Kembali ke Laptop
Itulah kalimat paling yang popular saat ini dan dipopulerkan oleh pelawak Tukul Arwana dalam sebuah tayangan televisi, Empat Mata yang ditayangkan televisi Trans7 yang sebelumnya bernama TV7. Jargon kembali ke laptop ini, berubah menjadi panas, ketika sampai masuk di DPR. Pasalnya para anggota dewan ini rupanya ngiri dengan laptop Tukul sehingga mereka rupanya ingin memiliki laptop, namun karena begitu banyak rintangan cacian, juga sindiran, bahkan berbauh umpatan, dan akhirnya keinginan buat dibeliin laptop akhirnya dibatalkan.
Soal laptop ini kembali menjadi bagian dari kinerja wakil rakyat kita yang lagi-lagi terkesan aji mumpung, mau enaknya, tidak tanggap dengan persoalan yang ada, dan tidak sepertinya tidak peduli dengan amanat yang seharusnya mereka kerjakan, yakni sebagai wakil rakyat yang harus memperjuangkan kepentingan rakyat yang di wakili. Laptop seharga Rp20 juta masih mereka minta, padahal gaji yang mereka terima untuk di bawa pulang ke rumah lebih dari 40 juta tidap bulan, itu belum termasuk yang “lain-lain”. Wakil rakyat yang banyak menggunakan mobil-mobil mewah itu sepertinya masih juga ingin menikmati fasilitas tambahan, seperti laptop itu.
Yah, sepertinya –ini info denger-dengar dari beberapa teman yang pernah berhubungan dengan anggota DPR– selama ini anggota DPR, mungkin hanya oknum, meski oknumny abanyak sekali, mereka rata-rata berkerja berdasarkan proyek. Sebagai contoh, setiap undang-udang, kalau mau disyahkan oleh DPR harus melalui jalan panjang, berliku, dan tentu saja penuh uang dan sogokan. Sejak mulai dari pengajuan ranncanagan undang-undang oleh eksekutif, di sini uang sudah mulai berjalan. Ada yang berupa fasilitas akomodadi untuk mengundang mereka, salam tempel, dan tentu saja bagi-bagi amplop sebagai uang jasa.
Itu baru sebagain, belum lagi urusan proyek-proyek pemerintah yang membutuhkan kontraktor atau konsultan. Bukan rahasia lagi, sering sekali banyak kontraktor atau konsultan tersebut menjadi “titipan” dari anggota DPR itu, selain banyak juga yang berasal dari “titipan” petinggi-petinggi dari masing-masing departemen di lingkungan pemerintahan. Yah, budaya seperti ini masih sangat kasat mata terlihat, bahkan begitu jelan di saat kampanye anti korupsi juga giat dilaksakan.
Inilah Indonesia, negara dimana semua bisa diatur.
oalah :(
Soal laptop ini kembali menjadi bagian dari kinerja wakil rakyat kita yang lagi-lagi terkesan aji mumpung, mau enaknya, tidak tanggap dengan persoalan yang ada, dan tidak sepertinya tidak peduli dengan amanat yang seharusnya mereka kerjakan, yakni sebagai wakil rakyat yang harus memperjuangkan kepentingan rakyat yang di wakili. Laptop seharga Rp20 juta masih mereka minta, padahal gaji yang mereka terima untuk di bawa pulang ke rumah lebih dari 40 juta tidap bulan, itu belum termasuk yang “lain-lain”. Wakil rakyat yang banyak menggunakan mobil-mobil mewah itu sepertinya masih juga ingin menikmati fasilitas tambahan, seperti laptop itu.
Yah, sepertinya –ini info denger-dengar dari beberapa teman yang pernah berhubungan dengan anggota DPR– selama ini anggota DPR, mungkin hanya oknum, meski oknumny abanyak sekali, mereka rata-rata berkerja berdasarkan proyek. Sebagai contoh, setiap undang-udang, kalau mau disyahkan oleh DPR harus melalui jalan panjang, berliku, dan tentu saja penuh uang dan sogokan. Sejak mulai dari pengajuan ranncanagan undang-undang oleh eksekutif, di sini uang sudah mulai berjalan. Ada yang berupa fasilitas akomodadi untuk mengundang mereka, salam tempel, dan tentu saja bagi-bagi amplop sebagai uang jasa.
Itu baru sebagain, belum lagi urusan proyek-proyek pemerintah yang membutuhkan kontraktor atau konsultan. Bukan rahasia lagi, sering sekali banyak kontraktor atau konsultan tersebut menjadi “titipan” dari anggota DPR itu, selain banyak juga yang berasal dari “titipan” petinggi-petinggi dari masing-masing departemen di lingkungan pemerintahan. Yah, budaya seperti ini masih sangat kasat mata terlihat, bahkan begitu jelan di saat kampanye anti korupsi juga giat dilaksakan.
Inilah Indonesia, negara dimana semua bisa diatur.
oalah :(
