sekedar klangenan menulis

Memang nggak bermaksud serius. Renggangkan otot, biar bicara enak, kalau bisa mudah didengar dan ada yang mendengar. Seperti balsen, mudah-mudahan bisa sedikit meringankan penyakit ringan, mulai pening, masuk angin, atau ngantuk.

Tuesday, April 25, 2006

Cinta Memang Segala-galanya Yah

Cinta itu memang buta, begitu kata pepatah kuno (yang mungkin sudah karatan) dan begitu klise sering kita dengar. Bahkan orang bisa saja membabi-buta gara-gara cinta. Begitu besarnya cinta, semua yang kita miliki terkadanga begitu rela kita lepaskan dengan dalih atas nama cinta.

Yah, cinta memang angerah dari Tuhan yang diberikan kepada manusia yang menjadi mahluknya. Mahluk paling sempurna diantara ciptaan Tuhan yang lain. Lalu apakah cinta memang karunia yang datang dan begitu saja mempengaruhi seseorang yang sedang jatuh cinta? Tidak tau pasti, apakah cinta memang selalu dari atas ke bawah? Juga tidak pasti, meski kadang disebut dengan istilah jatuh cinta, atau fallin in love, yang bisa diartikan sebagai sesuatu yang jatuh dan pasti dari atas ke bawah. Ah tidak tau, meski cinta bisa universal dan bisa begitu subyektif, semisal cinta urusan asmara, atau yang universal tentang kecintaan kita kepada Sang Khalik,
Sang Pencipta.

Kembali soal cinta yang memang buta, pernah saya temui ketika seorang teman telah jatuh cinta kepada seseorang yang lain. Saat sia jatuh cinta kepada seseorang itu, dia begitu mengaguminya, bahkan sepertinya dia bersedia menjadi apa saja asal bisa dekat atau mungkin tambah cinta dengan orang yang dicintai itu.

Hari-harinya, begitu banyak dihabiskan dengan orang yang dicintai tersebut, meski juga sering terjadi pertengkaran, konflik, bahkan berakhir dengan tangisan yang meledak, karena mungkin ada masalah dengan orang yang dicintai itu. Namun, cintanya kepada dia semakin besar seiring bertambahnya waktu. Indah sekali sepertinya cinta mereka.

Saking cintanya, lama-kelamaan saya melihat sifat dan sikap teman saya seperti berevolusi. Saat pertama Teman saya ini, terlihat begitu ceria, suka bergaul, bahkan tidak terkesan sombong juga nyantai. Gaya hidupnya juga seperti tanpa beban dan menikmati kehidupan apa adanya, meski kalau kerja terlihat cukup serius.

Ketika hubungan mereka berlangsung lebih dari dua tahun, sedikit demi sedikit mulah terlihat perubahan itu. Teman saya yang tadinya begitu santai bahkan suka bergaul, tiba-tiba (tiba-tiba dalam dua tahun yah :) - red) menjadi tidak jauh jauh beda dengan pasangannya, yang sok berkuasa, sok kaya, sok pinter, dan lebih buruk lagi sok berkuasa yang punya segala-galanya.

Kehidupan sosialnya menjadi begitu tertutup, sepertinya hanya buat sang arjuna cintanya saja. Bahkan gaya bicaranya, gaya ngomongnya, sampai sifat sombongnya ikutan menular pada dirinya. Tidak ada lagi keramahan yang bisa dia tebarkan. Yang ada sekarang sikap seperti paling berkuasa, sombong, bahkan cenderung kepala batu dan mau menang sendiri saja.

Lebih jelek lagi, dia juga menjadi sok tau dan ada yang lebih buruk, menjadi suka menjilat....:)

Ah, cinta memang bisa membutakan. Jadi memang tidak salah bila cinta yang memang segala-galanya itu membuat kita menjadi buta.

Oh, karena cinta, terkadang orang bisa mengorbankan perang. Begitu cinta yang buta terhadap sebuah keyakinan terkadang membuat kita membenci seseorang yang punya keyakinan berbeda. Cinta kadang menjadi segala-galanya yang membuat kita seperti memperoleh kebenaran, meski dengan mengorbankan orang lain.

Oh cinta...

0 Comments:

Post a Comment

<< Home