sekedar klangenan menulis

Memang nggak bermaksud serius. Renggangkan otot, biar bicara enak, kalau bisa mudah didengar dan ada yang mendengar. Seperti balsen, mudah-mudahan bisa sedikit meringankan penyakit ringan, mulai pening, masuk angin, atau ngantuk.

Saturday, May 26, 2007

Anomali

Sejujurnya saya ingin sekali menulis yang sangat ringan, namun entah setelah lama tak menulis blog ini, malah yang muncul kembali adalah tulisan yang terkesan serius, sok tau, dan mungkin juga menggurui. Mungkin karena cita-cita jadi guru yang gagal kali, jadi berkesan menggurui, toh mengguri nggak selalu jelek, wong orang-orang pintat di negeri ini merupakan jasa para guru, yah toh?

Menyimak berita akhir-akhir ini, baik lewat televisi, koran, atau internet, ribut-ribut dana DKP -saya ngga hafal secara persis apa kepanjangan DKP itu-, ternyata berbutun parang “perang” terbuka antara Amien Rais dan Presiden SBY. Malasahnya, Sang Presiden merasa difitnah oleh Amien telah menerima dana itu, setelah sebelumnya Amien mengaku menerima dana DKP sebesar Rp200 juta. Kalau menurut catatan kompas, ini namanya minta dana buat kampanye ke rakyat, terus setelah jadi pemimpin terus minta duit ke rakyat. Terus kapan mau memberi kepada rakyat? Waduh, saya juga tidak tau.

Kembali pada judul tulisan ini, anomali yang kini melanda negeri ini adalah meningkatnya angka-angka yang menuju pada kemakmuran negara, tapi juga disertai dengan berita tentang meningkatnya penderitaan yang dialami oleh sebagian besar rakyak Indonesia.

Angka-angka yang katanya para orang pintar sebagai indikator kemakmuran, seperti naiknya cadangan devisa yang terbesar dalam sejarah, naiknya indeks harga saham gabungan di bursa nasional, lalu menurunnya inflasi, dan disertai pertumbuhan ekonomi yang naik signifikan menjadi indikator bahwa kita telah mulai ke arah kebangkitan ekonomi yang bertumpu pada kemakmuran. Sepertinya berita ini sangat bagus sekali.

Namun, di sisi lain berita tentang penderitaan rupanya tidak kalah seramnya, mulai dari angka kemiskinan, bahkan dalam sebuah tayangan televisi ada warga miskin di Jakarta, yang anaknya tampak sangat kurang gizi, tinggal tulang dan kulit, seperti kita lihat anak-anak yang mengalami kekurangan makanan di Afrika, belum lagi dengan fakta-fakta di lapangan, mulai dari langkanya minyak tanah,minyak goreng, sampai pada urusan langkanya beras.

Jadi, kenapa angka-angka itu bisa timbul secara bersamaan, mau percaya pada statistik atau percaya pada berita di media-media? Apakah pemerintah terlalu membesar-besarkan keberhasilannya, atau sebaliknya media yang terlalu membesar-besarkan masalah yang sebenarnya tidak semngerikan itu?

Saya tidak tau persis, namun melihat kesungguhan pemerintah, bisa saja memang itu angka mendekati kebenaran, sebaliknya melihat fakta yang ada, pemerintah sepertinya tidak berdaya dalam menghadapi masalah-masalah, bahkan di depan hidungnya sendiri.

Sepertinya selama ini tidak ada prioritas mana yang harus didahulukan, ada hal-hal yang kurang mendesak malah jadi prioritas sementara yang lain seperti terlupakan. Saat DPR dan Eksekutif ramai dengan urusan Iran, pemerintah malah tidak tegas dengan korban lumpur Lapindo yang sudah berlangsung selama 1 tahun dan seperti tidak berdaya mengatasi masalah ini.

Ketidak-berdayaan ini, bahkan mungkin akan terus terjadi hingga lumpur itu tidak tau kapan akan berhenti menyembur.

Yah, kita selama ini memang terbuai dengan angka-angka, dan seperti buta dengan realitas di lapangan.