sekedar klangenan menulis

Memang nggak bermaksud serius. Renggangkan otot, biar bicara enak, kalau bisa mudah didengar dan ada yang mendengar. Seperti balsen, mudah-mudahan bisa sedikit meringankan penyakit ringan, mulai pening, masuk angin, atau ngantuk.

Thursday, May 27, 2004

Kekuasaan Lebih Nikmat dari Sex

Judul ini bukan bermaksud bicara porno, hanya mengutip kata-kata mendiang istri Mao Zedhong pemimpin besar China, katanya, “Kekuasaan itu memang bisa lebih nikmat dari sex”. Dalam situasi gegap-gempita “perebutan” kekuasaan negeri ini, rasanya kok kata-kata istri Mao itu menjadi ada benarnya.

Kekuasaan telihat memang menjadi sangat nikmat, apalagi setelah berhasil digenggam, sehingga jutaan, bahkan triliunan rupiah tidak lagi menjadi persoalan untuk dihambur-hamburkan dalam arena sebuah pertandiangan yang bernama perebutan kekuasaan itu.

Benarkan demikian, kalau ingin tau pernyataan itu benar adanya, yah sebaiknya kita tanya satu-satu orang pernah memgang kekuasaan. Apakah jawabnya, ya, tidak, atau bahkan tidak tau. Atau memang malu-malu, serta menyembunyikan dan menakut-nakuti bahwa kekuasaan itu bukan sebuah yang dicarari, melainkan sebuah tanggung-jawab yang harus dipikul dengan penuh pengorbanan. Wah kata-katanya menjadi sangat menakutkan, padahal untuk memperolehnya, harus dibarengi banyak pengorbanan yang begitu besar, mulai tenaga, pikiran, dan uang. Ini namanya ingin merebut pengorbanan dengan sebuah pengorbanan. Hem, hebat benar yah.

Tapi, apakah memang bener kekuasaan seperti itu? Masih tidak jelas kalau mau Tanya kenytaannya. Atau kita bikin aja polling yang kini menjamur, mulai dari yang pakai SMS, telepon, sampai yang katanya sudah dengan wawancara khusus, serta memilih responden yang sudah teruji, dengan menggunakan metedologi yang sangat teruji pula, dan ditanyakan benerkah kekuasaan itu nikmatnya melebihi sex. Wah, hampir pasti jawabnya bakal beragam. Mungkin akan seragam kalau ditanya, apakah Anda mau diberi kekuasaan, kemudian diberikan kebebasan, banyak fasilitas, bisa hidup nyaman, enak, kemana-mana dikawal? Kok rasanya jawabannya bisa 99% ya, setuju. Mau banget, kata anak-anak generasi MTV.

Jadi, bagaimana kita melihat hiruk-pikuk “perebutan” kekuasaan yang kini menghiasai, koran, radio, telivisi, sampai seminar-seminar yang banyak dilakukan di hotel berbintang itu? Kalau menggunakan ukuran tulisan, dan sebaiknya Anda tidak mengikutinya, yah kita nikmati saja hiruk-pikuk itu. Soalnya, situasi sepi itu kurang seru, terkadang nggak dinamis sehingga membuat kita ketakutan sendiri. Hiruk-pikuk perebutan kekuasaan, kalau kita bisa menikmatinya bakalan tidak kalah asyiknya dengan gemerlapnya dunia malam, yang penuh dengan musik keras, dance, blues, jazzy, bahkan sampai modern rock yang kini lagi digandrungi para ABG, yang memang lagunya mengasikkan itu.

Jadi, apakah “perebutan” kekuasaan memang sebaiknya harus dilalui dengan hiruk-pikuk yang bisa dinikmati dan dilihat semua orang? Itu terserah yang ingin merebut kekuasaan. Tapi bagi kita, kalau hiruk-pikuk itu bisa menjadi hiburan, bahkan bisa mendatangkan cipratan uang, kan lumayan di zaman yang susah ini, kan tidak ada salahnya.

Kalau sudah demikian hebat untuk memperolehnya, apakah memang benar kekuasaan itu memang lebih nikmat dari sex? Sepertinya kita perlu menanyakan lagi kepada Madam Mao Zedhong. Soalnya, saya sendiri juga belum pernah menjadi penguasa, jadi tidak tau kenikmatannya.

Wednesday, May 26, 2004

Komitmen, Nyarinya Dimana?

Komitmen, kata yang mudah sekali diucapkan, tapi sering susah untuk dilaksanakan. Kata yang diadaptasi dari bahasa Inggris commit yang bisa kepercayaan, atau menjaga kepercyaan itu memang menjadi cukup berat dilaksanakan ketika banyak tuntutan-tuntutan yang harus dilaksanakan.

Sepasang remaja yang lagi dimabuk cinta, biasanya bikin komitmen untuk saling mencinta, ngga selingkuh, sampai menghargai perbedaan. Namanya juga lagi dimabuk cinta, semua itu biasanya digenggam dengan sungguh-sungguh, bahkan diiket, terus dikunci, dankuncinya disimpen dilaut, biar tuh komitmen bisa kepegang sampe mati kali yah.

Tapi ngga usah panjang, komitmen memang sangat dibutuhkan dalam membangun kehidupan, mulaid ari komitmen kepada diri sendiri, keluarga, tetangga, teman, sampai komitmen pada negara tempat kita dilahirkan dan mencari makan.

Sekarang, sampai dimana komitmen kita?

Tuesday, May 25, 2004

Fiktif, Fiksi, Sampai Non Fiksi

Kita hidup di dunia fiksi! Ah yang benar? Mari kita tengok kehidupan di sekeliling kita yang hampir selalu kita jalani hamper tiap hari, mulai dari sinetron, film, telenovela, sampai cerita tentang janji-janji politik yang sering kita serap setiap hari, lewat koran, televisi, sampai radio. Dunia fiksi sudah mengelilingikita sejak mulai bangun tidur, sampai menjelang tidaur. Terkadang menyesakkan, di saat lain bisa menyenangkan, jadi meski hanya mimpi, mari kita nikmati, toh yang penting kita bisa memperoleh sedikit hiburan meski hanya sesaat.

Seperti kata Micahel Moore yang berhasil meraih hadian Palem Emas di Festifal Film Cannes lewat film dokumenternya Fahrenheit 9/11 yang memicu kontroversi. Meski film dokumentertersebut merupakan potongan-potongan dari fakta yang berhasil dia peroleh, toh penentangan hasil itu begitu besar. Sampai-sampai banyak studio film yang enggan mengedarkan, meski banyak juga yang tergiur karena ramalan bahwa film ini bakalan meledak di pasaran.

Balik lagi soal fiksi, kita memang lebih asyik hidup dalam dunia fiksi. Dunia yang penuhjanji, ironi, sampai mimpi yang tak terbeli, kata Iwan Fals. Semua yang fiksi itu, sudah menjadi realita yang kita temui dalam kehdiupan sehari-hari. Sebuah fiksi, yang sudah mengaburkan apakah kita dalam dunia fiksi atau dunia realitas.

Sementara yang fiktif, wah itu lebih tak terhitung lagi. Ada mulai proyek fiktif, sekolah fiktif, ijasah fiktis, sampai calo artis fiktif. Dan yang fiktif-fiktif itu selalu menyelimuti kehidupan kita sehar-hari, yang sudah menjadi realita dalam kehidupan hingga kita tidak mampu lagi membedakan mana yang fiktif dan mana yang nyata. Semuanya telah menjadi bagian dalam kehidupan kita, yang oleh para orang pintar sudah dikatkan telah berubah menjadi budaya.

Jadi, apa salahnya kita ubah semuanya menjadi non fiksi? Bila Anda bingung membaca semua ini, boleh jadi memang Anda sedang normal. Saya sendiri juga bingung, seperti banyak orang yang mengalami kebingung dalam setiap kehidupan sehari-harinya. Sebuah kisah nyata diubah menjadi fiksi, yang fiksi malah dibuat seperti nyata. Batas fiksi dan non fiksi pun semakin lama semakin kabur, semuanya terserah yang mengatur.

Saturday, May 22, 2004

Italian Job

Win without gun fire, begitu kata-kata yang diucapkan Mark Whalberg sebagai tokoh Charlie Crocker, seorang pencuri genius yang mengaku sudah menjadi pencuri sejak masa kanak-kanak dalam film Italian Job. Kita tidak membicarakan pencuriannya, tapi kecerdikannya dia yang berusaha memeroleh kenginannya, meski jelek tanpa menggunakan kekerasan.

Layaknya film bikinan Hollywood, tokoh yang seharusnya hitam itu nampak putih, baik hati, dan bertanggung jawab. Dia menjadi pencuri yang ditakdirkan “bermoral” bahkan berfikir sangat tenang menghadapi setiap masalah, bahkan sikap tenangnya itu tetap dia tunjukkan ketika harus kehilangan hasil curiannya gara-gara kelicikan temannya sendiri.

Ketnaangan bisa menjadi kunci untuk mencapai tujuan yang diinginkan, setidaknya sudah ditunjukkan dalam film ini. Sikap tenang, penuh perhitungan dalan menentukan langkah terbaik, menjadi kunci utama untuk mencapai kesuksesan. Ketika kita menghadapi masalah yang paling buruk sekalipun, sikap tenang, penuh perhitungan, serta tidak mudah panik akan membuka pintu untuk bisa keluar dari sebuah masalah.

Lalu bagimana agar kita bisa tenang? Sangat susah untuk memulainya. Sikap itu biasanya muncul karena kematangan, perhitungan cepat, hingga pola pikir yang cepat mengantisipasi perubahan, sampai pembawaan lahir. Untuk pembawaan lahir ini, memang tidak semua orang bisa memilikinya. Namanya juga sudah turunan, begitu orang Jawa biasanya bilang. Tapi, kita selayaknya percaya bahwa ketenangan bisa kita lakukan serta pelajari, siapapun juga dan dimanapun juga, asal kita mempercayainya.

Soal ketenangan, apakah selalu berdampak positif? Meski belum ada penelitian, sejujurnya saya malah setuju bahwa 99 persen orang sukses karena ketenangannya. Orang tenang, biasanya enggan menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah, hingga digunakan untuk memenuhi ambisi dan keinginannya. Mereka biasanya bisa mengatur apa saja dari semua sisi. Bisa dilakukan menghindari kekerasan yang kemungkinan bisa timbul dalam memeproleh apa yang diainginkan, ambisi yang dia inginkan, bahkan saat ambisi itu masih dia simpan rapat-rapat dalam benaknya.

Apakah kita selama ini sudah tenang? Terutama dalam menghadapi segala sesuatu, padahal biasanya datang dengan tiba-tiba, atau terkadangan datang tanpa kita sadari? Jawabnya hanya dalam diri kita. Toh ketenangan itu, tidak selamanya memang kita inginkan, pasalnya rumah yang terlalu tanang kadang mengerikan.

Tapi ketangan dalam diri bisa jadi bisa memenangkan apa yang kita inginkan. Jadi kenapa harus menggunakan kekerasan untuk mencapai sebuah tujuan?

Friday, May 21, 2004

Efisiensi Vs Create Revenue

Setiap mendengar kata efisiensi dalam sebuah perusahaan, cara paling sering dilakukan dan hampir mencapai 100 terjadi, melalui downsizing, alias mengecilkan badan. Jatuhnya, dipangkaslah yang dimasukkan dalam kategori "memberatkan", bisa karena memang kelebihan lemak, penyakitan, atau dianggap sebagai sumber "penyakit".

Cara yang secara "medis" memang sangat dibenarkan, meski yang paling sering terjadi biasanya kesalahan "diagnosanya", misalnya seharusnya yang dipangkas bukan, lemak, malah tulang yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, yang benama perusahaan. Kesalahan diagnosa bahkan bisa lebih jauh lagi, bahkan bisa saja tubuh itu tidak perlu dipangkas, tapi harus menadapat makan yang sehat, hingga tidak tertatih-tatih karena kurang gizi. Jadinya, ketika perusahaan yang sakit-sakitan harus masuk ICU agar bisa sehat kembali, bukan masalah mau dipangkas yang sangat memberatkan tadi. Tapi difungsikan kembali dengan menyintik obat secara tepat.

Saya menjadi ingat kata-kata mantan Dirut Garuda Indonesia, Abdulgani. Mantan bankir yang didapuk komisaris Garuda waktu itu, Robby Djohan akhirnya berhasil menyembuhkan maskapai penerbangan nasional yang secara itung-tiungan ekonomi harusnya dilikuidasi itu.

Di tangan Abdulgani, Garuda berhasil dia angkat kembali pamornya, bahkan berhasil mencetak laba. Bayangkan, saat dia masuk total utang Garuda sudah lebih dari 10 kali lipat dari asetnya! Penyakit yang menimpa Garuda Indonesia waktu itu memang sangat kronis, hampir di semua badan sudah penyakitan.

Lalu apa yang pertama kali harus Abdulgani lakukan, dalam benaknya, pasti Garuda sangat tidak efisien sehingga harus secepatnya dilakukan esisiensi. Benarkah? Pasti benar, lalu dimana tidak efisiennya, apakah man hornya sangat berlebih, atau gajinya kemahalan? Pada mulanya, Abdulgani sangat mempercayai hal itu, tapi kita dia pelajari laporan Garuda. Ternyata perusahaan ini secara perhitungan bisnis penerbangan sangat efisien. Artinya, ongkos produksi dengan jumlah karyawan, serta biaya-biaya lain, ternyata lebih rendah dibanding maskai penerbangan asing, semisal Singapora Airlines atau Malaysia Airlines.

Jadi kesalahannya dimana? Ternyata garuda tidak bisa mencetak pendapatan lebih baik dari para pesaingnya itu. Kenapa itu bisa terjadi? Garuda lambat mengantisipasi persaingan, dan lemah dalam pelayanan. Apakah Abdulgani lantas melakukan downsizing? Sekali lagi ternyata tidak dilakukan ke sana. Yang dilakukan magaimana membuat Garuda bisa mengahasilkan uang lebih banyak, sehingga bisa menghidupi dirinya, dan berhasil kembali membayar utang-utangnya.

Jadi, efisiensi apakah selalu dilakukan dengan downsizing? Bila jawabnya iya, apakah Anda sudah tepat mendiagnosanya? Atau kenapa Anda kok tiba-tiba berfikir efisiensi?

Semuanya terserah Anda...

Thursday, May 20, 2004

Sekali Lagi Pendidikan

Secara tidak sengaja sambil menunggu iklan, film Sleepy Hollow di Indosiar, saya ganti channel dan melihat Topik di SCTV yang salah satu ceritanya mengangkat seputar pendidikan. Topiknya sih sebanarnya tidak sepenuhnya tentang pendidikan, tapi sepuat tanah rencong Aceh, di salah kisahnya yang menyambung itu digambar anak-anak yang tidak lagi merasa nyaman dalam kegiatan sekolahnya gara-gara gejolak “perang” yang terjadi di sana.

Melihat sepotong kisah itu, rasanya pendidikan di negeri kita memang sangat menyedihkan, di saat siswa yang ingin belajar dengan kesungguhan hati serta penuh keinginan untuk belajar harus terhambat. Di situ digambarkan sekolah dasar hancur dibakar, sementara pembangunan yang dilakukan tidak tahu bagaimana kisahnya.

Inilah potret pembangunan fisik pendidikan kita yang memang sudah coreng moreng, dan hampir selalu menjadi kisah sedih tanpa akhir. Suatu ketika kita digegerkan dengan sekolah yang roboh, bahkan di pusat kota seperti Jakarta, di kisah lain ada murid yang terpaksa masuk rumah sakit karena tertimpa atap sekolah yang sekali-lagi roboh. Ini potret fisik kegiatan pendidikan kita, yang secara kasat mata bisa kita lihat dalam berbagai media, karena memang dekat dengan pusat kekuasaan, Jakarta!

Lalu bagimana dengan daerah? Otonomi yang sudah mulai dilakukan, termasuk dalam pendidikan memang sudah mulai berjalan. Terlepas dari plus atau minusnya, setidaknya ini memang menjadi hal yang baik untuk pengembangan pendidikan kita, setidaknya bagia daerah yang sadar, kalau ingin maju dimulai dari pendidikan, dan sudah melakukan hal itu. Maka tidak salah bila salah satu kabupaten yang termasuk kaya membebaskan warganya untuk memperoleh pendidikan, mulai pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Pemimpn propinsiitu, tentu sudah sangat sadar bahwa pendidikan memang penting.

Tapi, itu bagi propinsi yang beruntung, bagimana yang pendapatannya sangat kurang? Semua impian seperti itu rasanya bakal jauh dari realita, setidaknya mungkin dalam 20 tahun ke depan masih belum tentu. Tadi saya sempat baca, kalau mulai tahun 2009 pemerintah “berjanji” mengalokasikan 20 persen APBN untuk pendidikan. Sebauh dana yang besar, bahkan sangat besar. Sangat menggembirakan kedengarannya, terutama untuk membangun pendidikan kita yang sangat menyedihkan itu.

Pertanyannya sekarang, siapkan kita menggunakan dana yang sangat besar itu untuk pendidikan? Pasalnya dengan dana yang sangat minim seperti saat ini, penyelewengan yang terjadi sudah sangat besar sekali. Bahkan, saya pun sampai tidak habis pikir, ketika ada orang yang bekerja di Deprtemen Pendidikan Nasional, dengan jabatan yang tidak jelas saya tau, bisa berganti mobil hampir setiap ada mobil keluaran baru keluar, dan mengaku bekerja di Direktorat Pendidikan Dasar? Ah, kebocoroan dari mana pula itu?

Jawabnya, mengutip iklan SLI 008, Anak Kecil Juga Tau!

Wednesday, May 19, 2004

Namanya Juga KKN

KKN menja kata atau mungkin singkatan yanga paling ngetop sejak tahun 1980-an sampai akhir 1990-an, atau mungkin sampai tulisan ini dibuat, yakni Mei 2004. KKN yang kalau waktu saya masih kecil, begitu bangga ketika ada mas-mas atau mbak-mbak yang lagi berbakti sosial alias Kuliah Kerja Nyata itu. Mereka memang membawa angin segar, setidaknya bagia saya yang waktu itu masih berumur sekolah SD di kampung yang sebenarnya tidak berada dalam kamupung yang sangat pedalaman, tepatnya di perbatasan Surabaya dan Sidoarjo. Tapi, saat masih kecil sekitar tahun 1975-an, saat pinggiran kota belum ada listrik, kedatangan mas dan mbak yang ber-KKN bisa bikin ramai kampaung. Itu sejauh ingatan yang masih saya ingat selama ini. Waktu itu, yang bikin ingat dengan, terutama mas-masnya karena menjadi rame nongkrong di tempat pak Lurah hingga bisa main kartu, atau main apa saja yang bisa menjadi hiburan anak-anak, termasuk tambahan cerita atau dongeng dari mas-mas tadi.

Lupakan, masa kecil, yang kebanyakan indah, meski tidak berkecukupan. Tapi, sekarang KKN lain lagi. Istilah yang ngetop sejak masa reformasi lagi ramai-ramai didengungkan pada sekitar mei 1998 itu, menjadi kata yang begitu menghipnotis untuk sebuah keinginan pada perubahan, Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme, itulah kata KKN yang harus diberantas dan banyak didengungkan untuk dibabat habis, termasuk oleh para calon presiden kita yang akan "bertanding" Juli nanti. Jargon yang begitu sangat hasyat pada tahun 1998 itu, sampai kini kadang masing dipakai, meski yang mendengar sudah bosen, kalau tidak boleh dibilang bosen banget dengan jargon itu.

Jadi, apakah KKN memang sudah dilupakan? Kalau kita mengukur dari kegiatan pemerintahan kita saat ini, kayanya sih memang sudah dilupakan. Meski saya bukan orang yang bekerja di birokrasi pemerintahan, setidaknya banyak teman dan kenalan yang ada di sana. Saya kenal dengan mereka yang masuk bener-bener secara KKN alias model titipan kilat, mau dari pejabat yang lebih tinggi, atau titipan tetangga pejabat, sampai titipan tetangganya, tetangga pejabat yang masuk. Semuanya ada. Dan tentu saja mereka tidak terlalu berkualitas, kalau kita mau menghaluskan tidak dengan menggunakan kata-kata tidak berkualitas. Bisa dibayangkan, sebuah deprtemen pemerintahan yang pegawainya sudah menggelembung tidak efisien, masih saja dimasuki orang-orang hasil KKN ini dengan mengandalkan disposisi dan dibayar dengan uang negara! Mereka katanya hanya pegawai honorer yang kebutuahn kerjanya tidak perlu terjadi dalam birokrasi itu. Bahkan sanagt-sangat tidak dibutuhkan. jadi, kenapa tetap dimasukin? Jawabannya karena KKN tadi.

Rasanya tulisan ini memang tidak ada yang baru, bahkan sudah sangat banyak yang taui. Jadi, sekarang pertanyannya, kenapa kok mesti ditulis. Karena kesalahan yang sampai saat ini terjadi sudah dianggap sebagai hal yang biasa! Sangat menakutkan, jangan-jangan ini nantinya menjadi sebuah standar yang kita pakai di hari depan.

Sangat menakutkan, bila SDM yang seharusnya bisa melayani rakyat dengan profesional, ternyata hanya menjadi "perusahaan keluarga" yang akhirnya isinya cuma bagi-bagi proyek dan rejeki. Kalau sudah begini, rasanya sindiran atau tepatnya satire "kalau pengen goblok, jadilan pegawai negeri" tidak ada salahnya. Meski, saya selaku penulis ini banyak sekali salahnya. Soalnya, dalamnya laut tidak semua orang tau, bahkan saat ombak yang tenang sekalipun.

Mohom maaf bila ada yang tersindir...

Proses, Maaf Kita Lagi Lupa

Saya ingin menulis pendek saja di sini, maklum sebagai awal untuk menulis unek-unek yang selama ini sering bergejolak dalam diri. Salah satunya, seputar ributnya Ujian Akhir Nasional (UAN) yang baru dua minggu kemarin selesai dilakukan oleh adik-adik kita yang masih mengenyam Sekolah Menengah Atas (SMA). UAN seakan menjadi momok dengan penolakan yang sangat besar karena berbagia argumentasi, mulai dari seputar biaya, kekhawatiran banyak yang tidak lulus, sampai tujuan akhir dari UAN yang dianggap malah menyalahi Undang-undang Pendidikan Nasional.

Kenapa mesti demikian? Banyak praktisi pendidikan kita yang mengkritik kebijakan pemerintah yang tujuan awalnya untuk meningkatkan pendikan itu. Menuurut versi pemerintah, UAN dianggap sebagai salah cara untuk mengukur tingkat kualitas siswa. Batasan yang dipakai juga jelas, ada standar minimal yang harus bisa dicapai siswa bila mereka ingin lulus. Tapi, para pendidik tentu saja meragukan batasan itu. Alasannya, kenapa hanya beberapa mata pelajaran saja, seingat saya, terus terang karena saya hanya tau sekilas, sehingga opini saya ini juga tidak bisa dianggap perlu didengar, setidaknya hanya menggunakan kriteria Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, hingga Bahasa Indonesia. Dan itu menjadi sebuah "beban", setidaknya bagi para pendidik agar siswanya lulus.

Bila kita tarik ke belakanga, protes itu sebenarnya pada kebijakan pendidikan kita yang bisa dikatakan compang camping. Sejak mulai alokasi dana saja, ketimpangan yang sangat besar sudah menjadi momok tersendiri. Memang sangat naifi ketika kita harus menerapkan standar tinggi, tapi proses pendidikannya malah tidak disentuh dengan baik dalam kebijakan pemerintah. Problem yang selalu menyelimuti, selalu pada tataran hasil. Saya menangkap, sepertinya pemerintah ingin dikatakan kalau pendidikan kita sudah maju, buktinya bisa menerapkan hasil segini dengan benchmark yang bernama UAN tadi. Kenapa malah prosesnya yang dilupakan? Kesalahan yang sering terjadi dalam dunia pendidikan kita.

Padahal, istilah proses belajang mengajar (PBM) rasanya sudah diperoleh para guru kita, sejak mereka mengenyam bangku kuliah. Proses, merupakan faktor terpenting untuk sebuah hasil yang baik. Dan proses inilah yang tidak pernah dibenahi dengan baik. Para guru selalu mengeluh, bagaimana proses akan baik, bila fasilitasnya tidak ada? Fasilitas mulai; kegiatan belajar mengajar, biaya sekolah yang terus meningkatkan, hingga proses untuk mencetak guru yang berkualitas juga tertinggal. Semua ini memang menjadi semacam lingkaran setan yang tidak tau harus mulai dari mana?

Sejak tahun 1980-an, persoalan proses hingga mencetak guru-guru yang berkualitas memang sudah menjadi isyu. Bahkan seoarang doktor pendidikan asal IKIP Jakarta, sekarang Universitas Negeri Jakarta pernah mengungkapakn mau menjadi pendidik setingkat Sekolah Dasar demi untuk meningkatkan pendidikan dasar kita. Apakah itu cukup? Rasanya tidak bisa dengan sebuah tindak instan seperti itu. Pemerintah, yang sesuai amanat undang-udang harus mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 20 persen memang harus secepatnya direalisasikan, bila masalahnya memang soal uang.

Apakah itu cukup? Jawabannya selalu klise, mampukah kita mengelola uang itu sehingga bisa dimanfaatkan dalam dunia pendidikan secara maksimal? Kembali lagi pada proses di dalam deprtemen pendidikan itu sendiri. Masalahnya apakan cuma kekurangan dana? Atau memang tidak bisa mengelola pendidikan dengan baik. Semua itu membutuhkan proses yang panjang, tapi harus dimulai dari sekarang. Kalau tetap saja seperti sekarang, dunia pendidikan kita tetap saja dalam kondisi yang selalu siap menghadapi perubahan. di Asean saja, kita sudah tertinggal jauh, padahal tahun-tahun 1970-an dunia kita tidak kalah, misalnya dengan Singapura, Malaysia, Thailand, serta Philipina. Apakah kita sekarang mundur? Jawabnya pasti bukan, kita jalan di tempat sementara mereka berlari kencang.

Jadi, kenapa kita masih sibuk dengan hasil akhir, tanpa pernah menghiraukan yang namanya proses?