sekedar klangenan menulis

Memang nggak bermaksud serius. Renggangkan otot, biar bicara enak, kalau bisa mudah didengar dan ada yang mendengar. Seperti balsen, mudah-mudahan bisa sedikit meringankan penyakit ringan, mulai pening, masuk angin, atau ngantuk.

Wednesday, May 19, 2004

Namanya Juga KKN

KKN menja kata atau mungkin singkatan yanga paling ngetop sejak tahun 1980-an sampai akhir 1990-an, atau mungkin sampai tulisan ini dibuat, yakni Mei 2004. KKN yang kalau waktu saya masih kecil, begitu bangga ketika ada mas-mas atau mbak-mbak yang lagi berbakti sosial alias Kuliah Kerja Nyata itu. Mereka memang membawa angin segar, setidaknya bagia saya yang waktu itu masih berumur sekolah SD di kampung yang sebenarnya tidak berada dalam kamupung yang sangat pedalaman, tepatnya di perbatasan Surabaya dan Sidoarjo. Tapi, saat masih kecil sekitar tahun 1975-an, saat pinggiran kota belum ada listrik, kedatangan mas dan mbak yang ber-KKN bisa bikin ramai kampaung. Itu sejauh ingatan yang masih saya ingat selama ini. Waktu itu, yang bikin ingat dengan, terutama mas-masnya karena menjadi rame nongkrong di tempat pak Lurah hingga bisa main kartu, atau main apa saja yang bisa menjadi hiburan anak-anak, termasuk tambahan cerita atau dongeng dari mas-mas tadi.

Lupakan, masa kecil, yang kebanyakan indah, meski tidak berkecukupan. Tapi, sekarang KKN lain lagi. Istilah yang ngetop sejak masa reformasi lagi ramai-ramai didengungkan pada sekitar mei 1998 itu, menjadi kata yang begitu menghipnotis untuk sebuah keinginan pada perubahan, Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme, itulah kata KKN yang harus diberantas dan banyak didengungkan untuk dibabat habis, termasuk oleh para calon presiden kita yang akan "bertanding" Juli nanti. Jargon yang begitu sangat hasyat pada tahun 1998 itu, sampai kini kadang masing dipakai, meski yang mendengar sudah bosen, kalau tidak boleh dibilang bosen banget dengan jargon itu.

Jadi, apakah KKN memang sudah dilupakan? Kalau kita mengukur dari kegiatan pemerintahan kita saat ini, kayanya sih memang sudah dilupakan. Meski saya bukan orang yang bekerja di birokrasi pemerintahan, setidaknya banyak teman dan kenalan yang ada di sana. Saya kenal dengan mereka yang masuk bener-bener secara KKN alias model titipan kilat, mau dari pejabat yang lebih tinggi, atau titipan tetangga pejabat, sampai titipan tetangganya, tetangga pejabat yang masuk. Semuanya ada. Dan tentu saja mereka tidak terlalu berkualitas, kalau kita mau menghaluskan tidak dengan menggunakan kata-kata tidak berkualitas. Bisa dibayangkan, sebuah deprtemen pemerintahan yang pegawainya sudah menggelembung tidak efisien, masih saja dimasuki orang-orang hasil KKN ini dengan mengandalkan disposisi dan dibayar dengan uang negara! Mereka katanya hanya pegawai honorer yang kebutuahn kerjanya tidak perlu terjadi dalam birokrasi itu. Bahkan sanagt-sangat tidak dibutuhkan. jadi, kenapa tetap dimasukin? Jawabannya karena KKN tadi.

Rasanya tulisan ini memang tidak ada yang baru, bahkan sudah sangat banyak yang taui. Jadi, sekarang pertanyannya, kenapa kok mesti ditulis. Karena kesalahan yang sampai saat ini terjadi sudah dianggap sebagai hal yang biasa! Sangat menakutkan, jangan-jangan ini nantinya menjadi sebuah standar yang kita pakai di hari depan.

Sangat menakutkan, bila SDM yang seharusnya bisa melayani rakyat dengan profesional, ternyata hanya menjadi "perusahaan keluarga" yang akhirnya isinya cuma bagi-bagi proyek dan rejeki. Kalau sudah begini, rasanya sindiran atau tepatnya satire "kalau pengen goblok, jadilan pegawai negeri" tidak ada salahnya. Meski, saya selaku penulis ini banyak sekali salahnya. Soalnya, dalamnya laut tidak semua orang tau, bahkan saat ombak yang tenang sekalipun.

Mohom maaf bila ada yang tersindir...

0 Comments:

Post a Comment

<< Home