sekedar klangenan menulis

Memang nggak bermaksud serius. Renggangkan otot, biar bicara enak, kalau bisa mudah didengar dan ada yang mendengar. Seperti balsen, mudah-mudahan bisa sedikit meringankan penyakit ringan, mulai pening, masuk angin, atau ngantuk.

Sunday, March 25, 2007

Tukang Kutip

Bangsa yang suka mengurangi takaran dan ukuran bakal memiliki pemimpin yang tidak jujur, suka korup, dan membuat rakyatnya hidup sengsara. Demikian salah satu petikan khutbah yang disampaikan khotib, pada suatau Jumat di Masjid yang masih berada dalam sebuah komplek perkantoran di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Soal kutip-mengutip, atau mengurangi ukuran, takaran, jumlah bahkan kualitas sepertinay sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari pelaku bisnis kita. Kita sering pusing dengan tagihan listrik atau air yang naik tiba-tiba. Atau kalau kita naik taksi suka pusing dan ngedumel karena merasa argo meternya berjalan terlalu cepat. Bahkan teknologi yang mutakhir, juga tidak lepas dari pencurian itu, misalnya soal koneksi, apa itu telepon atau internet yang benar-benar tidak sesuai yang dijual.

Pengurangan dari ukuran sepertinya duah menjadi bagian dalam kehidupan kita. Dan dengan sadar atau tidak, kita juga menikmati serta mengalami kecurangan itu dalam kehidupan sehari-hari. Karena saya bekerja dalam dunia teknilogi informasi alias IT, hampir tiap hari saya bekerja yang membutuhkan koneksi internet. Nah, di sini saya merasakan ada pengurangan itu. Beberaa kali saya merasakan koneksi internet yang terasa sangat lamban, dan ternyata memang ada pengurangan bandwidth yah, kecurangan memang ada di semua lini.

Jadi, mengutip kata khotib tadi, bisa kita merasakan peminpin kita saat ini tidak pernah memperhatikan rakyat, dan hanya mencari keuntungan sendiri, tidak salah kalau kita tanykan kembali pada diri kita. Apakah kita sudah berlaku jujur dalam kehidupan sehari-hari?

Bila tidak, kapankah kita akan mengakhirinya? Kalau memang belum, setidaknya kapan kita mencoba mengakhirinya. Bila memang tidak bisa, bearti kita memang tidak mau mengubah kehidupan yang lebih baik. Dan kita akan dengan tenang, bahkan cukup mafhum, bila menengar pemimpin-pemimpin kita yang sibuk mencari kekuasaan, bahkan di saat rakyatnya menderita pun tetap mereka manfaatkan untuk mencari keuntungan, yah segala keuntungan yang bisa mereka peroleh, apakah kekuasaan, popularitas, atau bahkan uang!

Ampun, Tuhan, semoga saya termasuk salah satu orang yang jujur, dan bukan bagian dari mereka yang suka mengurangi ukuran, takaran, meteran, sampai bandwidth.

Saturday, March 17, 2007

Mimpi

Tiba-tiba sebuah berita muncur, kalau acara Republik Mimpi yang tampil di stasiun Metrotv siap-siap disomasi oleh Menkominfo, Sofyan Djalil karena dianggap tidak etis dan melecehkan lembaga kepresidenan. Acara yang merupakan reinkarnasi dari Republik BBM di Indosiar yang dimotori oleh Dosen Komunikasi UI, Effendi Ghazali tersebut kemudian berganti nama (lagi) menjadi Kerajaan Mimpi.

Padahal, sebuah impian bakal melahirkan kesuksesan. Setidaknya, itu yang pernah saya dengar, atau mungkin saya baca, dari orang yang sukses. Yah impian,bahkan sebuah imajinasi yang mungkin tidak masuk akal, ternyata bisa berbuah kenyataan. Makanya, ada pepatah, kalau ingin sukses jangan takut untuk bermimpi, dan menjadikan mimpi itu menjadi kenyataan. Wuiihhh, sepertinya sok banget yah kata-katanya.

Nah, lima tahun atau mungkin enam tahun lalu sebuah impian terngiang-ngiang dalam otak, bahwa suatu ketika ingin kerja tetapi tidak udah harus datang ke kantor. Saya mengimikan tinggal di gunung, dan bisa meremote kerjaan melalui medium yang lain, bisa internet atau satelit. Setelah lima tahun, impian itu setidaknya menjadi kenyataan, meski tidak secara langsung.

Kini, menjalankan kerjaan kantor dari rumah tidak usah harus datang sudah bisa dilakukan, karena menggunakan teknologi yang saat ini berkembang pesat, mobile dan internet. Bahkan, teknologi mobile yang kini ngetop dengan sebutan 3G telah membuat akses internet begitu mudah dan murah. Bahkan berinternet saat pulang kantor bukan hal yang mewah lagi, dan sepertinya mimpi ini ternyata bukan sebagai impian. Sebuah kenyataan yang mungkin dalam lima atau 10 tahun ke depan, semua itu sudah menjadi kebutuhan, menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, seperti makan, minum, becanda, mandi, atau mungkin jalan-jalan ke mal.

Jadi, impian dalam hidup sepertinya memag harus. Dengan impian, bahkan yang muluk-muluk sekalipun, hidup ini ini menjadi begitu berwarna. Begitu indah, dan begitu "hidup."

Selamat datang di dunia impian, meski kita tidak tau kapan itu menjadi bagian dalam kenyataan kehidupan kita.

Thursday, March 15, 2007

Mesin Uang Bernama Hiburan

"Entertainment itu paling mudah mencari duitnya. Bahkan dengan gratisan, kita bisa memperoleh uang banyak." Begitu kisah seorang teman yang gencar membuat majalan gratisan alais free magz yang begitu menjamur dikota-kota besar Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan beberapa tempat lain.

Mungkin, hiburan bagi masyarat perkotaan yang kata penelitian memiliki tingkat stress sanagt tinggi, memang haus akan hiburan, tidak peduli apakah benar-baner menghibur dan menghilangkan stress atau malah stresnya nambah.

Soal itu, tidak usah dibicrakan lebih jauh, namun soal perputaran uang yang beredar di bisnis hiburan ini, waduh begitu besar, dan begitu beragam,mulai dari urusan film, restoran, salon, sampai sampai panti pijat hingga pasar malam.

Makanya tak heran, menjamurnya majalah-majalah gratis yang dipenuhi iklan hiburan begitu menjamur, yang menurut sorang teman hampir mencapai 100-an penerbit, hanya di Jakarat saja yang terbit minggu, dwi mingguan, sampai bulanan.

Di sisi lain, dunia hiburan ini, juga berkembang, mulai dari urusan pentas kesenian, dugem, konser musik, sampai pada urusan film.

Untuk yang satu ini, dunia perfilm-an memang mulai bangun dari pingsan. Sejak 5 tahun terakhir, produksi film nasional memang terus menunjukkan gejala makin tumbuh, dengan ditandai produksi yang terus berkembang. Meski urusan kualitas masih belum kelihatan, namun untuk urusan bisnis sudah menunjukkan adanya peluang yang cukup terbuka.

Bisnis hiburan ini memang benar-benar menggiurkan, sebagai pembanding, meski kurang pantas, di Hollywood menurut Asosiasi Film AS (MPAA) mengemukakan pemasukan dari hasil penjualan karcis film mencapi 25,8 miliar dolar pada 2006. Kalau dirupiahnya, angkanya sungguh sangat fantastis, mencapai sekitar 250 triliun. Wahhh!

Namun, untuk sampai ke sana, mungkin bagi Indonesia masih jauh sekali, atau bahkanseperti tidak mungkin.