Italian Job
Win without gun fire, begitu kata-kata yang diucapkan Mark Whalberg sebagai tokoh Charlie Crocker, seorang pencuri genius yang mengaku sudah menjadi pencuri sejak masa kanak-kanak dalam film Italian Job. Kita tidak membicarakan pencuriannya, tapi kecerdikannya dia yang berusaha memeroleh kenginannya, meski jelek tanpa menggunakan kekerasan.
Layaknya film bikinan Hollywood, tokoh yang seharusnya hitam itu nampak putih, baik hati, dan bertanggung jawab. Dia menjadi pencuri yang ditakdirkan “bermoral” bahkan berfikir sangat tenang menghadapi setiap masalah, bahkan sikap tenangnya itu tetap dia tunjukkan ketika harus kehilangan hasil curiannya gara-gara kelicikan temannya sendiri.
Ketnaangan bisa menjadi kunci untuk mencapai tujuan yang diinginkan, setidaknya sudah ditunjukkan dalam film ini. Sikap tenang, penuh perhitungan dalan menentukan langkah terbaik, menjadi kunci utama untuk mencapai kesuksesan. Ketika kita menghadapi masalah yang paling buruk sekalipun, sikap tenang, penuh perhitungan, serta tidak mudah panik akan membuka pintu untuk bisa keluar dari sebuah masalah.
Lalu bagimana agar kita bisa tenang? Sangat susah untuk memulainya. Sikap itu biasanya muncul karena kematangan, perhitungan cepat, hingga pola pikir yang cepat mengantisipasi perubahan, sampai pembawaan lahir. Untuk pembawaan lahir ini, memang tidak semua orang bisa memilikinya. Namanya juga sudah turunan, begitu orang Jawa biasanya bilang. Tapi, kita selayaknya percaya bahwa ketenangan bisa kita lakukan serta pelajari, siapapun juga dan dimanapun juga, asal kita mempercayainya.
Soal ketenangan, apakah selalu berdampak positif? Meski belum ada penelitian, sejujurnya saya malah setuju bahwa 99 persen orang sukses karena ketenangannya. Orang tenang, biasanya enggan menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah, hingga digunakan untuk memenuhi ambisi dan keinginannya. Mereka biasanya bisa mengatur apa saja dari semua sisi. Bisa dilakukan menghindari kekerasan yang kemungkinan bisa timbul dalam memeproleh apa yang diainginkan, ambisi yang dia inginkan, bahkan saat ambisi itu masih dia simpan rapat-rapat dalam benaknya.
Apakah kita selama ini sudah tenang? Terutama dalam menghadapi segala sesuatu, padahal biasanya datang dengan tiba-tiba, atau terkadangan datang tanpa kita sadari? Jawabnya hanya dalam diri kita. Toh ketenangan itu, tidak selamanya memang kita inginkan, pasalnya rumah yang terlalu tanang kadang mengerikan.
Tapi ketangan dalam diri bisa jadi bisa memenangkan apa yang kita inginkan. Jadi kenapa harus menggunakan kekerasan untuk mencapai sebuah tujuan?
Layaknya film bikinan Hollywood, tokoh yang seharusnya hitam itu nampak putih, baik hati, dan bertanggung jawab. Dia menjadi pencuri yang ditakdirkan “bermoral” bahkan berfikir sangat tenang menghadapi setiap masalah, bahkan sikap tenangnya itu tetap dia tunjukkan ketika harus kehilangan hasil curiannya gara-gara kelicikan temannya sendiri.
Ketnaangan bisa menjadi kunci untuk mencapai tujuan yang diinginkan, setidaknya sudah ditunjukkan dalam film ini. Sikap tenang, penuh perhitungan dalan menentukan langkah terbaik, menjadi kunci utama untuk mencapai kesuksesan. Ketika kita menghadapi masalah yang paling buruk sekalipun, sikap tenang, penuh perhitungan, serta tidak mudah panik akan membuka pintu untuk bisa keluar dari sebuah masalah.
Lalu bagimana agar kita bisa tenang? Sangat susah untuk memulainya. Sikap itu biasanya muncul karena kematangan, perhitungan cepat, hingga pola pikir yang cepat mengantisipasi perubahan, sampai pembawaan lahir. Untuk pembawaan lahir ini, memang tidak semua orang bisa memilikinya. Namanya juga sudah turunan, begitu orang Jawa biasanya bilang. Tapi, kita selayaknya percaya bahwa ketenangan bisa kita lakukan serta pelajari, siapapun juga dan dimanapun juga, asal kita mempercayainya.
Soal ketenangan, apakah selalu berdampak positif? Meski belum ada penelitian, sejujurnya saya malah setuju bahwa 99 persen orang sukses karena ketenangannya. Orang tenang, biasanya enggan menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah, hingga digunakan untuk memenuhi ambisi dan keinginannya. Mereka biasanya bisa mengatur apa saja dari semua sisi. Bisa dilakukan menghindari kekerasan yang kemungkinan bisa timbul dalam memeproleh apa yang diainginkan, ambisi yang dia inginkan, bahkan saat ambisi itu masih dia simpan rapat-rapat dalam benaknya.
Apakah kita selama ini sudah tenang? Terutama dalam menghadapi segala sesuatu, padahal biasanya datang dengan tiba-tiba, atau terkadangan datang tanpa kita sadari? Jawabnya hanya dalam diri kita. Toh ketenangan itu, tidak selamanya memang kita inginkan, pasalnya rumah yang terlalu tanang kadang mengerikan.
Tapi ketangan dalam diri bisa jadi bisa memenangkan apa yang kita inginkan. Jadi kenapa harus menggunakan kekerasan untuk mencapai sebuah tujuan?

0 Comments:
Post a Comment
<< Home