Grenengan di Sebuah Lift Perkantoran
"Eh, elo dapat undangan dari si Anu engga? Dia kan merit Sabtu besok. Ah, gua datang engga yah. Terus gua kapan yah merit?" kata Siska --sebut saja begitu--, usianya sekitar 30-an awal.
Penampilannya cukup modis, khas pekerja kantoran, baju sedikit meriah, namun tidak berkesan norak, ada sapuan kosmetik tipis di wajahnya, dipadu pontongan rambut pendek kepada temannya, yang juga berusia sekitar 30-an, tapilannya tidak jauh beda, hanya temannya menggunakan Jilbab, dalam sebuah lift, sebuah perkatoran elit di Jakarta Selatan.
Teman Siska, sebut saja, Tracy menanggapi percapakan temannya itu dengan enteng. "Ah, kenapa elo meski takut. Gua aja udah 30 lebih tenang-tenang saja. Santai saja sih kalu soal merit," jawab Nuri, yang terlihat cukup ceria, dengan tar kantor kulit warna hitam di bahu kirinya, dan tangan kananya memegang sebuah bungkusan rapi, seperti sebuah berkas dalam satu kantor warna putih.
Percakapan seperti ini, meski terkesan ringan sering kita dengar di lift hampir di setiap gedung perkantoran di Jakarta. Percakapan yang bertema tentang kerja, seperti urusan pitching, tender, meeting, kontrak kerja sampai hal-hal urusan penting dalam dunia bisnis, sering diselingi hal-hal yang terkadang pribadi. Tak terlewatkan, percakapan selingan, seperti gosip selebritis, atau urusan politik, sampai banjir di Jakarta ikutan jadi bahan perbincangan.
Seperti di waktu lain, seorang ibu yang belum terlalu tua, berumur sekitar 45-an ganti bicara dengan temannya, yang juga ibu-ibu dengan usia tidak jauh beda. Ibu yang satu, terlihat cukup cantik dengan blazer kecoklatan yang dipadu rok panjang di bawah lutut, dengan sapuan lipstik sedikit mencolok di wajahnya, mengaku takut dengan anak gadisnya yang mulai beranjak dewasa dan sekolah di sebuah SMA Jakarta.
"Saya takut bu sama anak saya, dia sekarang suka pulang larut malam. Saya takut akan kejadian yang saering kita lihat di berita-berita televisi. Takut anak saya terbawa ke hal yang begitu-begitu," kata ibu itu, yang sepertinya ingin curhat di sela-sela perjalanan lift menunggu lantai tujuan.
Ibu satunya menimpali dengan cukup bijak, meski ada kesan bingung mau menjawab apa keluhan teman kerjanya itu. "Mungkin kita bilagin aja kali yah, sepertinya anak-anak sekarang kalo kita bicara dengan logis, mau menerima," kata ibu satunya.
Pembicraan terus berlangsung hingga mereka pada lantai yang menjadi tujuannya. Pembicraan yang berkesan ringan itu, ternyata bisa sampai pada urusan paling fundamental dalam keluarga.
Misalnya keluhan ketakutan ibu akan anaknya itu. Dia juga mengaku susah kalau mau bicara dengan suaminya tentang tingkah anaknya akhir-akhir ini. Suami tercintanya, ternyata tidak terlalu beda dengan dia. Pagi-pagi harus berangkat ke kantor, bahkan mungkin jam 6 pagi untuk menghindari kemacetan Jakarta, sementara pulangnya bisa lebih dari jam 8 atau bahkan 9 malam karena kemacetan yang sama.
Kurangnya komunikasi, antara suami, istri, anak, juga dengan ayah dan ibunya sepertinya menjadi penyebab semakin jauhnya sebuah institusi yang bernama keluarga itu. Akibatnya, keluhan sang ibu tadi untuk "hanya" sekedar membicarakan persoalan anak bersama suaminya menjadi sesuatu yang sulit, terutama dalam mengatur waktunya.
Kala sudah begini, pepatah waktu adalah uang ternyata sangat benar adanya. Soalnya waktu menjadi sa gnat susah dicari, dan waktu itu menjadi begitu bernialai dan manjadi sangat mahal, bahkan menyisihkan waktu buat keluarga.
Ah, obrolana alias grenengan kalau orang jawa bilang tentang di dalam lift kok bisa menjadi panjang. "Wah obrolan di lift sering heboh loh mas," kata seorang rekan kerja yang sering menguping orang-orang yang demen ngobrol dalam lift.
"Malah saya sering mendengar beberap wanita, yang sepertinya masih ibu muda mengaku curiga kalau-kalau suaminya juga berselingkuh," katanya polos. Nah loh, urusan yang satu ini memang selalu bikin ramai. Bahkan bukan hanya di kota besar, tapi juga di pelosok kampung.
"Bedanya kalau artis, urusan seperti itu bakal jadi konsumsi televisi, kalau di kantor mungkin ada nangis-nangis, cuma kalau di kampung urusan bisa jadi nyawa," kata teman yang lain.
Ah, ternyata lift memang menyimpan obrolan dari tingkat rendah sampai tinggi. Maklum, lift kan bisa membawa kita dari tingkat paling rendah sampai paling tinggi, atau sebaliknya :)
Penampilannya cukup modis, khas pekerja kantoran, baju sedikit meriah, namun tidak berkesan norak, ada sapuan kosmetik tipis di wajahnya, dipadu pontongan rambut pendek kepada temannya, yang juga berusia sekitar 30-an, tapilannya tidak jauh beda, hanya temannya menggunakan Jilbab, dalam sebuah lift, sebuah perkatoran elit di Jakarta Selatan.
Teman Siska, sebut saja, Tracy menanggapi percapakan temannya itu dengan enteng. "Ah, kenapa elo meski takut. Gua aja udah 30 lebih tenang-tenang saja. Santai saja sih kalu soal merit," jawab Nuri, yang terlihat cukup ceria, dengan tar kantor kulit warna hitam di bahu kirinya, dan tangan kananya memegang sebuah bungkusan rapi, seperti sebuah berkas dalam satu kantor warna putih.
Percakapan seperti ini, meski terkesan ringan sering kita dengar di lift hampir di setiap gedung perkantoran di Jakarta. Percakapan yang bertema tentang kerja, seperti urusan pitching, tender, meeting, kontrak kerja sampai hal-hal urusan penting dalam dunia bisnis, sering diselingi hal-hal yang terkadang pribadi. Tak terlewatkan, percakapan selingan, seperti gosip selebritis, atau urusan politik, sampai banjir di Jakarta ikutan jadi bahan perbincangan.
Seperti di waktu lain, seorang ibu yang belum terlalu tua, berumur sekitar 45-an ganti bicara dengan temannya, yang juga ibu-ibu dengan usia tidak jauh beda. Ibu yang satu, terlihat cukup cantik dengan blazer kecoklatan yang dipadu rok panjang di bawah lutut, dengan sapuan lipstik sedikit mencolok di wajahnya, mengaku takut dengan anak gadisnya yang mulai beranjak dewasa dan sekolah di sebuah SMA Jakarta.
"Saya takut bu sama anak saya, dia sekarang suka pulang larut malam. Saya takut akan kejadian yang saering kita lihat di berita-berita televisi. Takut anak saya terbawa ke hal yang begitu-begitu," kata ibu itu, yang sepertinya ingin curhat di sela-sela perjalanan lift menunggu lantai tujuan.
Ibu satunya menimpali dengan cukup bijak, meski ada kesan bingung mau menjawab apa keluhan teman kerjanya itu. "Mungkin kita bilagin aja kali yah, sepertinya anak-anak sekarang kalo kita bicara dengan logis, mau menerima," kata ibu satunya.
Pembicraan terus berlangsung hingga mereka pada lantai yang menjadi tujuannya. Pembicraan yang berkesan ringan itu, ternyata bisa sampai pada urusan paling fundamental dalam keluarga.
Misalnya keluhan ketakutan ibu akan anaknya itu. Dia juga mengaku susah kalau mau bicara dengan suaminya tentang tingkah anaknya akhir-akhir ini. Suami tercintanya, ternyata tidak terlalu beda dengan dia. Pagi-pagi harus berangkat ke kantor, bahkan mungkin jam 6 pagi untuk menghindari kemacetan Jakarta, sementara pulangnya bisa lebih dari jam 8 atau bahkan 9 malam karena kemacetan yang sama.
Kurangnya komunikasi, antara suami, istri, anak, juga dengan ayah dan ibunya sepertinya menjadi penyebab semakin jauhnya sebuah institusi yang bernama keluarga itu. Akibatnya, keluhan sang ibu tadi untuk "hanya" sekedar membicarakan persoalan anak bersama suaminya menjadi sesuatu yang sulit, terutama dalam mengatur waktunya.
Kala sudah begini, pepatah waktu adalah uang ternyata sangat benar adanya. Soalnya waktu menjadi sa gnat susah dicari, dan waktu itu menjadi begitu bernialai dan manjadi sangat mahal, bahkan menyisihkan waktu buat keluarga.
Ah, obrolana alias grenengan kalau orang jawa bilang tentang di dalam lift kok bisa menjadi panjang. "Wah obrolan di lift sering heboh loh mas," kata seorang rekan kerja yang sering menguping orang-orang yang demen ngobrol dalam lift.
"Malah saya sering mendengar beberap wanita, yang sepertinya masih ibu muda mengaku curiga kalau-kalau suaminya juga berselingkuh," katanya polos. Nah loh, urusan yang satu ini memang selalu bikin ramai. Bahkan bukan hanya di kota besar, tapi juga di pelosok kampung.
"Bedanya kalau artis, urusan seperti itu bakal jadi konsumsi televisi, kalau di kantor mungkin ada nangis-nangis, cuma kalau di kampung urusan bisa jadi nyawa," kata teman yang lain.
Ah, ternyata lift memang menyimpan obrolan dari tingkat rendah sampai tinggi. Maklum, lift kan bisa membawa kita dari tingkat paling rendah sampai paling tinggi, atau sebaliknya :)
