Berbagi Cinta
Tulisan ini bukan bermasud bersaing dengan judul film Berbagi Suami yang disutradarai oleh sutrdara wanita Nia Dinata dan memperoleh perhatian besar penikmat film di Indonesia, serta sempat ikut meramainkan salah satu ajang Festival Film Cannes, meski bukan untuk podium utama. Setidaknya, film yang diangkat dengan tema-tema klasik namun masih menjadi fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat Indonesia masa kini itu memang cukup menarik perhatian. Kalau memberi judul ini karena teringat akan film itu, sudah pasti jawabannya iya, tapi kalau dikatakan mencontek judul itu, yah bisa saja jawabannya, meski bisa saja penulis bilang ah judul itu kan bukan monopoli satu orang saja, seperti lagu dengan judul yang sama juga banyak bertaburan meski dari sisi isi sangat berbeda. Ah, ini sih namanya cuma mau ngeles saja. Yah terserah yang baca deh.
Seorang teman dengan serius mengatakan bahwa dia sepertinya jatuh cinta lagi. Sebuah pernyataan yang biasa, meski masih ditambah kata-kata "lagi" di belakangannya setelah jatuh cinta. Maksudnya memang dia jatuh cinta, kali ini dengan seorang wanita, umurnya di atas 30 tahun, dan dia juga sudah berkeluarga. Tidak jauh berbeda degan dirinya, yang sudah berkeluarga, dan sangat mencintai istrinya.
Mendengar pengakuan ini, saya tidak mau berkomentar hany abicara pendek. "jatuh cinta itu anugerah dari Tuhan, dan kita syukuri saja anugerah itu,". Lalu membiarkan dia untuk berfikir sendiri, toh saya juga terlalu antusias untuk mengorek-ngorek kisahnya lebih jauh. Cinta, love memang memiliki arti sangat luas, dalam kamus cinta bisa dilukiskan sebagai perasaan yang cukup dalam atau kasih sayang atau perhatian terhadap seseorang yang kita kenal atau rasa menjadi satu terhadap seseorang itu. Namun, cinta juga bisa berupa keintiman dan keinginan untuk lebih dekat dengan seseorang untuk menjadi pasangan karena dorongan emosi tentang romantisme dan seksualitas.
Cinta, memang bisa tumbuh secara vertikal, yakni cinta kepada Tuhan dan penciptanya dan tumbuh secara horisontal dengan sesama manusia. Dari yang horisontol ini, cinta bisa terbagi, ada yang cinta, karena dia dekat degnan kita akibat hubungan sedarah, hubungan yang teraikat oleh perkawinan, atau hubungan yang lain dari yang sudah dijelaskan, tetapi tiba-tiba saja tumbul rasa ingin saling memiliki, saling berbagi, dan saling membutuhkan. Cinta antara anak manusia yang berbeda jenis kelamin dan tertarik oleh daya magnet dan tiba-tiba bisa mendobrak sebuah tatanan yang dibuat oleh manusia, atau bahkan oleh Tuhan melalui utusannya ke dunia.
Cinta, sebuah kerunia yang diberikan tuhan memang bisa "lari-lari" dalam kehidupan kita, bahkan "meloncat-loncat" kesana kemari. Bagi pengagung cinta, cinta itu segala-galanya, tatanan yang ada hanya membelenggu cinta itu sendiri. Cinta itu suci, dan biarkan kesucina itu mengalir kemana-mana biar mensucikan jalan yang dilalui cinta itu.
Kembali ke soal teman tadi, ternyata dia kembali bertanya apakah cinta bisa dibagi? Dia mengaku telah jatuh cinta kepada seseorang itu, dan merasakan daya magis cinta bila dia berdekatan dengan seseorang itu. "Ini bukan cuma urusan seks, saya benar-benar merasakan cinta itu. Apakah saya bisa berbagi cinta degan dia, juga istri?" tanya dia lagi.
Sekali ini saya tidak memberikan jawab, hanya sentilan dan gurauan kecil yang keluar dari mulut sambil berkata, "Cinta mengkin tidak bisa dihitung secara matematis, dan bisa dibagi, seperti 100 dibagi dua jadi 50-50 seperti lagu dangdut tahun 80-an. Cinta bisa kita berikan 100 kepada seseorang dan bisa kita berikan 100 persen lagi kepada seseorang yang lain. Bahkan, cinta kita kepada Tuhan bisa kita berikan lebih dari 100 persen. jadi kita tidak udah membagi cinta, kita berikan saja cinta itu pada dia, cinta tidak itu tidak terbatas, dan nikmati saja apa yang sedang kau nikmati bersama cinta."
Ah, sebuah jawaban gila yang saya berikan pada dia.
Jadi, bisakah kita Berbagi Cinta?
Marilah kita cari jawabannya bersama-sama.
Seorang teman dengan serius mengatakan bahwa dia sepertinya jatuh cinta lagi. Sebuah pernyataan yang biasa, meski masih ditambah kata-kata "lagi" di belakangannya setelah jatuh cinta. Maksudnya memang dia jatuh cinta, kali ini dengan seorang wanita, umurnya di atas 30 tahun, dan dia juga sudah berkeluarga. Tidak jauh berbeda degan dirinya, yang sudah berkeluarga, dan sangat mencintai istrinya.
Mendengar pengakuan ini, saya tidak mau berkomentar hany abicara pendek. "jatuh cinta itu anugerah dari Tuhan, dan kita syukuri saja anugerah itu,". Lalu membiarkan dia untuk berfikir sendiri, toh saya juga terlalu antusias untuk mengorek-ngorek kisahnya lebih jauh. Cinta, love memang memiliki arti sangat luas, dalam kamus cinta bisa dilukiskan sebagai perasaan yang cukup dalam atau kasih sayang atau perhatian terhadap seseorang yang kita kenal atau rasa menjadi satu terhadap seseorang itu. Namun, cinta juga bisa berupa keintiman dan keinginan untuk lebih dekat dengan seseorang untuk menjadi pasangan karena dorongan emosi tentang romantisme dan seksualitas.
Cinta, memang bisa tumbuh secara vertikal, yakni cinta kepada Tuhan dan penciptanya dan tumbuh secara horisontal dengan sesama manusia. Dari yang horisontol ini, cinta bisa terbagi, ada yang cinta, karena dia dekat degnan kita akibat hubungan sedarah, hubungan yang teraikat oleh perkawinan, atau hubungan yang lain dari yang sudah dijelaskan, tetapi tiba-tiba saja tumbul rasa ingin saling memiliki, saling berbagi, dan saling membutuhkan. Cinta antara anak manusia yang berbeda jenis kelamin dan tertarik oleh daya magnet dan tiba-tiba bisa mendobrak sebuah tatanan yang dibuat oleh manusia, atau bahkan oleh Tuhan melalui utusannya ke dunia.
Cinta, sebuah kerunia yang diberikan tuhan memang bisa "lari-lari" dalam kehidupan kita, bahkan "meloncat-loncat" kesana kemari. Bagi pengagung cinta, cinta itu segala-galanya, tatanan yang ada hanya membelenggu cinta itu sendiri. Cinta itu suci, dan biarkan kesucina itu mengalir kemana-mana biar mensucikan jalan yang dilalui cinta itu.
Kembali ke soal teman tadi, ternyata dia kembali bertanya apakah cinta bisa dibagi? Dia mengaku telah jatuh cinta kepada seseorang itu, dan merasakan daya magis cinta bila dia berdekatan dengan seseorang itu. "Ini bukan cuma urusan seks, saya benar-benar merasakan cinta itu. Apakah saya bisa berbagi cinta degan dia, juga istri?" tanya dia lagi.
Sekali ini saya tidak memberikan jawab, hanya sentilan dan gurauan kecil yang keluar dari mulut sambil berkata, "Cinta mengkin tidak bisa dihitung secara matematis, dan bisa dibagi, seperti 100 dibagi dua jadi 50-50 seperti lagu dangdut tahun 80-an. Cinta bisa kita berikan 100 kepada seseorang dan bisa kita berikan 100 persen lagi kepada seseorang yang lain. Bahkan, cinta kita kepada Tuhan bisa kita berikan lebih dari 100 persen. jadi kita tidak udah membagi cinta, kita berikan saja cinta itu pada dia, cinta tidak itu tidak terbatas, dan nikmati saja apa yang sedang kau nikmati bersama cinta."
Ah, sebuah jawaban gila yang saya berikan pada dia.
Jadi, bisakah kita Berbagi Cinta?
Marilah kita cari jawabannya bersama-sama.

1 Comments:
Yang pasti cinta itu bisa membahagiakan sekaligus menyakitkan, bahkan terkadang menimbulkan perih yang berkepanjangan. Jadi tidak usah mengidentifikasikan perasaan yang tengah kita nikmati apakah cinta atau bukan. Lebih baik dinikmati tapi tetap logika kita terjaga.
Selamat mencintai...:)(NPH)
Post a Comment
<< Home