sekedar klangenan menulis

Memang nggak bermaksud serius. Renggangkan otot, biar bicara enak, kalau bisa mudah didengar dan ada yang mendengar. Seperti balsen, mudah-mudahan bisa sedikit meringankan penyakit ringan, mulai pening, masuk angin, atau ngantuk.

Tuesday, June 06, 2006

Sepak Bola

Dalam bahasa jawa sepak bola biasa disebut bal-balan. Saya tidak tau persis kenapa disebut bal-balan, meski dalam konotasi bahasa jawa setiap kata yang diulang lalu diberi akhiran an, biasanya berarti sebuah permainan yang tidak ada maksud untuk serius, alain memang main-main. Apalagi dalam bahasa jawa itu, istilah itu tidak menunjukkan bahwa bola yang jadi "perebutan" permainan harus ditendang, seperti dalam bahasa indonesia yang disebut sepak bola atau dalam bahasa inggris disebut foot ball. Tapi dalam bahasa jawa hanya disebut bal-balan yang berarti bola itu bisa ditendang, dilempar, atau bahkan dibawa pulang :)

Mulai 9 Juni sampai 9 Juli mendatang, sebuah pertunjukan akbar bakal digelar, yakni kejuaran Sepak Bola Dunia 2006 yang bakal digelar di Jerman. Meski Indonesia tim sepak bolanya tidak juga maju-maju, namun penggemar sepak bola tidak demikian. Para pecinta bola di negera ini pun bahkan sudah terpecah-pecah dan mendukung beberapa timyang jadi idolanya. Urusan dukung-mendukung ini pun tidak kalah serunya, saat kita menjadi pendukung fanatik klub sepak bola kampung, bahkan bukan cume ledek-ledekan saja, kalau disulut sedikit bisa menimbulkan "perang" antarkampung meski pertindangan itu hanya untuk meraimai acara "tujuhbelasan" untuk memperingati kemerdekaan Indonesia.

Nah, kembali pada gelaran akbar yang bernama Piala Dunia ini, sepertinya mampu menyihir hampir setengah penduduk dunia. Di Indonesia, kemeriahan itu sudah terlihat sejak beberapa pekan. Banyak acara, mulai cafe, televisi, radio, mal, ruang kantor siap-siap menyambut pergelaran ini. Tak lupa, bapak-bapak yang doyan bola juga sudah bersiap-siap, sementara ibu-ibu yang kurang suka juga harus menerima "kenyataan" harus ikut merayakan "hiburan" akbar yang baru datang sekalid alam 4 tahun ini.

Sorang ibu, dalam perbincangan di sebuah lift di pusat perkantoran di Jakarta Selatan, sudah mulai "mengeluh" atau bersia-siap mengeluh. "Wah piala dunia datang lagi, rumah pasti ramai, soalnya suami saya suka ngajak teman-temannya nonton bareng di rumah," katanya kepada teman di sebelahnya.

"Iya, saya juga bingung ini pasti bakaln banyak yang begadang malam-malam. Biasanya kan sepak bolah selalu disiarin televisi malam-malam begitu," timpal ibu yang lain, sambil berkata masih untung sekarang anaknya sudah liburan sekolah.

Sepak Bola memang bagi yang gemar banget, sejenak bisa melupakan masalah-masalah berat yang kini sedang dihadapi. Urusan harga-harga yang naik, tapi gaji tidak naik-naik masih bisa dilupakan sejenak. Bahkan, para korban gempa yang baru saja melanda Yogayakarta dan Jateng juga jauh-jauh hari sudah minta bantuan soal bisa menonton acara sepak bola ini.

Makanya tak lupa beberapa lembaga swadaya masyarakat juga sudah mulai "minta" kepada pemerintah agar menyediakan sarana hiburan untuk korban gempa agar tetap bisa menikmati pertandingan sepakbola biar bisa sedikit menghibur beban yang begitu berat setelah gempa meratakan rumah, harta benda, bahkan kerabatnya itu.

Iya, sepka bola setidaknya bisa membuat kita untuk "jeda" sejenak "melupakan" masalah yang terus bertumpuk, sejenak sebagai balsem untuk membuat sakit kepala atau masuk angin, bisa hilang untuk beberapa saat.

Dan, selamat menikmati sepak bola dan begadang lagi...

0 Comments:

Post a Comment

<< Home