sekedar klangenan menulis

Memang nggak bermaksud serius. Renggangkan otot, biar bicara enak, kalau bisa mudah didengar dan ada yang mendengar. Seperti balsen, mudah-mudahan bisa sedikit meringankan penyakit ringan, mulai pening, masuk angin, atau ngantuk.

Tuesday, October 17, 2006

Nafsu, Akal, Lalu Hati

Mungkin dia tidak menggunakan akalnya, hanya mengandalkan nafsu yang ada dalam dirinya. Apalagi hatinya, mungkin sudah membatu. Ungkapan ini mungkin pernah kita dengar, setidaknya kalau kita tidak bicara sering mendengar.

Kalau nafsu isinya selalu lebih kepada mengingkari Tuhan, kenapa nafsu diciptakan. Kenapa bukan akal dan hati saja yang kita miliki? Sebuah pertanyaan dilantorkan oleh teman yang mengaku pusing mengatasikenakalan salah satu anaknya yang suka bertanya-tanya dan suka membentak-bentak dirinya. “Dia emosian banget, mungkin terlalu kuat nafsunya dari akalnya hilang,” keluhnya.

Nafsu, bisa diartikan sebagai gejolak jiwa pada diri seseorang yang selalu mengajak seseorang untuk melakukan hal-hal yang negatif, seperti mencuri, marah, curang hingga sifat-sifat buruk lain. Makanya, mengekang semua sfifat-sifat buruk tadi, biasa disebut melawan hawa nafsu, yang terkadang bisa membelenggu kita ada akal.

Tuhan, menciptakan akal yang membuat manusia beda dengan binatang, makanya manusia juga dinamakan animal rational, alias binatang yang mampu berfikir. Dengan akal itu, manusia akhirnya bisa mulai bisa menemukan misteri yang dibuat Tuhan dalam bumi ini. Penemuan demi penemuan dilakukan manusia di jagat raya ini, seakan mengukuhkan bahwa manusia memang pemimpin di muka bumi seperti yang sudah di tahbiskan oleh Tuhan.

Adalah akal juga ada yang bisa seperti membutakan manusia. “Dibantu” oleh nafusnya, akal yang harus berfikir rasional, ternyata bahu-membahu dengan nafsu untuk melakukan penemuan-penemuan yang seharusnya untuk kebaikan bumi, malah berubah menjadi penciptaan kerusakan-kerusahan di muka bumi ini. Akal menjadi tak ubahnya dengan nafsu, dan lahirlah kerusakan-kerusakan itu.

Untuk kita masih punya hati, qolbu , dalam bahasa Arab atau heart dalam bahasa Inggris bisa menjadi semacam peredam, kontrol, sampai reserve dan membuat kita bisa lebih berimbang dalam menghadapi kehidupan yang terkadang hanya disetir oleh nafsu itu.

Thursday, October 05, 2006

Bad Day in Anniversary Day?

Hari ini, seharusnya bisa mejadi hari yang menyenangkan. Dihari ke 11 bulan puasa yang tepatnya jatuh 5 Oktober 2006 ini, seharusnya menjadi hari yang menyenangkan, mengingat 3 tahun lalu di tanggal yang sama sebuah perjalanan besar saya lalui.

Pagi ini, memulai ke kantor dengan ac mobil mati. Di saat cuaca Jakarta yang sangat terik, kering, panas, dan hembusan angin seperti tidak ada, mobil yang kaca jendelanya tidak bisa diuturunkan ini menjadi sangat panas sekali. Yah, seperti sebuah bad day dalam perjalanan berangkat kantor. Semua ini, masih disertai dengan situasi macet, hingga panasnya semakin menjadi-jadi lagi. Jadi benarnya memang ada hari buruk di saat hari baik?

Sebagai orang Islam, saya tidak percaya hari buruk, semua hari itu baik. Bahkan dalam sejarah hari, ada kisah-kisah yang patut kita teladani. Kebetulan 0 Oktober 2006 ini, jatuh di hari Kamis, sebuah hari yang diyakini penuh denan barobah dan hidayah. Kamis, merupakan hari “libur” buat oarang-orang berdoa yang mengalami siksa kubur. Makanya, di hari kamis hari ini, adalah hari yang baik untuk mendoakan suara atau kerabat kita yang sudah lebih dahulu meninggalkan kita semuanya.

Dalam kisah lain, Allah menciptakan surga dan neraka di hari Ahad atau Minggu. Makanya, para orang tua dulu, suka menyarankan untuk memulai pembangunan rumah di hari itu. Maksudnya, mungkin biar rumah yang kita huni itu nantinya berisi orang-orang yang tergus dan taat kepada Allah dan menjunjung agamanya.

Jadi benarnay hari ini memang bad day , rasanya bukan deh. Mungkin ini semacam ujian saat kita sedang berpuasa. Yah semoga memang demikian, dan selamat berpuasa buat semuanya. :)

Tuesday, October 03, 2006

Sabar

Hari ini, genap 10 hari umat Islam di dunia menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Puasa, atau shaum dalam bahasa Arab secara etimologis berati menahan diri, baik dari godaan makan, minum, marah, syahwat, atau dorongan lain yang bisa membuat ibadah, yang merupakan ibadah wajib bagi umat Islam ini menjadi batal. Ramadhan, dalam kalender Islam merupakan bulan yang penuh berkah, begitu para kyai, ustad, tuan guru, atau buya sering menyampaikan petuahnya kepada kita, umat muslim.

Menahan diri yang menjadi esensi puasa ini mengandung makna sangat ekstra besar. Salah satu esensinya ialah melatih kit aberbuat sabar. Sifat sabar saat ini seperti menjadi barang langka di lingkungan kita. Kalau membaca koran atau menonton televisi, manusia sepertinya sudah lupa degnan sifat sabar dan lebih benyak mengedepankan emosi, hasrat, nafsu, atau ambisi yang berdegub sampai tidak lagi mengenal sifat sabar tersebut.

Membayangkan bila kita semua tidak cukup pemarah dan selalu bersabar, sepertinya begitu indah hidup kita. Kita bisa sedikit bersabar di jalan raya, sehingga tidak perlu saling serobot di tengah kemacetan, atau tetap bersabar dikala kita berbeda pendapat, mulai urusan agama, status, ekonomi, politik, atau apalah yang membuat kita kehilangan kendali atas kesabaran.

Memanng besar untuk melaksanakan kesabaran itu, bahkan dengan tidak sadar kita sering melabrak dinding kesabaran karena urusan kecil, seperti koneksi internet lambat, teman atau yang kita anggap terlalu lamban yang membuat kita jadi tidak sabar, atau urusan kecil lain yang secara tidak sengaja telah merampas kesabaran yang kita miliki.

Seperti banyak hal yang membuat kita secara tiba-tiba kehilangan kendali kesabaran itu. Momentun bulan puasa seperti sekarang, seperti mengungkit kembali makna dari kesabaran. Bahkan, maski hanya sebuah canda, sering teman, kakak, adik atau siapa dengan gaya khasnya bilang “sabar dong, kan lagi puasa.”

Yah, kesabaran memang seharusnya kita miliki, tidak perduli apa bulannya. Tapi susah sih:)