Sekali Lagi Pendidikan
Secara tidak sengaja sambil menunggu iklan, film Sleepy Hollow di Indosiar, saya ganti channel dan melihat Topik di SCTV yang salah satu ceritanya mengangkat seputar pendidikan. Topiknya sih sebanarnya tidak sepenuhnya tentang pendidikan, tapi sepuat tanah rencong Aceh, di salah kisahnya yang menyambung itu digambar anak-anak yang tidak lagi merasa nyaman dalam kegiatan sekolahnya gara-gara gejolak “perang” yang terjadi di sana.
Melihat sepotong kisah itu, rasanya pendidikan di negeri kita memang sangat menyedihkan, di saat siswa yang ingin belajar dengan kesungguhan hati serta penuh keinginan untuk belajar harus terhambat. Di situ digambarkan sekolah dasar hancur dibakar, sementara pembangunan yang dilakukan tidak tahu bagaimana kisahnya.
Inilah potret pembangunan fisik pendidikan kita yang memang sudah coreng moreng, dan hampir selalu menjadi kisah sedih tanpa akhir. Suatu ketika kita digegerkan dengan sekolah yang roboh, bahkan di pusat kota seperti Jakarta, di kisah lain ada murid yang terpaksa masuk rumah sakit karena tertimpa atap sekolah yang sekali-lagi roboh. Ini potret fisik kegiatan pendidikan kita, yang secara kasat mata bisa kita lihat dalam berbagai media, karena memang dekat dengan pusat kekuasaan, Jakarta!
Lalu bagimana dengan daerah? Otonomi yang sudah mulai dilakukan, termasuk dalam pendidikan memang sudah mulai berjalan. Terlepas dari plus atau minusnya, setidaknya ini memang menjadi hal yang baik untuk pengembangan pendidikan kita, setidaknya bagia daerah yang sadar, kalau ingin maju dimulai dari pendidikan, dan sudah melakukan hal itu. Maka tidak salah bila salah satu kabupaten yang termasuk kaya membebaskan warganya untuk memperoleh pendidikan, mulai pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Pemimpn propinsiitu, tentu sudah sangat sadar bahwa pendidikan memang penting.
Tapi, itu bagi propinsi yang beruntung, bagimana yang pendapatannya sangat kurang? Semua impian seperti itu rasanya bakal jauh dari realita, setidaknya mungkin dalam 20 tahun ke depan masih belum tentu. Tadi saya sempat baca, kalau mulai tahun 2009 pemerintah “berjanji” mengalokasikan 20 persen APBN untuk pendidikan. Sebauh dana yang besar, bahkan sangat besar. Sangat menggembirakan kedengarannya, terutama untuk membangun pendidikan kita yang sangat menyedihkan itu.
Pertanyannya sekarang, siapkan kita menggunakan dana yang sangat besar itu untuk pendidikan? Pasalnya dengan dana yang sangat minim seperti saat ini, penyelewengan yang terjadi sudah sangat besar sekali. Bahkan, saya pun sampai tidak habis pikir, ketika ada orang yang bekerja di Deprtemen Pendidikan Nasional, dengan jabatan yang tidak jelas saya tau, bisa berganti mobil hampir setiap ada mobil keluaran baru keluar, dan mengaku bekerja di Direktorat Pendidikan Dasar? Ah, kebocoroan dari mana pula itu?
Jawabnya, mengutip iklan SLI 008, Anak Kecil Juga Tau!
Melihat sepotong kisah itu, rasanya pendidikan di negeri kita memang sangat menyedihkan, di saat siswa yang ingin belajar dengan kesungguhan hati serta penuh keinginan untuk belajar harus terhambat. Di situ digambarkan sekolah dasar hancur dibakar, sementara pembangunan yang dilakukan tidak tahu bagaimana kisahnya.
Inilah potret pembangunan fisik pendidikan kita yang memang sudah coreng moreng, dan hampir selalu menjadi kisah sedih tanpa akhir. Suatu ketika kita digegerkan dengan sekolah yang roboh, bahkan di pusat kota seperti Jakarta, di kisah lain ada murid yang terpaksa masuk rumah sakit karena tertimpa atap sekolah yang sekali-lagi roboh. Ini potret fisik kegiatan pendidikan kita, yang secara kasat mata bisa kita lihat dalam berbagai media, karena memang dekat dengan pusat kekuasaan, Jakarta!
Lalu bagimana dengan daerah? Otonomi yang sudah mulai dilakukan, termasuk dalam pendidikan memang sudah mulai berjalan. Terlepas dari plus atau minusnya, setidaknya ini memang menjadi hal yang baik untuk pengembangan pendidikan kita, setidaknya bagia daerah yang sadar, kalau ingin maju dimulai dari pendidikan, dan sudah melakukan hal itu. Maka tidak salah bila salah satu kabupaten yang termasuk kaya membebaskan warganya untuk memperoleh pendidikan, mulai pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Pemimpn propinsiitu, tentu sudah sangat sadar bahwa pendidikan memang penting.
Tapi, itu bagi propinsi yang beruntung, bagimana yang pendapatannya sangat kurang? Semua impian seperti itu rasanya bakal jauh dari realita, setidaknya mungkin dalam 20 tahun ke depan masih belum tentu. Tadi saya sempat baca, kalau mulai tahun 2009 pemerintah “berjanji” mengalokasikan 20 persen APBN untuk pendidikan. Sebauh dana yang besar, bahkan sangat besar. Sangat menggembirakan kedengarannya, terutama untuk membangun pendidikan kita yang sangat menyedihkan itu.
Pertanyannya sekarang, siapkan kita menggunakan dana yang sangat besar itu untuk pendidikan? Pasalnya dengan dana yang sangat minim seperti saat ini, penyelewengan yang terjadi sudah sangat besar sekali. Bahkan, saya pun sampai tidak habis pikir, ketika ada orang yang bekerja di Deprtemen Pendidikan Nasional, dengan jabatan yang tidak jelas saya tau, bisa berganti mobil hampir setiap ada mobil keluaran baru keluar, dan mengaku bekerja di Direktorat Pendidikan Dasar? Ah, kebocoroan dari mana pula itu?
Jawabnya, mengutip iklan SLI 008, Anak Kecil Juga Tau!

0 Comments:
Post a Comment
<< Home