepakbola biar bisa sedikit menghibur beban yang begitu berat setelah gempa meratakan rumah, harta benda, bahkan kerabatnya itu.

Iya, sepka bola setidaknya bisa membuat kita untuk "jeda" sejenak "melupakan" masalah yang terus bertumpuk, sejenak sebagai balsem untuk membuat sakit kepala atau masuk angin, bisa hilang untuk beberapa saat.

Dan, selamat menikmati sepak bola dan begadang lagi...

Thursday, June 01, 2006

Jaman Jebot

Sebuah istilah yang biasa kita dengar dari mulut anak-anak baru gede (ABG) tentang masa silam, masa lalu, atau masa muda bagai yang sudah tua. Kata yang masuk slank ini saya tidak tau persis kapan mulai popular, namun rasanya sejak tahun 1980-an kata-kata ini sudah benyak yang menggunakannya. Mungkin suatu ketika ada yang melakukan penelitian asal muasalnya, atau memang sudah ada yang meneliti tapi saya belum membacanya, jadi yah maaf-maaf saja.

Okelah, tidak udah diperpanjang soal kata jebot, yang mau saya tulis sekarang hanya kata-kata dari anak tetangga yang kebetulan marah-marah sama orang tuanya, gara-gara tidak boleh nonton acara televisi kesayangannya. Sang orang tua punya argumentasi acara titu tidak mendidik, sangat merusak dan bisa menimbulkan perilaku kasar pada sang anak. Namun, kata-kata itu tidak dilontarkan oleh orang tuakepada anaknya. Hanya keluar petuah-petuah yang oleh sang anak masuk ketegori petuah jaman jebot tadi.

Perubahan yang begitu cepat seperti sekarang, memang bisa menyenangkan namun bisa juga memusingkan. Banyak yang telat mengantisipasi perubahan, semakin tertinggal, namun banyak juga yang sudah mengantisipasi, tapi dengan cara yang salah. Dan akhirnya timbulah salahkaprah itu.

Akibatnya, yah sudah bisa kita rasakan, mungkin dalam kehidupan kita sehari-hari. Terkadang, bagi penduduk kota sebesar Jakarta yang menjadi komuter, yakni bekerja dari pagi pulang malam dan tinggal di pinggiran Jakarta, atau mungkn di luar Jakarta, seperti Bekasi, Tangerang, Depok, hingga Bogor pasti merasakan "kerinduan" menikmati kehidupan yang sedikit "santai" tidak seperti diburu waktu, dan ingin menikmti kehidupan seperti di pedesaan yang terkesan "berjalan lambat". Uh senangnya, masih bisa santai bangun pagi, sarapan dulu, sambil makan singkong rebus plus kopi kental, dan sesekali diiringi kicauan burung, plus kebulan asap rokok yang diiringi terbitnya matahari pagi. Hummm...

Ah, apakah jaman itu bisa kembali lagi? Nggak tau lah, saat ini seperti sedang bermimpi kembali ke jaman jebot itu. Hummmmm