sekedar klangenan menulis

Memang nggak bermaksud serius. Renggangkan otot, biar bicara enak, kalau bisa mudah didengar dan ada yang mendengar. Seperti balsen, mudah-mudahan bisa sedikit meringankan penyakit ringan, mulai pening, masuk angin, atau ngantuk.

Tuesday, August 23, 2005

Ijazah Palsu, Asli Lagi

Kasus ijazah palsu kembali marak dengan terkuaknya modus jual-beli ijazah yang dilakukan oleh Institute Managemenent Global Indonesia (IMGI) sekitar akhir Juli 2005 lalu. Tidak tanggung-tanggung, sekitar 5.000 ijazah palsu telah dikeluarkan oleh lembaga yang mengaku berafiliasi dengan universitas di Amerika Serikat ini. Lucunya, ada pejabat, polisi, direksi BUMN telah memanfaatkan jasa lembaga ini untuk memperoleh gelar Sarjana, Master, sampai Doktor dengan hanya membayar jutaan rupiah.

Ah, semua ini kan sudah menjadi potret wajah kita. Urusan palsu atau palsu tapi asli atau sebaliknya asli tapi palsu selalu ada di sekitar kita. Dalam kehidupan sehari-hari memang demikian adanya. Siapa yang mau bicara, apakah politisi yang bergaya suci, seniman yang bergaya seperti pendakwah agama, atau malah agamawan yang harusnya penuh kejujuran juga banyak palsunya.

Jadi, mengutip kata Kang Sobari, sebenarnya kita ini bunglon yang manusia atau memang kita bunglonnya? Makanya, saat mantan Pimred Antara itu bilang, saat keluar rumah dan bertemu bunglon di jalan dia sempat disapa, "Bapak manusia apa Bunglon,". Ah dan Kang Sobari pun tersenyum tidak tahu jawabnya.

Thursday, August 04, 2005

Sudah Lebih Setahun Ternyata

Tak terasa ini blog, yang sangat tidak aktif sudah berusia lebih setahun. Dan cuma sedikit tulisan yang semapt nongol, yang rata-rata berisi emosional, terus lucunya dumana yah?

Tak taulah, memang ini bukan bermaksu melucu. Ada temen komentar kalau ini blog malah terlalu serius banget. Yah sudahlah, padahal ini blog semoga bisa jadi balsem, yang bisa ngobati masuk angin, pusing kepala eh salah kepala pusing, atau sekedar pegal-pegal seperti balsem. Tapi, ternyata untuk nulisnya juga butuh belsem, soalnay tidak bersemangat sekali. Tapi semoga ke depan bisa lancar lagi nulisnya.

Nama ini memang terinspirasi dari judul kumpulan pusi dari KH Mustofa Bisri yang diberi nama Puisi-Puisi Balsem, yang kata Gus Mus, begitu ulama asal Rembang, Jawa Tengah ini biasa disebut, agar bisa jadi seperti balsem yang bisa sedikit mengobati sakit perut, masuk angin dan sakit-sakit ringan lain.

Karena hanya berusaha mengobati sakit ringan, tentu tidak akan bisa mengobati sakit kronis, seperti korupsi misalnya, yang sudah menjadi kanker di negeri ini, sehingga sulit diobati, meski bukan berarti tidak bisa diobati. Cuma beleum ketemu obatnya saja, atau obatnya sudah ada tetapi tidak mau makan obatnya. Jadi, sembuhnya kapan?

Ah, tentu itu sudah ada yang mengurus memberantasnya, bisa Pak Presien, atau Pak Polisi, Pak Jaksa, Pak Hakim, Pak Pengusaha, atau bahkan Anda dan kita semuanya. Iya ngga? Ya ya ya ....Tak taulah....

Ada Apa Dengan DPR?

Judul di atas bukan bermaksud menyepelekan kisah film yang meledak beberapa tahun lalu, dengan bintang Dian Sastro dan Nicholas Saputra yang sampai kini menjadi idoal remaja di Indonesia. Beda dengan dua bintang ini yang banyak dipuja, DPR lebih banyak dicibir dari pada dipuja akibat banyak tingkah dari salah satu anggotanya yang tidak mencrminkan sebagai wakil rakyat terhormat.

Sejak awal, mereka dilantik, sebuah "kerusuhan" sudah melanda wakil rakyat yang menempati gedung metereng di komplek senayan itu. Bahkan, sejak lebih sebulan setelah dilantik, para Anggota DPR RI 2004-2009 tidak juga menghasilkan sebuah kebijakan yang menunjukkan kinerjanya sebagai wakil rakyat dengan produk-produk yang bermanfaat buat rakyat Indonesia.

Selama dua minggu pertama setelah dilantik, yang ada saling rebut dan saling berpacu berebut posisi, mulai dari ketua komisi. Bahkan, sempat ada ketua komisi tandingan, sehingga ada komisi yang ketuanya ada dua dengan beda fraksi. Namun, babak memalukan ini akhirnya berhasil diselesaikan, meski sudah keburu tercium oleh masyarakat dan pada mencibirnya.

Dan, yang terbaru adalah soal kenaikan take home pay yang bakal mereka terima dengan jumlah hampir 80 persen. Mereka tidak menyebutkan gaji naik, soalnya gaji tetap seperti dulu tapi tunjangan mengalami kenaikan dengan jumlah mencapai hampir 100 persen.

Misalnya, bila sekarang mereka bisa memperoleh pendapatan keseluruhan yang 22 juta per bulan, bisa membengkak menjadi 39 juta per bulan. Waduh, sementara gaji yang mereka terima 10 juta perbulan, "hanya" naik menjadi 12 juta saja. Jadi, seperti akal-akalan nama saja, padahal sejatinya gaji secara keseluruhan bakal naik. Apakah ini cara untuk tetap memperoleh pendapatan besar, soalnya yang dipotong untuk partau wakil rakyat yang memilih itu hanya dari gajinya?

Nah, yang terakhir soal heboh studi banding ke luar negeri. Yang satu ini, sepertinya "penyakit turunan" yang selalu muncul tiap tahun sejak jaman dulu. Alsan "studi banding" yang hanya berbuah "jalan-jalan" saja itu bahkan seakan sudah menjadi tradisi wakil rakyat sejak jaman orde baru.

Kalau dari niatnya sih bagus, cuma implementasinya kok sepertinya hanya jalan-jalan saja. Pantas saja pas Anggota DPR kita berstudi banding ke Belanda beberapa waktu lalu, banyak disorot. Selain orang yang ditamuin, yakni DPR-nya Belanda lagi reses, jd nggak tau mau ketemu siapa, mereka juga kepergok sedang shoping barang-barang mawah, dipotret sama mahasiswa Indonesia yang belajar di sono. Nah loh, jadi bukan studi banding yah?

Ah, meski DPR kita banyak yang tidak begitu, dan banyak yang pintar serta benar-benar menggunakan kepintarannya itu demi memakmurkan rakyat yang dia wakili, tetapi semua itu seakan hilang begitu saja. Apakah memang kita sudah tidak tidak percaya dengan wakil kita sendiri?