sekedar klangenan menulis

Memang nggak bermaksud serius. Renggangkan otot, biar bicara enak, kalau bisa mudah didengar dan ada yang mendengar. Seperti balsen, mudah-mudahan bisa sedikit meringankan penyakit ringan, mulai pening, masuk angin, atau ngantuk.

Saturday, February 02, 2008

Salah Siapa Ya....

Sabtu (02/02/2008) sepulang dari Bali untuk acara kantor, ternyata Banda Internasional Soekarno-Hatta masih semrawut dengan jadwal penerbangan kacau balau, baik yang akan ke Jakarta maupun berangkat dari Jakarta. Situasi yang sudah berlangsung sejak sehari sebelumnya ternyata tidak banyak berubah. Banjir masih melanda di jalan tol yang merupakan jalur utama dan “satu-satunya” jalan ke Bandara. Mengapa satu-satunya, karena jalan yang lain hanya alternatif dan tidak memenuhi syarat sebagai jalan masuk ke Bandara Internasional, yang merupakan pintu gerbang utama masuk ke Ibu Kota Indonesia atau bahkan Indonesia. Pas saat pemerintah gencar berkampanye Visit Indonesia Year 2008.

Kekacauan banjir yang melanda kali ini, seperti membuktikan bahwa pemerintah kita memang tidak punya koordinasi yang jelas, antar semua lini. Bahkan, saling menyalahkan, tanpa satupun keluar kata maaf dari mereka yang semestinya “bertanggung-jawab” atas kejaidan ini malah tidak muncul. Gubernur DKI, Jakarta malah menyalahkan rakyatnya yang suka membuang sampah sembarangan sebagai salah satu biang keladi banjir. PLN juga langsung mematikan aliran listrik, termasuk saluran listrik untuk pompa air yang seharusnya bekerja maksimal mengatasa genangan air di jalan tol. Masing-masing pihak seperti pasrah dan tidak tau harus berbuat apa mengatasi banjir, yang akhirnya praktis menghentikan pintu masuk ke bandara selama 3 hari!!!!

Suatu kejaidan yang benar-benar aneh di Indonesia yang “modern” ini bila banjir di jalan tol ke bandara bisa tergenang selama 3 hari. Sepertinya kita tidak punya alat yang bisa mengatasi banjir, padahal semua itu bisa dilakukan bila kitapunya manajemen bagus, dan koordinasi yang jelas, tanpa perlu saling menyalahkan. Ini mungkin semacam potret buram manajemen pemerintahan kita, seperti tidak bisa membaca mana yang menjadi prioritas utama dan mana yang hanya sekedar menempel. Makanya, tidak usah heran bila kemudian kita juga menemukan banyak keanehan lain, yang sudah terjadi sebelumnya, seperti langkanya tahu, tempe, akibat “hilangnya” kedelai yang seharusnya cukup mudah untuk tumbuh dan berkembang di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi karena semua tumbuhan tinggal kita lempar dan bakal tumbuh.

Dan banjir Sabtu (02/02) lalu memang menjadi merepotkan, sekaligus bisa kita nikmati dengan senyuman kecut sambil menghabiskan sisa rokok yang ada, untuk menunggu bis yang akan datang, atau menunggu truk marinir yang mengangkut calon penumpang serta yang datang dari arah bandara. Truk-truk itu sedikit banyak membantu penumpang menyebrangi banjir, meski harus sabar menunggu hingga 2 jam untuk mengantrinya. Tapi setidaknya bisa menerjang banjir.

Lalu sebenarnyaini salah siapa? Bagi saya ini salah saya yang kenapa harus pulang Sabtu dari Bali, kalau pulang satu minggu lagi mungkin tidak mengalami kisah ini. :)