sekedar klangenan menulis

Memang nggak bermaksud serius. Renggangkan otot, biar bicara enak, kalau bisa mudah didengar dan ada yang mendengar. Seperti balsen, mudah-mudahan bisa sedikit meringankan penyakit ringan, mulai pening, masuk angin, atau ngantuk.

Thursday, April 27, 2006

Kita Memang Negara Boros Banget

Sudah miskin, boros lagi. Seperti itulah yang terjadi pada Indonesia, sebuah negara yang termasuk 10 besar paling korup di dunia yang juga miskin rakyaknya, namun gaya hidup perangkatnya, mulai dari bagian yang ngurus, yakni pemerintah, terus yang ngawasi, rakyat "yang dalam hal ini" diwakili dewan perwakilan rakyat alias DPR termasuk yang paling besar menyumbang boros --apalgi mobil para anggota dewan pada mewah-mewah dan tentu saja boros--, sampai mungkin sebagian besar rakyatnya sendiri.

"Kita akan batasi penggunaan BBM untuk kendaraan pribadi," begitu kata Kepala Bappenas, Paskah Suzetta sekitar 26 April 2006, setelah harga minya dunia naik hingga 75 dolar AS per barrel. Seperti biasa, pernyataan keluar yang kemudian langsung menjadi wacana, dan mendapat komentar dari pengamat dari mana-mana, dari yang setuju sampai yang tidak.

Namun, tidak jauh beda dengan pejabat yang doyan "berwacana", biasanya saat implementasinya ke lapangan bakal tidak tau kemana hasilnya. Soalnya, sering kali ketika aturan itu diterapkan di lapangan, kita menjadi tidak tau apakah sudah dilaksanakan, sudah tapi tidak berhasil, atau malah tidak dilaksanakan sama sekali. Wallahu a'lam bisshowab.

Nah, balik lagi ke soal kita yang suka boros. Bolah jadi, penyataan ketua Bapepam ini patuh kitahargai, karena berarti anjuran untuk hidup hemat, terutama soal penggunaan BBM yang makin mahal, yang berarti makin menguras uang negara (atau uang rakyat) buat mensubsidi harganya.

Tapi, sekali lagi yang jadi pertanyaan, bagimana kita membatasinya. Seoang teman yang punya angan-angan Indonesia menjadi negara yang makmur, untuk pertama yang dibatasi harusnya yang yang ngurus dulu, alis pemerintah. "Kasih contoh dulu gimana hidup hemat, baru kemudian kita juga ikutan," kata teman yang biasa jualan buah, lepas jalan tol Bintaro-BSD ini.

Saat ini, pemerintah dan birokrasinya memang termasuk cukup boros. Meski susah menemukan data yang pasti, tapi seperti pernah diungkapkan Presiden SBY, birkrasi di Indonesia sangat boros. Rata-rata mereka menghabiskan uang lebih 5 trilun yang ternyata bisa dihemat.

Soal boros-boros ini, memang pernah penulis temukan sendiri, saat salah satu kenalan yang berkerja di sebuah instansi pemerintah, demen banget menghabiskan uang negara. Dia yang sering mengurus perjalanan dinas salah satu pejabat, selevel direktur, sering keluar uang tidak perlu hanya karena keinginan direktur itu. Tiba-tiba saja ada rapat di Bali, akhir pekan, terus harus naik pesawat kelas bisnis, dan itu masih ditambah bonus main golf dulu. Kenyataan yang sering jadi sindiran ini, ternyata masih menjadi kenyataan hingga sekarang.

Masih soal boros, hingga kini para "pengurus" negara ini tetap saja tidak mampu mengurus masalah yang sering kita hadapi, transportasi. Ambil contoh di Jakarta, mobil pribadi banyak sekali berkeliaran yang membuat kemacetan luar biasa. "Kalau angkutan umumnya manusiawi, saya lebih suka naik angkutan umum. Tapi kalau seperti sekarang, saya pilih pakai mobol pribadi meski harus macet," keluh teman kantor yang suka berkantor menggunakan mobil pribadi dari rumahnya di daerah Bekasi.

Padahal, seorang pengamat pernah menghitung akibat kemacetan di jalan raya saja, untuk Jakarta, bisa menimbulkan keborosan penggunaan BBM hingga 30 persen! Suatu angka yang sanagt besar, terutama bila kita kaitkan dengan subsidi yang yang harus ditanggung untuk menjaga agar BBM tidak terlalu mahal, meski saat ini sudah termasuk mahal. Tahun 2006 saja subsidi buat BBM sudah mencapai Rp57 tiliun, itu kalau harga minyak sekitar 56-60 dolar As per barrel.

Kalau keborosan akibat macet, jalan rusak, dan lain-lain bisa diatasi bisa jadi subsidi buat BBM yang mencapai hampir Rp60 triliun itu akan turun sangat besar. Bisa dibayangkan, bilai pemakain BBM selama setahun mencapai katakanlan 100 juta kilo liter, dengan harga per liter Rp4.000 rupiah saja, uang bisa dihemat gara-gara macet itu bisa sekitar Rp120 triliun!

Wah... kita memang boros banget yah.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home