sekedar klangenan menulis

Memang nggak bermaksud serius. Renggangkan otot, biar bicara enak, kalau bisa mudah didengar dan ada yang mendengar. Seperti balsen, mudah-mudahan bisa sedikit meringankan penyakit ringan, mulai pening, masuk angin, atau ngantuk.

Wednesday, May 19, 2004

Proses, Maaf Kita Lagi Lupa

Saya ingin menulis pendek saja di sini, maklum sebagai awal untuk menulis unek-unek yang selama ini sering bergejolak dalam diri. Salah satunya, seputar ributnya Ujian Akhir Nasional (UAN) yang baru dua minggu kemarin selesai dilakukan oleh adik-adik kita yang masih mengenyam Sekolah Menengah Atas (SMA). UAN seakan menjadi momok dengan penolakan yang sangat besar karena berbagia argumentasi, mulai dari seputar biaya, kekhawatiran banyak yang tidak lulus, sampai tujuan akhir dari UAN yang dianggap malah menyalahi Undang-undang Pendidikan Nasional.

Kenapa mesti demikian? Banyak praktisi pendidikan kita yang mengkritik kebijakan pemerintah yang tujuan awalnya untuk meningkatkan pendikan itu. Menuurut versi pemerintah, UAN dianggap sebagai salah cara untuk mengukur tingkat kualitas siswa. Batasan yang dipakai juga jelas, ada standar minimal yang harus bisa dicapai siswa bila mereka ingin lulus. Tapi, para pendidik tentu saja meragukan batasan itu. Alasannya, kenapa hanya beberapa mata pelajaran saja, seingat saya, terus terang karena saya hanya tau sekilas, sehingga opini saya ini juga tidak bisa dianggap perlu didengar, setidaknya hanya menggunakan kriteria Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, hingga Bahasa Indonesia. Dan itu menjadi sebuah "beban", setidaknya bagi para pendidik agar siswanya lulus.

Bila kita tarik ke belakanga, protes itu sebenarnya pada kebijakan pendidikan kita yang bisa dikatakan compang camping. Sejak mulai alokasi dana saja, ketimpangan yang sangat besar sudah menjadi momok tersendiri. Memang sangat naifi ketika kita harus menerapkan standar tinggi, tapi proses pendidikannya malah tidak disentuh dengan baik dalam kebijakan pemerintah. Problem yang selalu menyelimuti, selalu pada tataran hasil. Saya menangkap, sepertinya pemerintah ingin dikatakan kalau pendidikan kita sudah maju, buktinya bisa menerapkan hasil segini dengan benchmark yang bernama UAN tadi. Kenapa malah prosesnya yang dilupakan? Kesalahan yang sering terjadi dalam dunia pendidikan kita.

Padahal, istilah proses belajang mengajar (PBM) rasanya sudah diperoleh para guru kita, sejak mereka mengenyam bangku kuliah. Proses, merupakan faktor terpenting untuk sebuah hasil yang baik. Dan proses inilah yang tidak pernah dibenahi dengan baik. Para guru selalu mengeluh, bagaimana proses akan baik, bila fasilitasnya tidak ada? Fasilitas mulai; kegiatan belajar mengajar, biaya sekolah yang terus meningkatkan, hingga proses untuk mencetak guru yang berkualitas juga tertinggal. Semua ini memang menjadi semacam lingkaran setan yang tidak tau harus mulai dari mana?

Sejak tahun 1980-an, persoalan proses hingga mencetak guru-guru yang berkualitas memang sudah menjadi isyu. Bahkan seoarang doktor pendidikan asal IKIP Jakarta, sekarang Universitas Negeri Jakarta pernah mengungkapakn mau menjadi pendidik setingkat Sekolah Dasar demi untuk meningkatkan pendidikan dasar kita. Apakah itu cukup? Rasanya tidak bisa dengan sebuah tindak instan seperti itu. Pemerintah, yang sesuai amanat undang-udang harus mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 20 persen memang harus secepatnya direalisasikan, bila masalahnya memang soal uang.

Apakah itu cukup? Jawabannya selalu klise, mampukah kita mengelola uang itu sehingga bisa dimanfaatkan dalam dunia pendidikan secara maksimal? Kembali lagi pada proses di dalam deprtemen pendidikan itu sendiri. Masalahnya apakan cuma kekurangan dana? Atau memang tidak bisa mengelola pendidikan dengan baik. Semua itu membutuhkan proses yang panjang, tapi harus dimulai dari sekarang. Kalau tetap saja seperti sekarang, dunia pendidikan kita tetap saja dalam kondisi yang selalu siap menghadapi perubahan. di Asean saja, kita sudah tertinggal jauh, padahal tahun-tahun 1970-an dunia kita tidak kalah, misalnya dengan Singapura, Malaysia, Thailand, serta Philipina. Apakah kita sekarang mundur? Jawabnya pasti bukan, kita jalan di tempat sementara mereka berlari kencang.

Jadi, kenapa kita masih sibuk dengan hasil akhir, tanpa pernah menghiraukan yang namanya proses?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home