sekedar klangenan menulis

Memang nggak bermaksud serius. Renggangkan otot, biar bicara enak, kalau bisa mudah didengar dan ada yang mendengar. Seperti balsen, mudah-mudahan bisa sedikit meringankan penyakit ringan, mulai pening, masuk angin, atau ngantuk.

Friday, April 28, 2006

Grenengan di Sebuah Lift Perkantoran

"Eh, elo dapat undangan dari si Anu engga? Dia kan merit Sabtu besok. Ah, gua datang engga yah. Terus gua kapan yah merit?" kata Siska --sebut saja begitu--, usianya sekitar 30-an awal.

Penampilannya cukup modis, khas pekerja kantoran, baju sedikit meriah, namun tidak berkesan norak, ada sapuan kosmetik tipis di wajahnya, dipadu pontongan rambut pendek kepada temannya, yang juga berusia sekitar 30-an, tapilannya tidak jauh beda, hanya temannya menggunakan Jilbab, dalam sebuah lift, sebuah perkatoran elit di Jakarta Selatan.

Teman Siska, sebut saja, Tracy menanggapi percapakan temannya itu dengan enteng. "Ah, kenapa elo meski takut. Gua aja udah 30 lebih tenang-tenang saja. Santai saja sih kalu soal merit," jawab Nuri, yang terlihat cukup ceria, dengan tar kantor kulit warna hitam di bahu kirinya, dan tangan kananya memegang sebuah bungkusan rapi, seperti sebuah berkas dalam satu kantor warna putih.

Percakapan seperti ini, meski terkesan ringan sering kita dengar di lift hampir di setiap gedung perkantoran di Jakarta. Percakapan yang bertema tentang kerja, seperti urusan pitching, tender, meeting, kontrak kerja sampai hal-hal urusan penting dalam dunia bisnis, sering diselingi hal-hal yang terkadang pribadi. Tak terlewatkan, percakapan selingan, seperti gosip selebritis, atau urusan politik, sampai banjir di Jakarta ikutan jadi bahan perbincangan.

Seperti di waktu lain, seorang ibu yang belum terlalu tua, berumur sekitar 45-an ganti bicara dengan temannya, yang juga ibu-ibu dengan usia tidak jauh beda. Ibu yang satu, terlihat cukup cantik dengan blazer kecoklatan yang dipadu rok panjang di bawah lutut, dengan sapuan lipstik sedikit mencolok di wajahnya, mengaku takut dengan anak gadisnya yang mulai beranjak dewasa dan sekolah di sebuah SMA Jakarta.

"Saya takut bu sama anak saya, dia sekarang suka pulang larut malam. Saya takut akan kejadian yang saering kita lihat di berita-berita televisi. Takut anak saya terbawa ke hal yang begitu-begitu," kata ibu itu, yang sepertinya ingin curhat di sela-sela perjalanan lift menunggu lantai tujuan.

Ibu satunya menimpali dengan cukup bijak, meski ada kesan bingung mau menjawab apa keluhan teman kerjanya itu. "Mungkin kita bilagin aja kali yah, sepertinya anak-anak sekarang kalo kita bicara dengan logis, mau menerima," kata ibu satunya.

Pembicraan terus berlangsung hingga mereka pada lantai yang menjadi tujuannya. Pembicraan yang berkesan ringan itu, ternyata bisa sampai pada urusan paling fundamental dalam keluarga.

Misalnya keluhan ketakutan ibu akan anaknya itu. Dia juga mengaku susah kalau mau bicara dengan suaminya tentang tingkah anaknya akhir-akhir ini. Suami tercintanya, ternyata tidak terlalu beda dengan dia. Pagi-pagi harus berangkat ke kantor, bahkan mungkin jam 6 pagi untuk menghindari kemacetan Jakarta, sementara pulangnya bisa lebih dari jam 8 atau bahkan 9 malam karena kemacetan yang sama.

Kurangnya komunikasi, antara suami, istri, anak, juga dengan ayah dan ibunya sepertinya menjadi penyebab semakin jauhnya sebuah institusi yang bernama keluarga itu. Akibatnya, keluhan sang ibu tadi untuk "hanya" sekedar membicarakan persoalan anak bersama suaminya menjadi sesuatu yang sulit, terutama dalam mengatur waktunya.

Kala sudah begini, pepatah waktu adalah uang ternyata sangat benar adanya. Soalnya waktu menjadi sa gnat susah dicari, dan waktu itu menjadi begitu bernialai dan manjadi sangat mahal, bahkan menyisihkan waktu buat keluarga.

Ah, obrolana alias grenengan kalau orang jawa bilang tentang di dalam lift kok bisa menjadi panjang. "Wah obrolan di lift sering heboh loh mas," kata seorang rekan kerja yang sering menguping orang-orang yang demen ngobrol dalam lift.

"Malah saya sering mendengar beberap wanita, yang sepertinya masih ibu muda mengaku curiga kalau-kalau suaminya juga berselingkuh," katanya polos. Nah loh, urusan yang satu ini memang selalu bikin ramai. Bahkan bukan hanya di kota besar, tapi juga di pelosok kampung.

"Bedanya kalau artis, urusan seperti itu bakal jadi konsumsi televisi, kalau di kantor mungkin ada nangis-nangis, cuma kalau di kampung urusan bisa jadi nyawa," kata teman yang lain.

Ah, ternyata lift memang menyimpan obrolan dari tingkat rendah sampai tinggi. Maklum, lift kan bisa membawa kita dari tingkat paling rendah sampai paling tinggi, atau sebaliknya :)

Thursday, April 27, 2006

Kita Memang Negara Boros Banget

Sudah miskin, boros lagi. Seperti itulah yang terjadi pada Indonesia, sebuah negara yang termasuk 10 besar paling korup di dunia yang juga miskin rakyaknya, namun gaya hidup perangkatnya, mulai dari bagian yang ngurus, yakni pemerintah, terus yang ngawasi, rakyat "yang dalam hal ini" diwakili dewan perwakilan rakyat alias DPR termasuk yang paling besar menyumbang boros --apalgi mobil para anggota dewan pada mewah-mewah dan tentu saja boros--, sampai mungkin sebagian besar rakyatnya sendiri.

"Kita akan batasi penggunaan BBM untuk kendaraan pribadi," begitu kata Kepala Bappenas, Paskah Suzetta sekitar 26 April 2006, setelah harga minya dunia naik hingga 75 dolar AS per barrel. Seperti biasa, pernyataan keluar yang kemudian langsung menjadi wacana, dan mendapat komentar dari pengamat dari mana-mana, dari yang setuju sampai yang tidak.

Namun, tidak jauh beda dengan pejabat yang doyan "berwacana", biasanya saat implementasinya ke lapangan bakal tidak tau kemana hasilnya. Soalnya, sering kali ketika aturan itu diterapkan di lapangan, kita menjadi tidak tau apakah sudah dilaksanakan, sudah tapi tidak berhasil, atau malah tidak dilaksanakan sama sekali. Wallahu a'lam bisshowab.

Nah, balik lagi ke soal kita yang suka boros. Bolah jadi, penyataan ketua Bapepam ini patuh kitahargai, karena berarti anjuran untuk hidup hemat, terutama soal penggunaan BBM yang makin mahal, yang berarti makin menguras uang negara (atau uang rakyat) buat mensubsidi harganya.

Tapi, sekali lagi yang jadi pertanyaan, bagimana kita membatasinya. Seoang teman yang punya angan-angan Indonesia menjadi negara yang makmur, untuk pertama yang dibatasi harusnya yang yang ngurus dulu, alis pemerintah. "Kasih contoh dulu gimana hidup hemat, baru kemudian kita juga ikutan," kata teman yang biasa jualan buah, lepas jalan tol Bintaro-BSD ini.

Saat ini, pemerintah dan birokrasinya memang termasuk cukup boros. Meski susah menemukan data yang pasti, tapi seperti pernah diungkapkan Presiden SBY, birkrasi di Indonesia sangat boros. Rata-rata mereka menghabiskan uang lebih 5 trilun yang ternyata bisa dihemat.

Soal boros-boros ini, memang pernah penulis temukan sendiri, saat salah satu kenalan yang berkerja di sebuah instansi pemerintah, demen banget menghabiskan uang negara. Dia yang sering mengurus perjalanan dinas salah satu pejabat, selevel direktur, sering keluar uang tidak perlu hanya karena keinginan direktur itu. Tiba-tiba saja ada rapat di Bali, akhir pekan, terus harus naik pesawat kelas bisnis, dan itu masih ditambah bonus main golf dulu. Kenyataan yang sering jadi sindiran ini, ternyata masih menjadi kenyataan hingga sekarang.

Masih soal boros, hingga kini para "pengurus" negara ini tetap saja tidak mampu mengurus masalah yang sering kita hadapi, transportasi. Ambil contoh di Jakarta, mobil pribadi banyak sekali berkeliaran yang membuat kemacetan luar biasa. "Kalau angkutan umumnya manusiawi, saya lebih suka naik angkutan umum. Tapi kalau seperti sekarang, saya pilih pakai mobol pribadi meski harus macet," keluh teman kantor yang suka berkantor menggunakan mobil pribadi dari rumahnya di daerah Bekasi.

Padahal, seorang pengamat pernah menghitung akibat kemacetan di jalan raya saja, untuk Jakarta, bisa menimbulkan keborosan penggunaan BBM hingga 30 persen! Suatu angka yang sanagt besar, terutama bila kita kaitkan dengan subsidi yang yang harus ditanggung untuk menjaga agar BBM tidak terlalu mahal, meski saat ini sudah termasuk mahal. Tahun 2006 saja subsidi buat BBM sudah mencapai Rp57 tiliun, itu kalau harga minyak sekitar 56-60 dolar As per barrel.

Kalau keborosan akibat macet, jalan rusak, dan lain-lain bisa diatasi bisa jadi subsidi buat BBM yang mencapai hampir Rp60 triliun itu akan turun sangat besar. Bisa dibayangkan, bilai pemakain BBM selama setahun mencapai katakanlan 100 juta kilo liter, dengan harga per liter Rp4.000 rupiah saja, uang bisa dihemat gara-gara macet itu bisa sekitar Rp120 triliun!

Wah... kita memang boros banget yah.

Tuesday, April 25, 2006

Cinta Memang Segala-galanya Yah

Cinta itu memang buta, begitu kata pepatah kuno (yang mungkin sudah karatan) dan begitu klise sering kita dengar. Bahkan orang bisa saja membabi-buta gara-gara cinta. Begitu besarnya cinta, semua yang kita miliki terkadanga begitu rela kita lepaskan dengan dalih atas nama cinta.

Yah, cinta memang angerah dari Tuhan yang diberikan kepada manusia yang menjadi mahluknya. Mahluk paling sempurna diantara ciptaan Tuhan yang lain. Lalu apakah cinta memang karunia yang datang dan begitu saja mempengaruhi seseorang yang sedang jatuh cinta? Tidak tau pasti, apakah cinta memang selalu dari atas ke bawah? Juga tidak pasti, meski kadang disebut dengan istilah jatuh cinta, atau fallin in love, yang bisa diartikan sebagai sesuatu yang jatuh dan pasti dari atas ke bawah. Ah tidak tau, meski cinta bisa universal dan bisa begitu subyektif, semisal cinta urusan asmara, atau yang universal tentang kecintaan kita kepada Sang Khalik,
Sang Pencipta.

Kembali soal cinta yang memang buta, pernah saya temui ketika seorang teman telah jatuh cinta kepada seseorang yang lain. Saat sia jatuh cinta kepada seseorang itu, dia begitu mengaguminya, bahkan sepertinya dia bersedia menjadi apa saja asal bisa dekat atau mungkin tambah cinta dengan orang yang dicintai itu.

Hari-harinya, begitu banyak dihabiskan dengan orang yang dicintai tersebut, meski juga sering terjadi pertengkaran, konflik, bahkan berakhir dengan tangisan yang meledak, karena mungkin ada masalah dengan orang yang dicintai itu. Namun, cintanya kepada dia semakin besar seiring bertambahnya waktu. Indah sekali sepertinya cinta mereka.

Saking cintanya, lama-kelamaan saya melihat sifat dan sikap teman saya seperti berevolusi. Saat pertama Teman saya ini, terlihat begitu ceria, suka bergaul, bahkan tidak terkesan sombong juga nyantai. Gaya hidupnya juga seperti tanpa beban dan menikmati kehidupan apa adanya, meski kalau kerja terlihat cukup serius.

Ketika hubungan mereka berlangsung lebih dari dua tahun, sedikit demi sedikit mulah terlihat perubahan itu. Teman saya yang tadinya begitu santai bahkan suka bergaul, tiba-tiba (tiba-tiba dalam dua tahun yah :) - red) menjadi tidak jauh jauh beda dengan pasangannya, yang sok berkuasa, sok kaya, sok pinter, dan lebih buruk lagi sok berkuasa yang punya segala-galanya.

Kehidupan sosialnya menjadi begitu tertutup, sepertinya hanya buat sang arjuna cintanya saja. Bahkan gaya bicaranya, gaya ngomongnya, sampai sifat sombongnya ikutan menular pada dirinya. Tidak ada lagi keramahan yang bisa dia tebarkan. Yang ada sekarang sikap seperti paling berkuasa, sombong, bahkan cenderung kepala batu dan mau menang sendiri saja.

Lebih jelek lagi, dia juga menjadi sok tau dan ada yang lebih buruk, menjadi suka menjilat....:)

Ah, cinta memang bisa membutakan. Jadi memang tidak salah bila cinta yang memang segala-galanya itu membuat kita menjadi buta.

Oh, karena cinta, terkadang orang bisa mengorbankan perang. Begitu cinta yang buta terhadap sebuah keyakinan terkadang membuat kita membenci seseorang yang punya keyakinan berbeda. Cinta kadang menjadi segala-galanya yang membuat kita seperti memperoleh kebenaran, meski dengan mengorbankan orang lain.

Oh cinta...

Profesor, Anggota DPR dan Pencari Sumbangan

Sebuah tulisan atau mungkin keprihatinan kalau tidak bisa dikatakan sebagai keluh-kesah diungkapkan Prof Syafii Maarif dalam tulisan yang diplibukasikan di harian Republika 11 April 2006, tentang seorang profesor yang bergaji "hanya" Rp2,7 juta dan sudah bertugas sekitar 40 tahun. Sangat ironis dengan gaji anggota DPR yang sudah bergaji Rp40 juta lebih meski baru dinas 2,7 tahun saja.

Suatu kondisi yang kata orang jawa ngenes alias menyedihkan atau mengharukan. Bisa dibayangkan bila sang profesor tidak ada sambilan kerja, tentu saja gajinya tidak bakal cukup untuk sekedar beli buku buat mengupdate keprofesorannya, dan ini yang diprihatikan oleh Profesor Syafii Maarif yang kebetulan "bernasib" lebih baik dengan profesor lain, karena banyak "sambilan" sehingga dia selalu bisa mengupdate kemampuannya.

Lalu, bagaimana dengan tukang sumbangan yang selama ini sering kita temukan baik di jalan raya, pasar, tempat kerja atau datang ke rumah kita. Sebuah stasiun televisi pernah menayangkan bahkan tukang sumbangan ini ada yang "resmi" serta banyak pula yang "tidak resmi". Menurut investigasi televisi tersebut, ada petugas pencari sumbangan itu bisa mendapat Rp250 ribu perhari. "Tapi dari yaysan (yatim piatu) yang menugaskan saya menargetkan Rp25 ribu ke yayasan, jadi sisanya buat saya," aku ibu pencari sumbangan itu polos.

Artinya, kalau lagi untung ata mungkin paling jelek dia bisa mengantongi Rp100 ribu per hari. Kalau dijumlahkan 30 hari, dia mungkin bisa mengantongi Rp3 juta dalam sebulan. Banyak juga. Padahal dalam investigasi televisi itu juga menyebutkan banyak juga pebcari sumbangan yang "bodong" alias menggunakan lembar sumbangan palsu yang sama sekali tidak terkait dengan yayasan yang tertera dalam kertas sumbangan yang bisanya dibawa oleh petugas yang terkadang anak-anak tersebut.

Emang dunia di Indonesia ini semakin kreatif saja, sehingga tidak perlu butuh 40 tahun untuk menjadi profesor yang kemudian "hanya" bergaji 2,7 juta sebulan. Meski mungkin gaji bukan ukuran yang bisa kita pakai dalam penghargaan kepada profesorm namun dengan gaji minim bagimana mereka bisa menghasilkan karya yang spektakuler dalam persaingan dunia yang semakin global.

Ini kita kalau bicara tentang Profesor, atau guru besar, atau bisa juga disebut maha guru. Lalu bagimana dengan yang ke bawah lagi, misalnya guru Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Pertama, lalu Sekolah Dasar? Berapakan gaji yang bakal mereka terima? Dari sini lalu berkembang, bagimana bila guru-guru tadi di daerah yang terpencil dan situasi yang susah dijangkau? Ah pertanyaan bakal tambah panjang dan membuat kita semakin tidak kuasa menjawabnya.

Ah, lalu bagimana dengan gaji anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Anggota lembaga terhormat dan mewakili semua rakyat Indonesia ini, pada waktu yang bersamaan sepertinya paling sibuk dengan masalah uang, --meski banyak juga anggotanya yang tidak melulu ngurus itu, tapi benar-benar ngurus rakyatnya-- mulai tunjangan jabatan, tunjangan listrik, tunjangan transportasi, tunjangan ini-itu dan tunjangan lain-lain yang pokoknya biak membawa pulang uang sampai Rp40 juta rupiah.

Apakah hanya itu? Oh masih ada lagi, misalnya tunjangan perjalanan dina, bahkan kadang-kadang ditambah "amplop" buat ngesahkan RUU alias rancangan undang-undang. Misalnya yang paling "panas" saat pembahsaan RUU APP alias rancangan undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi. Ternyata untuk membahas itu, pada anggota Dewan yang terhormat masih dikasih amplop yang nilai Rp5 juta karena harus dilakukan pada masa reses. Ohh begitu, jadi enak sekali yah.

Padahal, seperti disitir Prof Syafii Maarif, kalau mau melihat di Malaysia gaji seorang profesor penuh (full professor) hampir dua kali lipat gaji anggota parlemen federal. Di Indonesia gaji seorang anggota DPR pusat sekitar 19 X lipat gaji seorang profesor penuh per bulan.

Maka, orang tidak boleh kaget lagi jika dunia akademik dan keilmuan kita semakin suram dan buram dari waktu ke waktu, sementara dunia politik kita semakin berkibar dan kumuh, sementara masih saja sebagian politisi DPR kita merangkap jadi calo proyek.

Ah kalau dunia Indonesia sudah njomplang seperti ini, ketika politikus benar-benar menguasai semua aspek, dan para cerdik pandai sudah "terpasung" seperti ini, mau kapan kita bisa keluar dari Indonesia yang dari saya masih kecil dulu sampai sekarang besar tetap saja "begitu-begitu" juga, meski Alhamdulillah kehidupan saya menjadi lebih baik secara materi, tetapi kenapa kok malah sering tidak merasa nyaman yah?

Yoh embuh wis, aku dhwe ngelu=tau ah gua sendiri juga pusing.