Efisiensi Vs Create Revenue
Setiap mendengar kata efisiensi dalam sebuah perusahaan, cara paling sering dilakukan dan hampir mencapai 100 terjadi, melalui downsizing, alias mengecilkan badan. Jatuhnya, dipangkaslah yang dimasukkan dalam kategori "memberatkan", bisa karena memang kelebihan lemak, penyakitan, atau dianggap sebagai sumber "penyakit".
Cara yang secara "medis" memang sangat dibenarkan, meski yang paling sering terjadi biasanya kesalahan "diagnosanya", misalnya seharusnya yang dipangkas bukan, lemak, malah tulang yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, yang benama perusahaan. Kesalahan diagnosa bahkan bisa lebih jauh lagi, bahkan bisa saja tubuh itu tidak perlu dipangkas, tapi harus menadapat makan yang sehat, hingga tidak tertatih-tatih karena kurang gizi. Jadinya, ketika perusahaan yang sakit-sakitan harus masuk ICU agar bisa sehat kembali, bukan masalah mau dipangkas yang sangat memberatkan tadi. Tapi difungsikan kembali dengan menyintik obat secara tepat.
Saya menjadi ingat kata-kata mantan Dirut Garuda Indonesia, Abdulgani. Mantan bankir yang didapuk komisaris Garuda waktu itu, Robby Djohan akhirnya berhasil menyembuhkan maskapai penerbangan nasional yang secara itung-tiungan ekonomi harusnya dilikuidasi itu.
Di tangan Abdulgani, Garuda berhasil dia angkat kembali pamornya, bahkan berhasil mencetak laba. Bayangkan, saat dia masuk total utang Garuda sudah lebih dari 10 kali lipat dari asetnya! Penyakit yang menimpa Garuda Indonesia waktu itu memang sangat kronis, hampir di semua badan sudah penyakitan.
Lalu apa yang pertama kali harus Abdulgani lakukan, dalam benaknya, pasti Garuda sangat tidak efisien sehingga harus secepatnya dilakukan esisiensi. Benarkah? Pasti benar, lalu dimana tidak efisiennya, apakah man hornya sangat berlebih, atau gajinya kemahalan? Pada mulanya, Abdulgani sangat mempercayai hal itu, tapi kita dia pelajari laporan Garuda. Ternyata perusahaan ini secara perhitungan bisnis penerbangan sangat efisien. Artinya, ongkos produksi dengan jumlah karyawan, serta biaya-biaya lain, ternyata lebih rendah dibanding maskai penerbangan asing, semisal Singapora Airlines atau Malaysia Airlines.
Jadi kesalahannya dimana? Ternyata garuda tidak bisa mencetak pendapatan lebih baik dari para pesaingnya itu. Kenapa itu bisa terjadi? Garuda lambat mengantisipasi persaingan, dan lemah dalam pelayanan. Apakah Abdulgani lantas melakukan downsizing? Sekali lagi ternyata tidak dilakukan ke sana. Yang dilakukan magaimana membuat Garuda bisa mengahasilkan uang lebih banyak, sehingga bisa menghidupi dirinya, dan berhasil kembali membayar utang-utangnya.
Jadi, efisiensi apakah selalu dilakukan dengan downsizing? Bila jawabnya iya, apakah Anda sudah tepat mendiagnosanya? Atau kenapa Anda kok tiba-tiba berfikir efisiensi?
Semuanya terserah Anda...
Cara yang secara "medis" memang sangat dibenarkan, meski yang paling sering terjadi biasanya kesalahan "diagnosanya", misalnya seharusnya yang dipangkas bukan, lemak, malah tulang yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, yang benama perusahaan. Kesalahan diagnosa bahkan bisa lebih jauh lagi, bahkan bisa saja tubuh itu tidak perlu dipangkas, tapi harus menadapat makan yang sehat, hingga tidak tertatih-tatih karena kurang gizi. Jadinya, ketika perusahaan yang sakit-sakitan harus masuk ICU agar bisa sehat kembali, bukan masalah mau dipangkas yang sangat memberatkan tadi. Tapi difungsikan kembali dengan menyintik obat secara tepat.
Saya menjadi ingat kata-kata mantan Dirut Garuda Indonesia, Abdulgani. Mantan bankir yang didapuk komisaris Garuda waktu itu, Robby Djohan akhirnya berhasil menyembuhkan maskapai penerbangan nasional yang secara itung-tiungan ekonomi harusnya dilikuidasi itu.
Di tangan Abdulgani, Garuda berhasil dia angkat kembali pamornya, bahkan berhasil mencetak laba. Bayangkan, saat dia masuk total utang Garuda sudah lebih dari 10 kali lipat dari asetnya! Penyakit yang menimpa Garuda Indonesia waktu itu memang sangat kronis, hampir di semua badan sudah penyakitan.
Lalu apa yang pertama kali harus Abdulgani lakukan, dalam benaknya, pasti Garuda sangat tidak efisien sehingga harus secepatnya dilakukan esisiensi. Benarkah? Pasti benar, lalu dimana tidak efisiennya, apakah man hornya sangat berlebih, atau gajinya kemahalan? Pada mulanya, Abdulgani sangat mempercayai hal itu, tapi kita dia pelajari laporan Garuda. Ternyata perusahaan ini secara perhitungan bisnis penerbangan sangat efisien. Artinya, ongkos produksi dengan jumlah karyawan, serta biaya-biaya lain, ternyata lebih rendah dibanding maskai penerbangan asing, semisal Singapora Airlines atau Malaysia Airlines.
Jadi kesalahannya dimana? Ternyata garuda tidak bisa mencetak pendapatan lebih baik dari para pesaingnya itu. Kenapa itu bisa terjadi? Garuda lambat mengantisipasi persaingan, dan lemah dalam pelayanan. Apakah Abdulgani lantas melakukan downsizing? Sekali lagi ternyata tidak dilakukan ke sana. Yang dilakukan magaimana membuat Garuda bisa mengahasilkan uang lebih banyak, sehingga bisa menghidupi dirinya, dan berhasil kembali membayar utang-utangnya.
Jadi, efisiensi apakah selalu dilakukan dengan downsizing? Bila jawabnya iya, apakah Anda sudah tepat mendiagnosanya? Atau kenapa Anda kok tiba-tiba berfikir efisiensi?
Semuanya terserah Anda...

1 Comments:
Not just bad think lah
Post a Comment
<< Home